5 Juni 2026

Cerita Bersambung: Reverse [Bagian 9: Gelisah dan Amarah]

6:00 PM 0 Comments
"Grace, kau bisa berhenti kapan pun kau mau. Aku akan melindungimu dari siapa pun yang mau menyakitimu. Aku janji." 

Grace membuang muka. Ia tak bisa lagi menguras air matanya di hadapan pria itu. Grace melepaskan tangan Jo yang memegangi kedua pipinya. "Terima kasih atas ketersediaanmu, Jo. Aku mohon, jangan mengatakan hal ini lagi kepadaku. Kau membuatku berada dalam dilema yang tak berujung."

Baca episode sebelumnya: Reverse Bagian 8 - Dilema Tak Berujung

Cerita Bersambung: Reverse [Bagian 9 - Gelisah dan Amarah]

Bagian 9: Gelisah dan Amarah

Ray memasuki ruang pertemuan yang sepi, sebuah ruangan besar yang dapat menampung belasan orang di dalam sana saat menggelar rapat eksternal. Kursi-kursi bersampul kulit hitam berjajar saling berhadapan mengelilingi sebuah meja panjang yang besar. Terdapat dua pintu akses untuk masuk ke dalam ruangan yang berada di dinding utara dan barat. Pintu yang pertama merupakan pintu yang tembus ke ruangan para karyawan inti bekerja, salah satunya Nona Kim. Pintu yang kedua adalah pintu yang tidak terbuka untuk umum, pintu itu menghubungkan ruang pertemuan dengan sebuah ruangan yang tidak pernah dilihat oleh orang yang bekerja di sana kecuali Ray, si pemilik ruangan. Ray keluar dari ruangan itu sambil membawa berkas di tangannya.  


"Kukira kau tidak akan berubah pikiran. Rupanya, kau menerima tawaranku." 

Ia menutup pintu ruangan yang terhubung dengan ruangan semi-rahasia itu sambil membawa berkas di tangannya dan menghampiri Grace yang duduk seorang diri di ruangan yang cukup luas itu. Ia meletakkan berkas itu di hadapan Grace yang sedang memandang ke setiap sudut ruangan besar dengan jendela bertirai tirai penutup jendela yang terdiri dari bilah-bilah horizontal yang tertutup. 

Grace merasa asing dengan ruangan itu. Dia memang terbiasa bekerja di kantor yang punya ruang privat dengan penjagaan ketat, tetapi banyak pertanyaan yang muncul di kepalanya, bagaimana bisa perusahaan Ray juga memiliki ruangan privat yang hampir sama seperti tempat ia bekerja? 

Grace meraih kertas-kertas bertinta hitam yang bertuliskan kontrak pekerjaannya selama ia menjadi asisten pribadi direktur perusahaan. Matanya menyoroti huruf demi huruf yang tertulis di sana tetapi sama sekali tidak masuk ke dalam isi pikirannya yang saat ini sedang penuh dengan hal yang lain. Ia merasa sedang menjadi seorang pengkhianat. Baru kali ini, ia mengorbankan kesetiaannya pada seseorang hanya demi menunjukkan kesetiaan pada yang lainnya. 

Ray duduk di kursi kosong tepat di sebelahnya. Ia tersenyum melihat Grace yang sedang menilik kontrak kerja yang baru saja ia berikan. Sembari melepaskan kancing jas berwarna biru dongker, ia berkata, "Mulai sekarang, kau harus terus mendampingiku, Grace. Kau bisa baca kontrak itu baik-baik. Begitu kau menandatanganinya, apa pun yang tertulis di sana seharusnya tidak akan menjadi masalah untuk ke depannya."

Grace mendengus pelan, sedikit tertawa sinis mendengarnya. Percuma aku membaca semua omong kosong ini. Toh, ini hanya kontrak sementara. Setelah aku memenggal kepalamu dan memberikannya pada Jun, kontrak ini tak akan ada artinya lagi.

Ujung pena bergulir di atas kertas putih, Grace menorehkan tinta tanpa keraguan untuk menandatangani kontrak kerjasama antara dia dan Ray. Pengalaman kerja yang singkat ini tiba-tiba mengubah statusnya menjadi seorang asisten pribadi dari orang nomor satu di perusahaan ini. Entah ke depannya apa yang akan terjadi padanya. Mungkin digunjing rekan kerjanya, mungkin dicemooh para mantan atasannya, mungkin dilirik sinis oleh orang-orang yang iri padanya karena memiliki orang dalam. Grace sudah pasrah dengan semua konsekuensi yang telah ia pikirkan matang-matang. Lebih baik menerima segala hujatan daripada menyerahkan kepala sendiri kepada bandit haus darah.

