October 1, 2019

Kawan Lama

2:30 PM 1 Comments
Siapa kawan lama yang kau rindukan?
Apa kau masih berkomunikasi dengan mereka?
Atau... mereka terlalu sibuk dengan urusannya masing-masing sampai melupakanmu?

Waktu terus berjalan mengikis segala cerita. Kisahku dan kawan-kawan lama berakhir begitu saja. Selepas berpisah, kami semua berpencar. Ada yang kuliah di jurusan teknik, pendidikan, kedokteran, teknologi, dan ilmu yang lainnya. Ada pula yang membanting tulang untuk mandiri dalam menjalani kehidupan atau mungkin memang tuntutan hidup yang mengharuskan. Bahkan mungkin, ada pula yang telah berpulang ke pangkuan Sang Pencipta.

Kawan apa yang sedang kau lakukan sekarang?
Kawan, apakah kau merindukanku?
Ataukah kau masih mengingatku? Atau justru melupakanku?

Malam itu, aku termenung di atas tempat tidurku. Tidur berbantal lengan dengan mata yang terbuka menatap ke arah dinding polos yang hapa seperti hidupku kala ini tanpa dirimu, Kawan. Pikiranku melayang mengingat kala itu aku masih bisa tertawa bersamamu. Semakin lama tawa itu semakin jauh dan samar kemudian menghilang. Guratan wajahmu masih kuingat. Lengkungan senyumanmu masih dapat kubayangkan. Matamu yang melengkung bak bulan sabit ketika kau tersenyum pun masih dapat kukagumi walau aku hanya melihatmu dalam anganku. Ingatkah kau pada masa-masa itu wahai kawan? Atau... itu hanyalah fase kehidupanmu yang tidak begitu berarti hingga saat ini kau tinggalkan? 

Saat ini, telepon genggam sudah menjadi primadona di seluruh kalangan umat manusia. Semua yang memilikinya bahkan tidak bisa hidup tanpanya. Namun, mengapa sampai saat ini namamu tidak pernah muncul pada notifikasiku? Padahal aku tahu, kau tidak pernah meniggalkan telepon genggammu dalam jangka waktu yang lama. Bahkan kini, yang dapat kulihat hanyalah potongan namamu yang tertulis pada sebuah kotak pesandengan tanda centang berwarna biru. Pesan itu sudah beberapa hari--atau bahkan beberapa bulan yang lalu belum kau balas sampai saat ini.

Ingatkah kau pada masa-masa itu wahai kawan? Kala itu kau sering bertanya apakah aku sampai di rumah dengan selamat. Kau juga sering bertanya apakah tugas sudah aku selesaikan. Kau juga selalu bertanya, "Lagi apa? Sibuk gak? Aku kesepian."

Rupanya, semua keadaan itu berbalik. Kini, kau tak pernah tahu bagaimana kehidupanku dan apa saja yang telah kulalui tanpa dirimu. Kini, aku yang sering bertanya-tanya di dalam benakku, "Lagi apa di sana? ? Apa tidak rindu kepadaku? Sibuk ya? Aku sedang kesepian tapi aku tak bisa mengganggu waktumu. Kamu terlalu sibuk."


Kehidupanku dan kehidupamu saat ini amat berbeda. Aku sibuk dengan kehidupanku dan kamu sibuk dengan kehidupan barumu. Aku paham, bahwa setiap manusia memiliki waktunya tersendiri. Tetapi... bisakah kau luangkan sedikit waktumu agar kita dapat mengenang kisah kehidupan masa lalu yang pernah kita lalui bersama? Mari kita ingat kembali bahwa kau pernah menjadi bagian hidupku dan aku juga pernah menjadi bagian dari hidupmu walau kau anggap hanya sebuah angin lalu. Kawan, aku rindu.

September 23, 2019

Sudut Pandang Kehidupan

12:25 PM 0 Comments
Yuhuuu. Anybody here?
Halo, aku balik lagi nih. Wah gila sih dua bulan aku gak produktif banget wkwk. Maklum ya habis liburan panjang, nge-blog pun jadi ikut libur. Padahal liburan kerjaannya cuma rebahan sambil nonton TV doang ha ha ha ha.

Hari ini aku mau bahas hal yang random aja deh. Tiba-tiba aja nih pemikiran muncul pas lagi sarapan. Kira-kira apakah pemikiran random yang akan aku bahas kali ini? Sesuai judulnya, tentang sudut pandang. Kalian pasti pernah belajar tentang sudut pandang dong ya, tentang sudut pandang orang pertama dan sudut pandang orang ketiga. Jelas lah, ini sudah jadi pelajaran yang umum karena pasti dibahas pada pelajaran Bahasa Indonesia, khususnya bab membedah unsur intrinsik cerita pendek/novel. Jujur, aku bingung sih gimana menuangkannya ke dalam kata-kata karena ini beneran random banget. Serius.

https://pin.it/yzdsoq3xq3gzr2

Kalian pernah mikir gak sih, kenapa aku bisa jadi sosok aku dan kamu adalah sosok kamu?
Bahasanya berat iya kan? Wkwkwkwk.

Ya kayak... kenapa kita dilahirkan hanya dengan satu sudut pandang? Aku cuma bisa merasakan kehidupan aku dan gak bisa merasakan bagaimana kehidupan orang lain dari sudut pandang mereka. Aku kadang penasaran sih, bagaimana kita bisa melihat sudut pandang orang lain atau kita masuk ke dalam jiwa orang lain untuk mengalami kehidupan orang tersebut secara langsung. Kalian pernah gak penasaran tentang hal itu?

