23 Juni 2019

Bersatunya Sangkuriang, Jaka Tingkir, Rama dan Shinta

Sudah lama banget ya aku gak post di blog? Hohohoho. XD

Maaf ya, aku sibuk. Sibuk tidur, goleran, malas-malasan. Hehehe. Tapi... karena hari ini aku punya kisah untuk dibagikan, jadi aku kembali ingin menuliskannya dan membagikannya di blog ini.

Best struggles are the best memories. —Nadhira, 2019.

Tim Percakapan Bahasa Jepang Lanjut Malam

10 Juni 2019
Aku baru pulang dari rumah menuju perantauanku. Temanku, sebut saja Aaron (nama asli lah, malas bikin nama samaran 😂) sebelumnya sudah mengirimkan pesan lewat watsap. Katanya, "Nad, kamu balik ke sini kapan? Kalau sudah pulang, bantu bikin properti ya?"

Asli, aku saat itu malas pulang. Tapi, apa boleh buat? Aku harus membantu mereka untuk membuat properti. Akhirnya, aku pulang siang hari dan sampai di perantauan pada sore hari. Iya, dekat kok. Hanya dua jam perjalanan. Sesampainya di sana, aku langsung mengunjungi kos tetanggaku, Mualif, sebab katanya mereka membuat properti di sana.

Ketika aku masuk menelusuri lorong kemudian berhenti di depan pintu kamar kedua dari arah pintu di sebelah kanan, aku melihat seisi kamar yang dihuni beberapa temanku di dalamnya tetapi tuan rumah tak ada di sana. Widih... berantakan. Di dalam kamarnya banyak kardus berserakan di lantai dan rafia hijau yang digantung dari ujung kamar ke ujung kamar yang lainnya. Satu properti sudah selesai, itu rumput.

Bisa tebak, kami membuat properti apa? Ya! Properti untuk drama. Drama kali ini merupakan project terakhir mata kuliah "Percakapan Bahasa Jepang" untuk tingkat tiga. Setelah itu, kami tak akan bertemu dengan mata kuliah itu lagi. Bye~

Pada hari itu, tujuan kami adalah membuat pohon dan properti per kelompok. Tanganku sibuk untuk membuat kuda-kudaan, ada beberapa temanku yang lain sibuk membuat properti kelompoknya sendiri dan ada beberapa yang membuat pohon. Kuda yang aku buat terbuat dari kardus kecil yang aku lipat, kemudian untuk ekor dan rambutnya terbuat dari tali rafia hijau (sisa untuk membuat rerumputan). Kuda-kudaan yang aku buat adalah unicorn hijau. Oke siap wkwkwk. 😂
Aku membuat kuda-kudaan bekerjasama dengan kedua temanku, Vicky dan Tangguh. Sambil menyisir rambut kuda yang terbuat dari rafia, kami membuka sesi curhat dan canda supaya gak terlalu spaneng.

Teman-teman di sebelahku sibuk membuat pohon, mereka bingung sebab rencananya pohon akan dibuat 2D atau 3D. Namun, mengingat keperluan dibuatnya pohon ini adalah untuk bersembunyi, akhirnya diputuskan untuk membuat pohon 3D.

Maka, dibuatlah pohon 3D setengah 2D(?), jadi bentuk pohonnya gak berbentuk pohon tetapi pakai kardus dibuat alas batang datar lalu ditutup dengan kertas cokelat dan daunnya dibuat dari kardus lalu ditempel kertas hijau. Sederhana ya? Setelah itu, kami pulang dan memutuskan untuk melanjutkannya di hari selanjutnya.

11 Juni 2019

Kami berkumpul lagi di kos Mualif untuk lanjut membuat properti. Kali ini masih sepi karena aku datang tepat waktu. Ya, biasa... orang Indonesia penganut jam karet. Sudah ada beberapa orang di dalam kamarnya, sekitar empat orang dan mereka sedang kebingungan sebab pohon yang kemarin dibuat ternyata roboh dan hancur. Akhirnya, dengan menggunakan kekuatan otak Akrom yang encer sampai netes dari kuping (ITU CONGE GBLK), kami membuat pohon dari awal. Dimulai dari memotong kardus, membuat jari-jari pohon agar bentuk pohonnya kokoh, dan terakhir menggunakan payung yang ditempel kertas hijau sebagai daunnya. 

Tanganku gak turut serta dalam membuat pohon itu, karena di dalam kamar sudah ada beberapa orang dan aku memilih untuk membuat di lorong kos saja. Tanganku sibuk membuat properti kelompokku sendiri. Membuat bunga-bungaan untuk digunakan dalam salah satu adegan drama. Lucu gak?