"Aku jadi penasaran, apa yang membuatmu berubah pikiran?" Ray menilik kontrak kerjasama yang baru saja ditandatangani sambil menyunggingkan senyuman. Ia merasa puas, seolah saat ini ia mendapatkan tangkapan besar. 

Grace meletakkan pena di atas meja sambil menghela napas. "Kupikir, hanya kau yang bisa menyelamatkanku dari pekerjaan yang menumpuk dan Nona Kim yang merundungku."

Ray mengulurkan tangannya, menawarkan jabatan tangan sebagai tanda dimulainya kerjasama antara mereka berdua. Ia tersenyum puas mendengar jawaban Grace yang terdengar sedang mengandalkannya. Matanya memandang Grace saat menunggu sambutan jabat tangan dari Grace, "Kau datang ke orang yang tepat."

Grace menatap uluran tangan pria itu dan memandang wajah Ray yang tersenyum secara bergantian. Tak lama, ia pun menjabat tangan pria itu. Kerjasama di antara mereka pun dimulai resmi sejak hari ini.

***

Debuk suara pintu pantri yang tiba-tiba terbuka mengejutkan Jo yang sedang terlarut dengan larutan kopi yang memutar membentuk pusaran. Ia menoleh ke sumber suara.

"Di sini kau rupanya! Kenapa kau tak menghentikannya?" sergah Nona Kim yang baru saja tiba tanpa menjelaskan situasi apa pun kepada Jo yang sama sekali tidak tahu apa-apa.

Jo melongo. "Apa maksudmu?"

"Dia menandatanganinya!" Nona Kim mendengus kesal dan berdecak. "Dia meneken kontraknya!"

Rahang mulut Jo terbuka, tangannya meletakkan cangkir kopi yang sedari tadi bertengger di antara sela jemarinya. "Jangan bercanda."

Nona Kim semakin sensitif dengan ucapan Jo, ia tertawa sinis. "Bercanda? Aku kehilangan posisiku karena wanita sialan itu! Kau pikir, untuk apa aku mengatakan hal ini padamu?"

Jo mengerutkan keningnya. Sekilas, ia teringat kejadian malam itu, saat melihat tetesan air mata yang menggenang di mata Grace. Ia tak pernah berpikir bahwa Grace akan menerima kontrak dari orang yang selama ini gadis itu hindari. Baginya, itu tak masuk akal. Mati-matian Grace menghindar dari pria hidung belang itu, tetapi sekarang wanita itu menandatangani kontrak hanya untuk terus berada di samping pria itu? 

"Tetapi, dia tidak berkata apa pun tentang hal ini. Padahal kemarin aku bersamanya...," gumam Jo dengan padangan kosongnya.

Nona Kim berkacak pinggang sambil mengernyitkan dahi. "Tunggu... apa? Kemarin kau dan... tunggu, kau dan Grace..."

"Dia ada di mejanya?" sela Jo.

"Tidak."

 "Ini tidak bisa dibiarkan." Jo beranjak pergi dengan terburu-buru meninggalkan Nona Kim tanpa peduli hal apa yang belum ia dengar dari Nona Kim.

Nona Kim memandangi kepergian Jo yang meninggalkan kopi hangat dengan kepulan asap yang belum terjamah. Ia menyambar telinga cangkir kopi itu dan menyesapnya, "Dua pria bodoh berebut satu wanita gila."

Jo berlari wara-wiri mencari Grace. Waktunya yang sempit itu harus ia manfaatkan sebelum Grace pergi lebih jauh. Dari pantri ia berjalan cepat menelusuri koridor setiap lantai, berharap bertemu Grace yang mungkin saja sedang berkeliaran. Beberapa kali dia kepada anggota divisi yang berpapasan dengannya, tetapi tak satu pun orang melihat Grace. Ia menuruni tangga darurat berharap bisa menyaingi kecepatan elevator yang penuh dengan antrian para karyawan di jam makan siang. Ia berlari ke meja resepsionis di lobi, menanyakan keberadaan direktur, Ray, sebab ia tahu jika ada Ray di sana pasti di sampingnya akan ada Grace yang mengikuti. Namun, usahanya tidak membuahkan hasil.