Misalnya nih, aku sebagai mahasiswa menjalani hari-hariku dengan sudut pandangku sendiri. Lalu aku bertemu dengan temanku yang baru datang dengan mood yang berantakan, aku kan pasti cuma bisa melihat dari sudut pandangku sendiri kalau "Oh, ini orang lagi bete kali."
Aku cuma bisa mengamati orang lain tanpa tahu sudut pandang mereka secara internal.
Jadi, hal yang membuat aku penasaran tuh ya sudut pandang internal milik orang lain.

Aku kan suka kucing, setiap kucing datang aku elus-elus dan kasih makan. Hal yang paling random yang pernah aku bayangkan adalah bagaimana kalau jadi kucing itu.

Aku datang di kosan manusia terus cari kamar orang yang suka kasih aku makan, habis itu aku bilang, "Meong! (Oi manusia!)"
Lalu orang itu datang menghampiri aku, kemudian mengelus kepala dan menggelitik dagu aku. Terus aku kayak merasa, "Oh yeah... this feels so good, Hooman!"

Atau kalau misalnya ayah baru pulang kerja dan aku minta uang lalu dimarahi oleh ayah. Pasti kan aku berpikir, "Salah apa sih aku? Kok gitu aja dimarahi."
Tapi aku jelas gak tahu sudut pandang internalnya ayah kayak gimana. Bisa jadi misalnya ayah lagi dongkol gara-gara dimarahi bos kantor atau lagi pusing cari uang tambahan ke sana ke mari karena pengeluaran besar.

Aku masih penasaran sih sampai sekarang kenapa manusia cuma bisa lihat satu sudut pandang kehidupan saja. Seandainya manusia punya kemampuan bisa merasuki jiwa orang lain gitu kan, kita bisa tahu juga sudut pandang kehidupan dari kacamata orang lain. Random banget sih ini woy wkwkwk.

Ya sudah, itu saja deh pemikiran random yang bisa aku tulis di sini. Selamat menempuh hari Senin.
Have a nice day. ♡

Michiko

Photo by pinterest

July 7, 2019

Daftar Kegagalan

11:48 PM 0 Comments
Halo! ^0^
Kembali lagi bersama aku di channel ikan terbang hohoho.
Hari ini aku akan membahas tentang sebuah perjuangan dan makna kegagalan.

Sebagai seorang pelajar, tentu aku pernah mengalami beberapa kegagalan, mulai dari remidial ujian, nilai ujian nasional yang gak memuaskan, gagal masuk perguruan tinggi dan jenis kegagalan yang lainnya. Tentu, kegagalan itu sangat mengecewakan apalagi kalau ekspektasi dan standar keinginan terlalu tinggi untuk dicapai. Tapi gak masalah dong punya ekspektasi dan standar keinginan yang tinggi, namanya juga cita-cita wajar untuk dikejar dan ingin kita wujudkan. Iya, kan?

Masalahnya, namanya hidup gak selalu mulus nih. Pasti ada sandungan batu kerikil atau bahkan batu kali dalam hidup ini. Oke ini lebay wkwkwk.
Dalam mencapai impian, pasti kita selalu memikirkan jalanan yang mulus kayak paha ayam jalan tol tanpa memikirkan lika-likunya. Tapi, untuk mencapai cita-cita gak semudah itu, Bambang!

Bambang be like:


Banyak yang harus dikorbankan dan diperjuangkan, banyak pula kerikil jalanan yang harus disingkirkan dari "jalanan mulus" yang diharapkan. Tapi, yang harus kita sadari adalah...  untuk membuat jalan menjadi mulus, yang kita perlu lakukan bukanlah menyingkirkan kerikil di tengah jalan (capek lah wkwkwk), tetapi mengumpulkan semua kerikil untuk mengaspal jalan itu. Betul? Kalau gak tahu, coba cari jalanan yang lagi diaspal deh.
Begitu pula kehidupan ini, seharusnya kita gak menghindari kegagalan, melainkan mengumpulkan kegagalan yang pernah kita lalui. Buat apa dikumpulkan? Buat mengaspal jalan kita menuju sebuah impian yang besar.

Kok bisa?

Bisa dong. Sebab, kegagalan yang pernah kita lalui itu adalah sebuah pelajaran hidup yang harus bisa kita ambil hikmahnya. Contohnya, kita bisa mengevaluasi kesalahan yang pernah kita lakukan saat berusaha menggapai sebuah impian, kita bisa tahu di mana letak kekurangan selama kita memperjuangkan impian itu, atau bahkan kita bisa memperkirakan peluang lain dari sebuah kegagalan yang pernah kita lalui.

Biasanya, aku mencatat semua yang kegagalan yang pernah aku alami. Contohnya seperti ini:


Oke maaf RIP grammar wkwkwk.

Waktu menulis ini sedih gak? Sedih lah. Aku pun pernah menulis satu poin di atas sambil menangis.
Sedih wajar kok, menangisi kegagalan juga wajar dengan catatan sewajarnya aja jangan sampai berlarut-larut dan gak mau maju lagi. Gak gitu. Tujuan menulis itu untuk evaluasi diri bukan untuk menangisinya.