Bunga properti kelompok tiga.

Selain itu, aku juga membantu dalam menempelkan kresek biru untuk membuat sungai di penghujung acara saat itu. Setelah semua selesai, semua properti sudah tuntas diperiksa kelengkapannya, kami pun pulang dan beristirahat.

12 Juni 2019

Hari ini merupakan hari dekorasi dan gladi bersih. Beberapa properti yang belum selesai, kembali dituntaskan seperti mengecat sayap dan membuat perahu. Semua properti dan kostum masing-masing disiapkan per kelompok. Tugasku adalah membawa peralatan makan, peralatan rajut, dan sapu. Iya gaes, aku naik motor ke kampus sambil nenteng-nenteng sapu sampai-sampai dilihatin oleh orang lain sampai terheran-heran. Ya Allah, tabah dedek. :")

Di kelas, kami sibuk dengan urusan kami masing-masing. Ada yang mengecat properti, ada yang menggunting kardus, ada yang memasang kain untuk pemisah panggung dan belakang panggung, ada yang sibuk mencari latar untuk drama, ada yang sibuk mengatur speaker dan layar, ada yang sibuk menata bangku, dan ada pula yang duduk manis sambil menunggu. Pokoknya saat itu, suasana kelas penuh dengan kesibukan sejak pukul satu siang sampai pukul tujuh malam. Kebetulan, saat itu kampus memang masih bebas dari aktivitas kegiatan belajar mengajar sebab hari itu sebenarnya kami belum diharuskan untuk masuk kuliah karena ada kegiatan halal bihalal untuk dosen dan rekan kerja sehingga kami gak bisa tinggal lebih lama untuk menjajal panggung saat gladi bersih. 

Katanya, "Cepat dirapikan, satpam ngamuk gaes!"

Ujaran itu membuat kami grasak-grusuk untuk membereskan seluruh kekacauan di kelas dan merapikan properti yang berserakan. Dengan keadaan terusir, kami pun melakukan gladi bersih di lapangan parkir yang kosong. Pentas drama untuk mahasiswa yang mengikuti mata kuliah ini dibagi menjadi tiga kelompok, kami pun gladi "bersih bersihan" secara berkelompok karena hari sudah mulai malam, tanpa panggung tanpa penonton. Gladi bersih macam apa ini. XD

Selesai gladi bersih, kami pun membubarkan diri pada pukul 8.30 malam. Begini Mak, anakmu berjuang di perantauan. :')

13 Juni 2019
Hari ini, aku bangun lebih pagi dari biasanya. Pukul lima pagi, padahal kalau dulu sekolah aku biasa bangun jam segini hahahaha. Efek kelas sore gaes, makanya aku bangunnya sering siang. Hari ini aku sudah berangkat ke kampus pada pukul enam lebih, kami datang lebih pagi sebab pentas drama kecil-kecilan ini akan dimulai pada pukul 08.00 WIB. Suasana kampus sudah mulai sibuk. Kami mulai memakai kostum dan berdandan bila diperlukan.

Kelompokku memutuskan untuk tidak memakai riasan wajah karena kami kira pasti akan memakan banyak waktu. Jadi, kami memanfaatkan waktu persiapan untuk memasang kostum dan berlatih melempar palu. Ngapain coba ya? XD
Konsep kelompok tiga atau kelompokku adalah konsep lokal Indonesia campur budaya Jepang. Cerita yang kelompokku bawakan adalah kisah seorang anak yang ngebet kawin sama ibunya(?), berjudul "Sangkuriang". Kostum yang kelompok kami pakai bukan kebaya juga tanpa kujang, melainkan yukata. Budaya Indonesia yang kami ambil adalah budaya ketika orang jaman dahulu mencuci di sungai, suasana latar dan waktu dan latar musik yang dibuat ala kesundaan.
Dalam persiapan untuk pentas drama ini, hal yang paling menyita waktu di kelompokku adalah memasang obi. Ini adalah hal yang rumit bagiku yang gak terbiasa pakai yukata, makanya memakan banyak waktu.