Jo pun memutar otak, bagaimana caranya untuk menemukan Grace? Ia kembali ke pantri untuk menemui Nona Kim. Beruntung, Nona Kim masih ada di sana menyeruput kopi yang tinggal setengah. 

"Beritahu aku jadwal kegiatan Tuan Ray hari ini."

Nona Kim pun menghela napas dan mengeluarkan ponselnya sambil menunjukkan jadwal kegiatan Ray hari ini. Jo lari belingsatan menuruni tangga darurat lagi, walaupun napasnya masih tersengal. Ia berlari ke arah basement tempat di mana mobil hitam Ray terparkir. Saat ia menginjakkan kaki di lantai bawah, Grace tertangkap dalam pandangannya sedang mencangklong tas di bahunya. Ia berlari menyusul Grace yang baru saja mendorong pintu kaca untuk keluar dari gedung memasuki basement.

"Grace!" Jo memanggil Grace, berharap Grace menghentikan langkahnya. Ia menyusul Grace dan mengimbangi langkah gadis itu yang berada beberapa langkah di depannya. Jo mengatur napasnya sambil mencecar Grace dengan pertanyaannya. "Kudengar kau naik jabatan. Kau menandatanganinya?"

Grace tidak melirik Jo sama sekali, pun tidak menghentikan langkahnya. Walaupun ia mendengar deru napas Jo yang tersengal kehabisan napas karena berusaha mengejarnya. Tidak tega, tetapi dia harus menghindari Jo atau semua rencananya akan kacau.

"Ya, begitulah," jawabnya dingin. 

Jo heran. Grace berubah dalam semalam. Sikapnya benar-benar tidak biasa. Sangat dingin, seperti es di Antartika. Jo meraih tangan Grace, menahan gadis yang berjalan lebih cepat di depannya. "Grace, tunggu!"

Grace menghentikan langkahnya saat lengannya ditahan oleh Jo. Mau tidak mau. Namun, ia bergeming.

"Apa yang terjadi padamu akhir-akhir ini, Grace? Kau berubah drastis dalam semalam! Kau tidak seperti Grace yang kukenal." Jo melangkah ke hadapan Grace, tubuhnya yang besar berdiri tegap tepat di depan Grace dan menghalangi gadis itu agar tidak melanjutkan langkahnya. "Batalkan kontrak itu, Grace!"

Grace tidak sanggup memandang Jo. Bahkan mendengar suaranya saja, sudah cukup menyayat hatinya. "Aku tidak pernah memberitahumu tentang ini, Jo... dan kau tidak punya hak apa pun untuk melarangku." Ia melepaskan genggaman tangan Jo yang mencengkeram lengannya. Tidak ada perlawanan, tangan Jo jatuh begitu saja ditarik gaya gravitasi. Grace menghela napas dalam, jauh di lubuk hatinya ia tidak ingin mengatakan hal setega ini. Namun, untuk membuat pria di hadapannya itu pergi, ia harus mengatakan ini. "Justru karena kehadiranmu di hadapanku ini lah yang menghambat langkahku."

Lidah Jo kelu. Tidak ada yang bisa ia katakan setelah mendengar ucapan Grace. Tenggorokannya seketika kering dan ia tercekat seolah kata-kata yang diucapkan Grace itu melilit lehernya hingga ia sesak karena tidak bisa bernapas. Di kepalanya, hanya suara retakan hati yang terdengar. 

"Jadi, selama ini kau menganggapku seperti itu, Grace?" ucapnya dengan suara bergetar.

Grace yang semula tidak berani menatap Jo, kini mengalihkan pandangannya untuk menatap pria itu. Ia menelan ludah dan mengangguk mantap. Tidak sampai hati ia melakukannya, tetapi semua sudah terjadi. Kini yang bisa dilakukannya hanyalah memantapkan pilihan. 

"Iya. Jadi, aku harap kau tidak menggangguku lagi." Grace menjawab mantap dan pergi melewati Jo.

Jo memandangi kepergian Grace menuju ke sebuah mobil hitam yang terparkir di dekat tiang pancang. Pandangannya tidak beralih sedikit pun, dengan hati yang terluka ia melepas kepergian Grace yang kemudian hilang dari pandangannya saat memasuki mobil hitam milik Ray.

***

Pendar cahaya lampu menyoroti jalanan yang terkungkung kegelapan. Suara mesin menderu mengisi keheningan. Gedung tinggi itu kini gelap gulita, hanya lampu taman yang menyala remang-remang. Sebuah mobil sedan hitam berlalu melintasi gerbang menuju ke arah parkiran bawah tanah. Jarum jam terus berdetak perlahan, melintasi waktu yang kian berlalu. Ujung jarum jam tangan yang melingkar di lengannya sudah menunjukkan pukul sebelas malam. 