Kadang, setiap aku melihat kegagalan yang pernah aku lalui itu, aku tiba-tiba teringat seberapa niatnya aku berjuang buat mencapai poin itu, betapa sedihnya aku waktu tahu poin itu gagal. Tetapi, ada satu hal yang terpikirkan setelah kesedihan itu terlewatkan, yaitu: Aku habis ini mau apa dan harus kayak gimana biar gak gagal lagi?

Coba deh! Tuliskan semua kegagalan yang pernah dialami. Secara gak langsung, itu bisa jadi sebuah motivasi untuk kalian tetap berjalan menuju kesuksesan walaupun gak sesuai keinginan.

Note: Pintu sukses ada di mana saja kok.

Cukup untuk hari ini, have a nice day.

Michiko♡

June 30, 2019

Adab Silaturahmi

2:16 PM 0 Comments

Haloooo!
Kembali lagi bersama saya di channel ini. Hohohoho. Well, ini merupakan postingan penutup di bulan Juni. Semoga menjadi sebuah postingan yang bermanfaat.

Kali ini, aku akan membahas tentang adab bersilaturahmi. Aku gak akan bawa-bawa hadits ataupun dalil, pokoknya gak ada sangkut pautnya dengan agama. Gak sama sekali. Soalnya aku bukan ustadz. Wkwkwk.
#Ya iyalah, situ cewek. XD

Mengapa aku angkat tema ini? Sebab, banyak orang yang sering merasa tersinggung dengan pertanyaan-pertanyaan yang diajukan ketika kumpul bersama keluarga besar, seperti lebaran, tahun baru, natal, imlek, dan lain sebagainya. Oleh karena itu, aku mengambil judul "Adab Silaturahmi" untuk postingan ini. Aku akan membahas "what should we do and don't ketika berkumpul bersama keluarga besar".


illustration by dribbble on Pinterest

Kita pasti sering mendengar topik-topik obrolan yang "cukup" menyinggung, seperti: 
"Kapan lulus?"
"Kapan nikah?
"Gendutan ya"
"Masuk jurusan anu mau jadi apa?"
Kesal rasanya. Mulut kok bisa enteng banget kalau ngomong. Mungkin bagi yang bertanya, itu hanya pertanyaan biasa saja, tapi kalau bagi yang ditanya? Serius, itu merupakan pertanyaan yang membuat hati berbunyi "kretek". 

"Cuma basa-basi buat membuka obrolan kok, gak usah dimasukkan ke dalam hati."
Haruskah basa-basi dengan pertanyaan atau pernyataan yang menghakimi dan cukup menyinggung perasaan orang lain? No! Yang ada, orang yang disapa malah bete duluan karena pertanyaan itu dan justru sama sekali gak minat buat melanjutkan obrolan.

Lalu, bagaimana cara basa-basi yang gak menyinggung perasaan? Kita bisa mengganti pertanyaan-pertanyaan itu dengan pertanyaan yang lebih "halus". Simak poin-poin berikut ya. 

1. Kapan Lulus?

πŸ‘© Semester berapa sekarang?
πŸ‘¦ Semester delapan.
πŸ‘© Kapan lulus?
πŸ‘¦ ....... Wallahu alam.

Buat mahasiswa tingkat akhir, pasti ini merupakan topik yang sangat amat sensitif banget sekali. Saking sensitif sampai pemborosan kata tuh. Apalagi, kalau mahasiswa lagi pusing banget cari tema dan bahan buat dibahas dalam skripsi. Jauh-jauh deh dari pertanyaan ini kalau gak mau di"gas" sama mereka. XD

Lalu harus tanya apa dong? Begini.

"Sekarang lagi sibuk ngapain nih?"

Itu lebih baik, bukan? Setidaknya, kita gak tiba-tiba menghakimi dia. Bisa jadi, dia gak cuma sedang sibuk dengan kuliahnya saja. Mungkin saja, dia kerja part-time sambil kuliah untuk mencari pengalaman terlebih dahulu atau sedang dalam proses mengerjakan skripsi. Pembuatan skripsi gak hanya semalam jadi, itu masih sering direvisi dosen pembimbing ya, tolong. :)

Buang deh jauh-jauh pertanyaan yang cukup menyinggung perasaan orang lain dan mulai pahamilah apa penyebab dia belum lulus kuliah saat ini. Sebab, pertanyaan "kapan" itu gak jelas jawabannya. Kalau aku sebagai orang yang ditanya pun, mana aku tahu jawabannya. Masa depan yang tahu kan hanya Tuhan. Hehehe.

2. Kapan kerja? Kapan nikah? Kapan punya momongan?

Setelah lulus kuliah:
πŸ§”πŸ‘© Kapan kerja?
πŸ‘Ά Gak tahu, mau lanjut S2 dulu.
Setelah kerja:
πŸ§”πŸ‘© Kapan nikah?
πŸ‘¦ ........jodohnya aja belum ada. :"(
Setelah nikah:
πŸ§”πŸ‘© Kapan punya anak?
πŸ‘¨ ASDFGHJKL. Om dan tante kapan mati?! >:O

Seorang fresh graduate pasti kupingnya panas dengar pertanyaan "kapan kerja?". Yang sudah kerja dan masih jomblo pun, pasti kupingnya panas kalau dengar pertanyaan, "kapan nikah?". Sudah nikah pun masih ditanya, "kapan punya momongan?"

