March 21, 2017

Air Mata Berbuah Hikmah

10:01 PM 1 Comments

Saya mendapatkan sebuah pukulan keras bagai sebuah beton yang menghantam wajah ini. Pukulan hidup yang menjatuhkan saya dan menyadarkan saya bahwa berharap kepada manusia itu tidak ada gunanya. Harapan besar yang saya simpan kepada seorang manusia, kemudian sirna begitu saja ditelan keegoisan. Harapan yang terus dirajut dengan asa, mengidamkan suatu akhir bahagia, pada akhirnya, hilang jejak tak bersisa.

Saya seorang yang lalai terhadap perintah-Nya, jauh dari agama-Nya, dibutakan oleh dunia sampai lupa ada kehidupan kekal yang telah menanti di ujung sana. Terlarut dalam cinta duniawi yang semu, berharap lebih kepada seorang hamba yang bahkan ia pun belum tentu dapat mewujudkan harapannya, menjadi buta tak mampu melihat kasih-Nya, tak mampu merasakan cinta-Nya yang abadi, menjadi seorang hamba yang rugi karena melupakan-Nya. Padahal, ada Allah yang menanti saya untuk kembali ke pelukan-Nya, menanti saya untuk berkeluh kesah kepada-Nya, tetapi saya justru terlalu asik dengan harapan semu ini dan melupakan-Nya. Kini, keadaan tak sesuai rencana. Kehendak-Nya berlainan dengan apa yang saya kehendaki. Semua harapan sirna berbekas luka. Kecewa, tentu saja. Namun, itu yang patut saya dapatkan dari harapan semu yang saya tanam kepada manusia. Pukulan. Balasan. Cambuk. Sebuah cambuk yang mendera batin ini hingga berdarah sebagai balasan atas segala perbuatan yang telah saya lakukan. Inilah balasan yang patut untuk saya peroleh karena kelalaian diri ini.

Sedih, sangat sedih. Sakit hati, tak perlu ditanya lagi. Kecewa, tentu saja. Marah, apalagi. Namun, biarkan semua rasa sakit hati, kecewa, sedih, marah, kesal, melebur bersama air mata. Ini semua adalah bayaran dosa-dosa yang telah saya perbuat. Ganjaran yang pantas untuk saya dapatkan karena telah lalai atas segala perintah-Nya. Ya Allah, ampunilah dosaku. Jadikanlah rasa sakit ini sebagai pengampunan dari-Mu untukku. Jangan biarkan rasa sakit ini datang kepadaku tanpa ada hikmah kehidupan yang dapat saya petik. Jadikanlah rasa sakit ini sebagai cambuk agar aku kembali ke pelukan-Mu, Ya Rabb. Jadikan rasa sakit ini sebagai pelajaran agar aku tidak terjebak dalam kenikmatan duniawi, Ya Allah. Ya Allah, kumohon, obatilah hatiku.

Itulah manusia. Ketika berharap lebih kepadanya, maka akan mengecewakan. Ketika terlalu percaya kepadanya, pasti berakhir sakit hati. Lalu, setelah semua pengkhianatan terjadi, siapakah yang patut untuk disalahkan? Diri sendiri. Salah sendiri terlalu berharap dan percaya kepada manusia, sedangkan Allah selalu ada untuk memeluk hamba-Nya. Astaghfirullaah, Ya Allah, maafkanlah hamba-Mu yang berlarut mencintai ciptaan-Mu dan justru melupakan Pencipta yang selalu mencintai hamba-Nya.

Ya Allah, ringankanlah beban ini, hapuskanlah kekecewaan ini, kuatkanlah hati ini untuk menghadapi semua ini, lapangkanlah dada ini agar memiliki kesabaran yang besar untuk ikhlas menerima segala kehendak-Mu. Bantulah hamba-Mu untuk memikul segala beban yang sebenarnya dapat kupikul dengan keikhlasan dan tawakkal, karena sebagaimana firman-Mu yang menyebutkan bahwa Engkau tidak akan membebani seseorang kecuali sesuai kesanggupannya, dan Engkau akan memberi ganjaran sesuai dengan apa yang diperbuat oleh hamba-Mu (Q.S.Al-Baqarah:286).

Tuntunlah hamba agar tetap berada di jalan-Mu, Ya Allah. Jangan biarkan hamba terjerumus ke dalam nikmat duniawi yang semu. Terangilah jalan yang Engkau berikan untukku, Ya Allah. Jangan Engkau biarkan rasa cinta terhadap sesama manusia, melebihi cintaku kepada-Mu. Sesungguhnya, Engkaulah yang membolak-balikkan hati dan sebaik-baik pengatur hidup ini. Allaahumma Aamiin.

Allahu Akbar.

Subscribe