Waktu shift kerja sudah selesai sejak sore tadi, akan tetapi ia memutuskan untuk menunggu Grace yang tak kunjung kembali. Duduk di atas motor bututnya, menanti kepulangan gadis itu cukup membuatnya merasa pegal dan tak sabar. Akhirnya, setelah mengikuti urutan jadwal yang Nona Kim bocorkan, orang yang dinantinya pun datang.

Derap langkah kaki terdengar menggema di sepanjang lorong yang gelap. Grace memandang ke arah CCTV di setiap sudut lorong. Lampu merah terlihat menyala seperti kilatan mata hewan buas di dalam hutan. Selama perjalanan dari basement sampai ke ruangan pertemuan, Grace bertanya-tanya di dalam benaknya. Di mana monitor CCTV ini?

Ruangan yang semula gelap, langsung terang begitu lampu ruangan pertemuan itu menyala satu per satu. Grace meletakkan tasnya di atas meja dan menyusuri setiap sudut ruangan yang baru saja hari ini pertama kali ia jamah. 

"Kau menikmati suasana malam ini?" Ray berdiri di belakang Grace yang terpaku menghadap ke jendela besar yang menyuguhkan langit malam dengan bintang-bintang yang bertaburan di atas langit.

Jo membelalakkan matanya saat ia mengintip di balik celah tirai horizontal ruang kerja yang tertutup. Sejak kedatangan mereka berdua, Jo menyelinap masuk dan membuntuti mereka berdua. Ia penasaran dengan motif Grace berubah sikap dalam satu malam dan tentu saja penasaran dengan apa yang akan Ray lakukan malam ini dengan asisten pribadinya. 

Rupanya pemandangan itu benar-benar privasi yang seharusnya tidak ia invasi. Di ruangan yang sepi dan gelap itu, Ray bahkan berani menghimpit tubuh Grace hingga gadis itu bersandar pada meja tidak bisa kabur dari terkaman manusia buas yang haus akan belaian wanita. Napas Jo semakin berat bahkan rasanya seperti terhenti tepat di tenggorokannya. Pemandangan itu cukup menghancurkan hatinya, ia kini menyadari bahwa ia menaruh hati pada Grace yang kini sudah berbeda dari sebelumnya. Jo mendongak sambil menarik napas dalam, menahan air mata agar tak jatuh serta melegakan tenggorokannya yang terasa seperti tercekik realita.

Jo mengulurkan tangannya dan menggenggam gagang pintu. Ia terhenti sejenak, memikirkan ulang ucapan Grace di basement tempat parkir. Perlahan, genggaman tangannya melemas. Ia menatap kedua orang itu, semakin liar tanpa penolakan. Jo kini memahami motif perubahan sikap Grace ini. Semua ini terjadi karena ruangan pribadi Ray yang penuh misteri. 

Tidak ada yang bisa dilakukan Jo selain berdiri mematung sambil mengunyah isi hati yang telah mati. Ia mengepalkan kedua tangannya, sangat kencang hingga urat-urat di lengannya menyembul di bawah kulitnya. 

Dua kepala itu bergerak dengan arah yang berlawanan, saling memagut satu sama lain dengan gairah yang semakin memuncak. Bahkan salah satunya melepaskan jas rapi yang ia kenakan agar lebih leluasa. Beberapa saat, aktivitas keduanya terhenti. Mereka berbicara sejenak tetapi Jo sama sekali tak bisa mendengar mereka. Tak lama, pintu yang ada di sisi lainnya terbuka dan kedua orang itu memasuki ruangan itu. Mereka hilang dari pengawasan Jo. Geram, Jo pun menonjok tembok dengan kekuatan penuh, rupanya Grace hanya memanfaatkannya.

- B E R S A M B U N G-

Baca Reverse versi lengkap di sini: Reverse

Ditulis oleh: Michiko 美智子

21 September 2025

You're tired, aren't you?

9:26 PM 0 Comments
Satu... Dua... Tiga...
Langkah kaki tergesa-gesa mencari tempat sembunyi, terburu-buru meninggalkan seorang anak kecil yang menutup matanya sampai hitungan berakhir. Saat kedua matanya terbuka, semua orang menghilang. Tidak ada satu pun yang berada di sekitarnya. 