Haduh. Haduh. Lagi-lagi pertanyaan kapan. Mana saya tahu, tanteee ooom neneeek kakeeek mbaaah. πŸ™„

Jangan tanya kayak gitu deh ya. Sebaiknya, ganti saja dengan pertanyaan lain.

"Setelah ini punya rencana apa untuk ke depannya?"

Berusahalah untuk mendengarkan orang lain, bukan menghakimi seseorang. Rencana setiap individu itu berbeda, ada yang baru lulus ingin kerja, ada yang ingin melanjutkan S2, ada yang ingin langsung nikah, ada yang tidak ingin/tidak bisa punya anak karena suatu alasan, ada yang ingin menghabiskan masa mudanya sebelum menikah. 

Jangan sama ratakan rencanamu dengan rencana orang lain. Jodoh, rezeki, dan jalan kehidupan itu gak ada yang tahu kecuali Sang Pencipta. Kalau masih tanya "kapan", gak sekalian saja tanya kapan mati? Biar hidup gak selalu memikirkan dunia. :)

3. Gendutan ya. Ih kok jerawatan sih?

πŸ‘© Gendutan ya.
πŸ‘§ .....ya terus?
πŸ‘© Kok jerawatan?
πŸ‘§ .....ya terus? Gue harus bilang WOW gitu?

Ini namanya body shaming. Jelas, itu komentar yang amat gak berbobot sebenarnya. Buat apa sih mengomentari tubuh orang lain? Gendut, kurus, putih, hitam, jerawatan, atau glowing, bukan urusan siapa pun selain empunya si tubuh.

Lemak atau jerawat itu murni efek dari pola hidup dan reaksi tubuh. Kalau dia jerawatan, kurusan, atau gendutan, mungkin karena pola hidupnya yang sedikit berantakan atau stres atau lainnya. Dengan berkomentar hal yang "menyinggung" seperti itu, justru menimbulkan tekanan yang bisa menyebabkan dia tambah stres dan membuat seseorang menjadi tidak percaya diri. Haruskah bentuk tubuh dan wajah menyesuaikan ekspektasi orang lain? 

Daripada berkomentar tentang bentuk tubuh, mengapa tak coba kita ganti pertanyaan itu dengan mengomentari baju yang dia pakai, misalnya:

"Style-mu keren. Baju itu beli di mana? Kasih tahu dong cara mencocokkan outfitnya."

Itu tak akan menyinggung perasaan orang lain, bukan? Yang ditanya pun, pasti menjawab dengan senang hati daripada harus menjawab komentar "gendutan" dengan segala kedongkolan yang merambat dalam hati.

4. Masuk jurusan ini mau jadi apa?

Ini nih! Ini! Pertanyaan yang menyinggung mahasiswa jurusan "yang tidak terkenal". Aku termasuk salah satu orang yang sering mendengar pertanyaan ini. 

πŸ‘© Kuliah jurusan apa?
πŸ‘§ Sastra Jepang.
πŸ‘© Hah? Kalau sudah lulus mau jadi apaan?
πŸ‘§ Jadi doraemon. -_-

Mungkin buat seseorang yang jurusan kuliahnya cukup familiar di telinga masyarakat, gak akan tersinggung dengan pertanyaan ini. Tapi, untuk seorang mahasiswa dari jurusan yang tidak familiar di telinga masyarakat akan merasa agak kesal dengan pertanyaan ini. Sebab, pertanyaan itu terlalu to the point dan seolah memandang jika jurusan itu tidak punya masa depan yang cerah. Miris emang ya. 

Lalu bagaimana untuk menangkal pertanyaan ini agar tidak menyinggung?

Berikut step untuk bertanya:
πŸ‘© Kuliah jurusan apa?
πŸ‘§ Sastra Jepang.
πŸ‘© Belajar apa aja tuh?
πŸ‘§ Belajar bahasa jepang, budaya, sastra, linguistik, dan lain-lain.
πŸ‘© Ooh, susah gak belajarnya?
πŸ‘§ Ya susah-susah gampang.
πŸ‘© "Terus prospek kerjanya apa?"

"PROSPEK KERJANYA APA?"

Yeah! That's right! Prospek kerja. Itu kan tujuanmu bertanya? Basa-basi sedikit lah supaya terdengar lebih halus. Lama? Ya namanya juga komunikasi dan bercengkerama, kan? Gak mungkin juga nanyain itu waktu papasan di jalan.

Berpapasan di jalan
πŸ‘© Eh mau ke mana?
πŸ‘§ Mau ke kampus, Tante. Tante mau ke mana?
πŸ‘© Mau ke pasar nih. Kalau udah lulus mau jadi apa?
πŸ‘§ Paan si.

Gak mungkin juga, kan?! 

Segitu dulu deh pembahasan yang akan aku bahas kali ini. Mungkin terkesan gak serius tapi ini serius kok cuma versi gak serius. #Plakkk. Apa sih. xD

Have a nice day,

Michiko♡

June 23, 2019

Bersatunya Sangkuriang, Jaka Tingkir, Rama dan Shinta

7:47 AM 0 Comments
Sudah lama banget ya aku gak post di blog? Hohohoho. XD

Maaf ya, aku sibuk. Sibuk tidur, goleran, malas-malasan. Hehehe. Tapi... karena hari ini aku punya kisah untuk dibagikan, jadi aku kembali ingin menuliskannya dan membagikannya di blog ini.