Sekilas info:
Obi ini adalah sabuk untuk yukata atau kimono dan semacamnya. Bentuknya hampir mirip seperti selendang tetapi bahannya jauh lebih tebal dan kaku. Lebarnya sekitar 16-30 cm tergantung jenisnya dan panjangnya bisa mencapai 3-4 meter. Obi ini banyak jenis namanya, tergantung penggunaannya untuk yukata atau kimono atau lainnya. Tapi, biar lebih singkat jadi aku sebut obi saja. Cara memakainya hanya dililit dan diikat saja tanpa perlu peniti atau jarum. Untuk tutorial, bisa dicari di Youtube ya. Banyak kok tutorial dari orang Jepang asli.
Sedangkan, kelompok yang memanfaatkan waktunya untuk merias wajah dan memakai kostum adalah kelompok satu. Mereka merias wajah mereka mirip seperti wayang dan kostum yang dipakai juga lokal banget seperti kebaya dan semacamnya.  Kelompok satu ini punya konsep kerajaan zaman dahulu, seperti film yang suka tayang di channel ikan terbang itu lho. Mereka membawakan kisah cinta antara dua sejoli yang terpisah karena orang ketiga(?), judulnya "Rama dan Shinta". 

Mereka cukup memakan waktu yang banyak dalam melakukan persiapan, terutama Mbak Shinta (ini bukan nama asli dia ya, tapi ini pemeran tokoh Shinta), dia memakai kebaya dan rambut palsu serta riasan di wajah agar "jadi" cantik. Mengapa memakai wig? Sebab, pemeran Shinta ini adalah seorang laki-laki bernama Heru. 🤣

Heru as Shinta

Cantik, bukan? 
Ya, aku kira memang begitu. Pantas saja dia ini diperebutkan oleh Rama dan Rahwana. Gak deng. 😂

Kelompok dua ini selama kelompok satu dan kelompok tiga bersiap-siap, mereka diam saja sambil duduk manis memperhatikan yang lain justru membantu kelompok lain dalam persiapan pentas drama. Aku pun bingung, kenapa mereka gak bersiap-siap juga. Rupanya, semua ini karena kostum dan riasan mereka sangat simpel bahkan tanpa perlu bantuan siapa pun dalam persiapannya. Kenapa sih? Kelompokku aja rasanya ribet banget. :")

Konsep yang mereka bawakan ini merupakan campuran zaman dahulu dan zaman modern saat sudah terciptanya gadget. Cerita yang mereka bawakan adalah mencari jati diri demi restu calon mertua(?), berjudul "Jaka Tingkir". 

Setelah bersiap-siap, dosen pengampu datang dengan membawa tiga buah kertas undian. Masing-masing ketua kelompok diharapkan untuk mengambil kertas tersebut. Angka yang tertulis di kertas itu merupakan penentu siapa yang akan pentas lebih dahulu. Dan... jeng jeng jeng! Kelompok "Sangkuriang" yang akan menjadi pembuka pada pentas drama hari ini, setelah itu "Rama dan Shinta", lalu "Jaka Tingkir" sebagai penutup.

Deg-degan gaes. :")

Anggota kelompok "Sangkuriang" sudah bersiap di belakang panggung untuk mengecek background latar dan musik juga sebagian mempersiapkan properti yang akan digunakan. Pentas pun dimulai, aku bertugas untuk memberi aba-aba pada operator yang mengoperasikan musik latar. Saat giliranku untuk masuk ke panggung, aku grogi sampai ada beberapa dialog yang terlewat atau sekadar lidahku kepeleset dalam pengucapannya. Dosaku yang menghantuiku sampai keesokan harinya adalah... salah bahasa. Ya Allah, cobaan apa lagi ini. :")

Harusnya dialogku adalah...
Sangkuriang: "Kitto kimi to kekkon suru" (Pokoknya, aku akan menikahimu."
Dayang sumbi: "Iya da yo." (Gak mau!)

Tapi aku malah bilang...
Dayang sumbi: "Shireo yo!" (Gak mau!)

Iya, artinya memang sama sih. Tapi itu bahasa Korea. Gblk banget dah. 😭
Gini nih efeknya kalau kebanyakan nonton drama korea. Hiks.
Gak apa-apa, setidaknya diriku pernah berjuang~ :")

Untuk kisah kelompok satu dan kelompok dua, aku gak bisa menceritakannya dengan detail sebab aku tidak tahu apa saja yang terjadi di belakang panggung. Ketika kelompok satu dan dua sedang tampil, aku duduk di kursi penonton dan merekam penampilan mereka untuk dokumen pribadiku.

Setelah drama ini selesai, kami pun foto bersama. 






Aku sisipkan dokumentasi tambahan ehe. Plot twist:
Setelah Rahwana gagal mendapatkan Shinta dan Sangkuriang gagal mendapatkan Dayang Sumbi, akhirnya Dayang Sumbi dan Rahwana pun memutuskan untuk hidup bersama. Gak.



お疲れ様でした!
Thank you for creating this memories in my life.

Michiko♡

Tidak ada komentar:

Posting Komentar