Kepala bergerak menoleh ke kanan dan ke kiri, mencari orang-orang yang bersamanya tadi. Dengan tawa kecil, ia berlari berusaha mencari keberadaan mereka. Si kecil itu mencari ke belakang pohon, ke samping rumah tetangga, ke belakang mobil yang terparkir di belakang, untuk menggantikan posisinya sebagai pencari.

Photo by Caleb Woods on Unsplash

Namun...
Saat aku membuka kedua mataku selepas menghitung sampai sepuluh, semua hal yang dulu pernah terjadi tidak semenyenangkan itu. Semua orang pergi dan aku benar-benar sendiri. Semua orang seolah bersembunyi. Saat aku mencari mereka, jangankan untuk menggantikan posisiku, menjadikan mereka sandaran seperti dahulu kala saja rasanya sudah sungkan. 

Pernahkah kamu ingat saat teman-temanmu berusaha menenangkanmu saat kamu sedang menangis karena terjatuh dari sepeda? Pernahkah kamu ingin keluar malam hari demi bermain dengan teman-temanmu dan melihat kembang api di malam hari dan berharap hari itu tak akan pernah berakhir? Pernahkah kamu tak pernah merasa lelah dan sangat amat bahagia saat kamu bermain dengan sahabat-sahabatmu? Pernahkah kamu dengan mantap menyebutkan cita-citamu yang hebat itu?

Apa yang terjadi sekarang?
Apakah teman-temanmu masih ada untuk menenangkanmu saat kamu menangis sendirian di kamarmu?
Apakah melihat kerlip bintang di langit cukup menenangkan perasaanmu yang kalut itu?
Apakah kamu masih merasakan semangat di setiap kamu membuka mata?
Apakah kamu masih berpegang teguh dengan angan-anganmu yang indah itu?
Apakah semua itu bisa kamu lewati dengan mudah?

Kamu mungkin pernah mengira cita-cita cukup diraih dengan kerja keras. Kamu mungkin pernah mengira apa yang kamu miliki tak akan pernah hilang dari genggamanmu. Kamu mungkin mengira jika kenyataan tak akan mendorongmu keras hingga jatuh dengan penuh luka... dan pada akhirnya kamu menyadari bahwa hidup ini bukanlah dongeng yang selalu kamu dengarkan sebelum tidur. 

Sekarang, apakah kamu merasa kecewa? 
Apakah kehidupan orang dewasa menyenangkan sama seperti apa yang kamu dambakan?
Apakah kamu masih tertawa tulus seperti kala itu?
Apakah kamu masih sekuat tenaga berjuang dan tetap bertahan?

Apakah kamu tidak lelah?

Inspired by:


Written by Michiko♡

21 Juni 2025

si Bocah Pemimpi yang Hilang

2:21 PM 1 Comments
Ke mana si bocah pemimpi itu?

Beberapa orang yang dulunya sering melihatku aktif menulis mungkin pernah bertanya seperti itu--begitu juga aku. Aku juga bertanya hal serupa. 

si Bocah Pemimpi yang Hilang
Ke mana ya aku yang dulu?
Ke mana ya aku yang idealis itu? 
Ke mana ya aku yang senang menuliskan ide-ide di kepala itu?
Ke mana semangatku untuk terus bermimpi?
Apakah ini memang sudah saatnya berhenti bermimpi?

Banyak pertanyaan-pertanyaan yang muncul di kepalaku, tapi tidak satu pun jawaban bisa aku temukan di dalam benakku maupun jiwaku. Aku kehilangan minat saat aku menulis. Aku kehilangan minat saat aku menggoreskan tinta di kertas. Semua yang aku lalui sepanjang hari hanyalah kehampaan dan rutinitas yang sehari-harinya tidak pernah berubah. Hanya sekadar aku gunakan untuk mengisi ruang kekosongan.

Aku masih hidup, tapi aku merasa tidak hidup.

Mungkin hanya kalimat itu yang bisa aku tuliskan saat ini. Sudah satu tahun aku tidak mengisi blog ini dengan tulisan-tulisan bermakna, atau sekadar berbagi pengalaman keseharianku saja. Sebab, sudah tiga tahun belakangan ini aku sedang terjebak dengan hal yang mengungkung isi kepalaku. Aku berlarut-larut berada dalam dekapan lautan nestapa, sehingga kepalaku tidak dapat berpikir dengan jernih.

Palung jiwaku yang hampa, hati sekeras batu karang yang terkikis ombak luka, perlu istirahat juga dari terpaan badai nestapa yang tiada akhir terus menerpa. 