Best struggles are the best memories. —Nadhira, 2019.

Tim Percakapan Bahasa Jepang Lanjut Malam

10 Juni 2019
Aku baru pulang dari rumah menuju perantauanku. Temanku, sebut saja Aaron (nama asli lah, malas bikin nama samaran πŸ˜‚) sebelumnya sudah mengirimkan pesan lewat watsap. Katanya, "Nad, kamu balik ke sini kapan? Kalau sudah pulang, bantu bikin properti ya?"

Asli, aku saat itu malas pulang. Tapi, apa boleh buat? Aku harus membantu mereka untuk membuat properti. Akhirnya, aku pulang siang hari dan sampai di perantauan pada sore hari. Iya, dekat kok. Hanya dua jam perjalanan. Sesampainya di sana, aku langsung mengunjungi kos tetanggaku, Mualif, sebab katanya mereka membuat properti di sana.

Ketika aku masuk menelusuri lorong kemudian berhenti di depan pintu kamar kedua dari arah pintu di sebelah kanan, aku melihat seisi kamar yang dihuni beberapa temanku di dalamnya tetapi tuan rumah tak ada di sana. Widih... berantakan. Di dalam kamarnya banyak kardus berserakan di lantai dan rafia hijau yang digantung dari ujung kamar ke ujung kamar yang lainnya. Satu properti sudah selesai, itu rumput.

Bisa tebak, kami membuat properti apa? Ya! Properti untuk drama. Drama kali ini merupakan project terakhir mata kuliah "Percakapan Bahasa Jepang" untuk tingkat tiga. Setelah itu, kami tak akan bertemu dengan mata kuliah itu lagi. Bye~

Pada hari itu, tujuan kami adalah membuat pohon dan properti per kelompok. Tanganku sibuk untuk membuat kuda-kudaan, ada beberapa temanku yang lain sibuk membuat properti kelompoknya sendiri dan ada beberapa yang membuat pohon. Kuda yang aku buat terbuat dari kardus kecil yang aku lipat, kemudian untuk ekor dan rambutnya terbuat dari tali rafia hijau (sisa untuk membuat rerumputan). Kuda-kudaan yang aku buat adalah unicorn hijau. Oke siap wkwkwk. πŸ˜‚
Aku membuat kuda-kudaan bekerjasama dengan kedua temanku, Vicky dan Tangguh. Sambil menyisir rambut kuda yang terbuat dari rafia, kami membuka sesi curhat dan canda supaya gak terlalu spaneng.

Teman-teman di sebelahku sibuk membuat pohon, mereka bingung sebab rencananya pohon akan dibuat 2D atau 3D. Namun, mengingat keperluan dibuatnya pohon ini adalah untuk bersembunyi, akhirnya diputuskan untuk membuat pohon 3D.

Maka, dibuatlah pohon 3D setengah 2D(?), jadi bentuk pohonnya gak berbentuk pohon tetapi pakai kardus dibuat alas batang datar lalu ditutup dengan kertas cokelat dan daunnya dibuat dari kardus lalu ditempel kertas hijau. Sederhana ya? Setelah itu, kami pulang dan memutuskan untuk melanjutkannya di hari selanjutnya.

11 Juni 2019

Kami berkumpul lagi di kos Mualif untuk lanjut membuat properti. Kali ini masih sepi karena aku datang tepat waktu. Ya, biasa... orang Indonesia penganut jam karet. Sudah ada beberapa orang di dalam kamarnya, sekitar empat orang dan mereka sedang kebingungan sebab pohon yang kemarin dibuat ternyata roboh dan hancur. Akhirnya, dengan menggunakan kekuatan otak Akrom yang encer sampai netes dari kuping (ITU CONGE GBLK), kami membuat pohon dari awal. Dimulai dari memotong kardus, membuat jari-jari pohon agar bentuk pohonnya kokoh, dan terakhir menggunakan payung yang ditempel kertas hijau sebagai daunnya. 

Tanganku gak turut serta dalam membuat pohon itu, karena di dalam kamar sudah ada beberapa orang dan aku memilih untuk membuat di lorong kos saja. Tanganku sibuk membuat properti kelompokku sendiri. Membuat bunga-bungaan untuk digunakan dalam salah satu adegan drama. Lucu gak?

Bunga properti kelompok tiga.

Selain itu, aku juga membantu dalam menempelkan kresek biru untuk membuat sungai di penghujung acara saat itu. Setelah semua selesai, semua properti sudah tuntas diperiksa kelengkapannya, kami pun pulang dan beristirahat.

12 Juni 2019

Hari ini merupakan hari dekorasi dan gladi bersih. Beberapa properti yang belum selesai, kembali dituntaskan seperti mengecat sayap dan membuat perahu. Semua properti dan kostum masing-masing disiapkan per kelompok. Tugasku adalah membawa peralatan makan, peralatan rajut, dan sapu. Iya gaes, aku naik motor ke kampus sambil nenteng-nenteng sapu sampai-sampai dilihatin oleh orang lain sampai terheran-heran. Ya Allah, tabah dedek. :")

Di kelas, kami sibuk dengan urusan kami masing-masing. Ada yang mengecat properti, ada yang menggunting kardus, ada yang memasang kain untuk pemisah panggung dan belakang panggung, ada yang sibuk mencari latar untuk drama, ada yang sibuk mengatur speaker dan layar, ada yang sibuk menata bangku, dan ada pula yang duduk manis sambil menunggu. Pokoknya saat itu, suasana kelas penuh dengan kesibukan sejak pukul satu siang sampai pukul tujuh malam. Kebetulan, saat itu kampus memang masih bebas dari aktivitas kegiatan belajar mengajar sebab hari itu sebenarnya kami belum diharuskan untuk masuk kuliah karena ada kegiatan halal bihalal untuk dosen dan rekan kerja sehingga kami gak bisa tinggal lebih lama untuk menjajal panggung saat gladi bersih. 

Katanya, "Cepat dirapikan, satpam ngamuk gaes!"

Ujaran itu membuat kami grasak-grusuk untuk membereskan seluruh kekacauan di kelas dan merapikan properti yang berserakan. Dengan keadaan terusir, kami pun melakukan gladi bersih di lapangan parkir yang kosong. Pentas drama untuk mahasiswa yang mengikuti mata kuliah ini dibagi menjadi tiga kelompok, kami pun gladi "bersih bersihan" secara berkelompok karena hari sudah mulai malam, tanpa panggung tanpa penonton. Gladi bersih macam apa ini. XD

Selesai gladi bersih, kami pun membubarkan diri pada pukul 8.30 malam. Begini Mak, anakmu berjuang di perantauan. :')

13 Juni 2019
Hari ini, aku bangun lebih pagi dari biasanya. Pukul lima pagi, padahal kalau dulu sekolah aku biasa bangun jam segini hahahaha. Efek kelas sore gaes, makanya aku bangunnya sering siang. Hari ini aku sudah berangkat ke kampus pada pukul enam lebih, kami datang lebih pagi sebab pentas drama kecil-kecilan ini akan dimulai pada pukul 08.00 WIB. Suasana kampus sudah mulai sibuk. Kami mulai memakai kostum dan berdandan bila diperlukan.

Kelompokku memutuskan untuk tidak memakai riasan wajah karena kami kira pasti akan memakan banyak waktu. Jadi, kami memanfaatkan waktu persiapan untuk memasang kostum dan berlatih melempar palu. Ngapain coba ya? XD
Konsep kelompok tiga atau kelompokku adalah konsep lokal Indonesia campur budaya Jepang. Cerita yang kelompokku bawakan adalah kisah seorang anak yang ngebet kawin sama ibunya(?), berjudul "Sangkuriang". Kostum yang kelompok kami pakai bukan kebaya juga tanpa kujang, melainkan yukata. Budaya Indonesia yang kami ambil adalah budaya ketika orang jaman dahulu mencuci di sungai, suasana latar dan waktu dan latar musik yang dibuat ala kesundaan.
Dalam persiapan untuk pentas drama ini, hal yang paling menyita waktu di kelompokku adalah memasang obi. Ini adalah hal yang rumit bagiku yang gak terbiasa pakai yukata, makanya memakan banyak waktu.

Sekilas info:
Obi ini adalah sabuk untuk yukata atau kimono dan semacamnya. Bentuknya hampir mirip seperti selendang tetapi bahannya jauh lebih tebal dan kaku. Lebarnya sekitar 16-30 cm tergantung jenisnya dan panjangnya bisa mencapai 3-4 meter. Obi ini banyak jenis namanya, tergantung penggunaannya untuk yukata atau kimono atau lainnya. Tapi, biar lebih singkat jadi aku sebut obi saja. Cara memakainya hanya dililit dan diikat saja tanpa perlu peniti atau jarum. Untuk tutorial, bisa dicari di Youtube ya. Banyak kok tutorial dari orang Jepang asli.
Sedangkan, kelompok yang memanfaatkan waktunya untuk merias wajah dan memakai kostum adalah kelompok satu. Mereka merias wajah mereka mirip seperti wayang dan kostum yang dipakai juga lokal banget seperti kebaya dan semacamnya.  Kelompok satu ini punya konsep kerajaan zaman dahulu, seperti film yang suka tayang di channel ikan terbang itu lho. Mereka membawakan kisah cinta antara dua sejoli yang terpisah karena orang ketiga(?), judulnya "Rama dan Shinta". 

Mereka cukup memakan waktu yang banyak dalam melakukan persiapan, terutama Mbak Shinta (ini bukan nama asli dia ya, tapi ini pemeran tokoh Shinta), dia memakai kebaya dan rambut palsu serta riasan di wajah agar "jadi" cantik. Mengapa memakai wig? Sebab, pemeran Shinta ini adalah seorang laki-laki bernama Heru. 🀣

Heru as Shinta

Cantik, bukan? 
Ya, aku kira memang begitu. Pantas saja dia ini diperebutkan oleh Rama dan Rahwana. Gak deng. πŸ˜‚

Kelompok dua ini selama kelompok satu dan kelompok tiga bersiap-siap, mereka diam saja sambil duduk manis memperhatikan yang lain justru membantu kelompok lain dalam persiapan pentas drama. Aku pun bingung, kenapa mereka gak bersiap-siap juga. Rupanya, semua ini karena kostum dan riasan mereka sangat simpel bahkan tanpa perlu bantuan siapa pun dalam persiapannya. Kenapa sih? Kelompokku aja rasanya ribet banget. :")

Konsep yang mereka bawakan ini merupakan campuran zaman dahulu dan zaman modern saat sudah terciptanya gadget. Cerita yang mereka bawakan adalah mencari jati diri demi restu calon mertua(?), berjudul "Jaka Tingkir". 

Setelah bersiap-siap, dosen pengampu datang dengan membawa tiga buah kertas undian. Masing-masing ketua kelompok diharapkan untuk mengambil kertas tersebut. Angka yang tertulis di kertas itu merupakan penentu siapa yang akan pentas lebih dahulu. Dan... jeng jeng jeng! Kelompok "Sangkuriang" yang akan menjadi pembuka pada pentas drama hari ini, setelah itu "Rama dan Shinta", lalu "Jaka Tingkir" sebagai penutup.

Deg-degan gaes. :")

Anggota kelompok "Sangkuriang" sudah bersiap di belakang panggung untuk mengecek background latar dan musik juga sebagian mempersiapkan properti yang akan digunakan. Pentas pun dimulai, aku bertugas untuk memberi aba-aba pada operator yang mengoperasikan musik latar. Saat giliranku untuk masuk ke panggung, aku grogi sampai ada beberapa dialog yang terlewat atau sekadar lidahku kepeleset dalam pengucapannya. Dosaku yang menghantuiku sampai keesokan harinya adalah... salah bahasa. Ya Allah, cobaan apa lagi ini. :")

Harusnya dialogku adalah...
Sangkuriang: "Kitto kimi to kekkon suru" (Pokoknya, aku akan menikahimu."
Dayang sumbi: "Iya da yo." (Gak mau!)

Tapi aku malah bilang...
Dayang sumbi: "Shireo yo!" (Gak mau!)

Iya, artinya memang sama sih. Tapi itu bahasa Korea. Gblk banget dah. 😭
Gini nih efeknya kalau kebanyakan nonton drama korea. Hiks.
Gak apa-apa, setidaknya diriku pernah berjuang~ :")

Untuk kisah kelompok satu dan kelompok dua, aku gak bisa menceritakannya dengan detail sebab aku tidak tahu apa saja yang terjadi di belakang panggung. Ketika kelompok satu dan dua sedang tampil, aku duduk di kursi penonton dan merekam penampilan mereka untuk dokumen pribadiku.

Setelah drama ini selesai, kami pun foto bersama. 






Aku sisipkan dokumentasi tambahan ehe. Plot twist:
Setelah Rahwana gagal mendapatkan Shinta dan Sangkuriang gagal mendapatkan Dayang Sumbi, akhirnya Dayang Sumbi dan Rahwana pun memutuskan untuk hidup bersama. Gak.



γŠη–²γ‚Œζ§˜γ§γ—γŸ!
Thank you for creating this memories in my life.

Michiko♡

May 11, 2019

Toleransi untuk Minoritas

5:46 PM 0 Comments
Geger lagi nih.

Ada peraturan jam buka restoran yang diberlakukan pada bulan Ramadan, sebagai bentuk kontra dipasang lah spanduk yang berisi pesan imbauan untuk menghormati orang yang tidak puasa. Tetapi ada beberapa oknum yang tidak setuju dengan hal ini. Katanya, orang yang sedang berpuasa itu harus dihormati karena dia sedang menjalankan ibadah.

Apa pendapat kalian terhadap fenomena ini? Menurut kalian aneh gak imbauan ini?

Pendapat aku sendiri, imbauan ini gak aneh sama sekali. Menurutku, puasa itu bukan sebuah ujian hidup sampai orang lain harus bersimpati kepada orang-orang yang berpuasa. Inti dari berpuasa sendiri kan bukan hanya sekadar menjalankan kewajiban sebagai seorang umat muslim saja, tetapi pasti ada maknanya di balik itu semua. Apa maknanya? Ya, kita "menghormati" mereka yang setiap hari berpuasa. Siapa mereka itu? Kaum dhuafa.

Aku pribadi sebagai orang yang berpuasa, aku tidak masalah jika ada warteg atau restoran buka siang hari. Karena aku tahu, semua agama hidup berdampingan. Ada orang yang tidak berpuasa membutuhkan makanan pada siang hari. Lagipula aku juga paham, bahwa aku sedang memposisikan diriku sebagai seseorang yang harus menahan lapar. Toh, orang-orang yang setiap hari berpuasa juga biasa saja ketika lewat di depan rumah makan hanya melihat orang yang sedang makan, sedangkan kita yang berpuasa hanya merasakan sebulan saja.

Kalau begitu, berarti yang tidak berpuasa tidak toleransi terhadap orang yang berpuasa?

Bukan begitu, justru kita yang tidak toleransi terhadap mereka yang tidak berpuasa (baik muslim yang sakit/halangan ataupun non-muslim) JIKA memaksa warung makan untuk ditutup pada siang hari. Orang dewasa yang sering berpuasa harusnya sudah paham bagaimana rasanya berpuasa dari pagi sampai petang, lalu mengapa harus terganggu melihat orang yang makan dan minum di depan kita? Kita punya nafsu yang harus kita tahan agar tidak ikutan makan dan minum. Memang itu tujuannya, kan?

Apa pun latar belakangmu, jangan hanya ingin dihormati tanpa menghormati. Apakah menghormati orang lain akan membuat kita menjadi tidak terhormat? Salah besar. Justru, jika kita menghormati orang lain, maka orang lain juga akan kembali menghormati kita.


Bagaimana dengan pendapatmu atas fenomena yang menggegerkan ini?

Spread love and peace ✌️
Happy fasting for all moslems around the world and have a nice day,

Michiko♡

May 4, 2019

Indonesia... Aku Rindu

8:54 PM 0 Comments
Ada apa dengan Indonesiaku?


Indonesia tercipta dari suku yang beragam.
Indonesia tercipta dari budaya yang bermacam.
Indonesia menaungi enam agama yang berbeda.

Batak, Sunda, Jawa, Dayak, dan lainnya bersatu padu dalam Bhinneka Tunggal Ika.
Islam, Kristen, Katholik, Buddha, Hindu, Konghucu, dan lainnya berdampingan dalam Bhinneka Tunggal Ika.
Perbedaan yang menjadikan satu.
Perbedaan yang menimbulkan rasa hormat satu sama lain.
Perbedaan yang menciptakan toleransi.

Namun, mengapa?
Apa yang terjadi wahai Indonesiaku?

Aku melihat keributan.
Aku mendengar cacian.
Aku mencium ketidakharmonisan.
Aku meraba kebencian.
Aku mengecap pahit kenyataan.

Kenyataan bahwa Indonesiaku, rakyatnya sedang krisis toleransi.
Kenyataan bahwa Indonesiaku, rakyatnya senang memaki.
Kenyataan bahwa Indonesiaku, rakyatnya tak suka menghargai.
Kenyataan bahwa Indonesiaku, rakyatnya mudah diprovokasi.

Ada apa dengan Indonesiaku?

Di mana identitas Indonesia yang besar akan toleransi?
Di mana identitas Indonesia yang senang menghargai?
Di mana identitas Indonesia yang menjunjung tinggi harga diri?
Di mana identitas Indonesia yang suka bernegosiasi?

Budaya senyum mulai luntur.
Budaya santun mulai melebur.
Sekarang emosi kerap terbentur.
Sekarang membudayakan takabur.

Aku rindu Indonesiaku yang rakyatnya ramah dan cinta perdamaian.
Aku rindu Indonesiaku yang rakyatnya tidak mempermasalahkan perbedaan.
Aku rindu Indonesiaku yang rakyatnya memberikan kebebasan.

Tuhan,
Aku cinta Indonesiaku.
Aku rindu Indonesiaku.
Kembalikanlah Indonesiaku.

30 April, 2019.
Dari aku yang merindukan Indonesia.

Original picture by pinterest
https://pin.it/nwcxep2kbtstnz

April 29, 2019

Media Sosial Pensiun: WHO IS NEXT?

2:57 AM 0 Comments
Seperti yang kita tahu, sekarang google+ sudah tutup usia. Hiks :(
Kali ini, siapa lagi yang tutup usia?



BBM dan Path.
Anak-anak zaman sekarang pasti pernah pakai beberapa media sosial yang akan pensiun ini. Contohnya, aku pribadi juga pernah pakai BBM. Banyak kenangan yang aku simpan di sana, kalau dulu BBM gak ada mungkin aku gak bakal inget sama emot BBM yang ngeselin dan tulisan autotext BB yang alay wkwkwk. XD


Emoticon khas BBM

Berhubung mereka berdua telah tiada, ada baiknya kita mendoakan agar tenang di sisiNya. #Lho.

Nostalgia yuk, ah. 

Kenangan bersama Path.
Aku pribadi, gak pernah sih pakai portal media sosial yang satu ini. Sebab  dulu HPku jadul jadi gak ikutan tren pada masanya. Aku hanya bisa online di pesbuk dan tuiter. Maklum, HP jadoel. Dulu, Path ini selalu penuhi isi timeline Twitter sampai satu layar karena waktu itu teman-temanku pada hijrah dari Twitter ke Path dan kebanyakan akun Path selalu ditautkan dengan akun Twitter. Padahal, dulu sebelum teman-temanku hijrah ke Path, Twitter itu ramai banget dan tempat yang enak buat spam. Tapi, Path yang dulu memenuhi timeline kini jarang ada yang pakai lagi karena teman-temanku sudah pada hijrah ke Insapgan eh Instagram. Terima kasih Path sudah memenuhi isi berandaku pada masanya. :') 

Kenangan bersama BBM.
Portal media sosial satu ini aku pernah pakai, tapi telat banget banget banget pakai banget tambahin banget sekali lagi. Sebab, aku baru pakai media sosial ini sejak aku punya android, iya gaes dulu aku gak punya HP Blackberry aku pakai HP yang made in China. :")
Nah, di sinilah beberapa kenangan tersimpan, ya... gak manis sih tapi gak pahit amat, asin aja deh atau gak hambar lah ya. Dulu BBM ini tempat chatting dengan uhuk mantan uhuk dan tempat di mana kita mengakhiri hubungan ini. Hiya! Uhuk uhuk uhuk uhuk uhuk. #Keselek tulang ayam kampus. #Eh.
Terima kasih BBM, tanpamu aku tak akan punya kenangan sehambar itu wkwkwk.

Setelah aku yang nostalgia, bagaimana dengan kisahmu bersama mereka berdua? Aku akan merindukan mereka tapi gak rindu-rindu amat soalnya gak kenal[?].

Setelah mereka close down, kira-kira bakal ada yang close down lagi gak ya?
TENANG GAES. Blog aku gak akan close down kok karena ini tempat aku mengasah kreativitasku. 

Oke, sampai sini dulu. #RIPBBMandPath
Have a nice day,

Michiko♡ 

Subscribe