Sampai jumpa.

Michiko ♡
Photo by Greg Rakozy on Unsplash

5 Juni 2024

Deep Talk Series: 3 Alasan di Balik Senyumku Hari ini

8:42 PM 0 Comments
Kekosongan yang telah aku rasakan ini ingin segera aku bunuh. Maka, aku bertanya kepada aplikasi AI untuk memberiku inspirasi agar aku bisa mengisi kekosongan ini. Kemudian, dia memberikanku sebuah pertanyaan:

3 Hal Apa yang Membuatmu Tersenyum Hari Ini? Sekecil apa pun itu, katakanlah!

Akhirnya, aku terpikirkan akan hal-hal yang membuatku tersenyum hari ini. Aku sempat berpikir lama, memikirkan lebih dalam apakah alasan ini sebenarnya adalah alasanku tersenyum atau memang senyumku hari ini adalah senyuman palsu belaka? Tetapi, akhirnya aku menemukan jawabannya. 
Deep Talk Series: 3 Alasan di Balik Senyumku Hari ini

1. Botol Tumblr: Rahasia di Balik Senyuman Pertamaku

"Selamat pagi!" sapaku pada setiap orang yang ada di kantor. Siapa pun ia, pasti akan aku sapa dengan senyumanku―entah itu hanya senyuman palsu belaka atau memang senyuman yang benar-benar tulus dari hati sebab aku sudah tidak tahu cara membedakannya. 

Seperti biasa, pagi hariku selalu dimulai dengan berbincang-bincang bersama rekan kerjaku. Entah apa yang kami bicarakan, entah itu soal pekerjaan ataupun hal-hal sepele yang kami lakukan belakangan. Mungkin kedengarannya sederhana, tapi aku merasa senang bisa bercakap-cakap dengan mereka. 

Tibalah seorang rekan kerjaku sambil membawa tas hijau berisi sebuah kotak. Dia memberikannya kepadaku―ulang tahunku memang sudah berlalu beberapa waktu yang lalu. Di tas itu tertulis, "Kopi Asli". Aku kira isinya adalah kopi, sebab aku memang suka meminum kopi. Namun, rupanya di dalam tas jinjing itu terdapat sebuah kotak dengan gambar botol tumblr berwarna biru. 

Saat aku membukanya, aku terkejut. Sebab, ini adalah barang yang aku butuhkan. Beberapa hari yang lalu, aku sempat ingin membeli botol tumblr karena botolku yang lama terjatuh dan pecah tetapi aku mengurungkannya karena mempertimbangkan pengeluaran uang bulan ini. Akan tetapi, ternyata ada rekanku yang memberikan botol minum sebagai sebuah hadiah. 

Aku merasa senang dan terharu. Ternyata, ada juga orang yang mengingat tentang diriku dan mengingat keberadaanku. Beberapa waktu lalu pun, sehari setelah aku ulang tahun, aku menerima hadiah berupa gantungan kunci dengan boneka kucing yang lucu. Aku memang sangat menyukai―bahkan mencintai―kucing. Hal-hal kecil yang orang lain ingat tentang diriku membuat aku merasa hidup. Kekosongan yang selama ini aku rasakan, seketika terasa penuh dengan rasa riang yang membuncah. 

Itu lah senyuman pertamaku pada hari ini. 

Jika kamu penasaran tentang kekosongan yang aku maksud dalam tulisan ini, aku sudah menulis sebuah postingan mendalam tentang hal tersebut. Baca lebih lanjut di postinganku ini: [Klik di sini]

2. Mencintai Pekerjaan: Kunci Tersenyum dengan Setulus Hati

Beberapa dari kita mungkin ada yang membenci pekerjaannya atau justru sebaliknya. Aku merupakan orang yang mencintai pekerjaanku. Walaupun begitu, ada kalanya aku juga muak dengan pekerjaan yang aku lakukan, entah karena bosan atau lelah. Namun, aku menemukan fakta bahwa: 
Ketika kita mengerjakan hal yang kita cintai, kita bisa tersenyum dengan setulus hati. 
Aku merupakan seorang guru privat, pekerjaanku tentu saja mengajar dan memandu orang-orang yang semula tidak tahu apa-apa menjadi paham dengan apa yang mereka ingin pelajari. Hal itu mudah untuk dilakukan? Tidak selalu. Terkadang, aku bisa bertemu dengan seseorang yang sangat pintar dan memiliki daya tangkap yang cepat. Terkadang, aku juga bertemu dengan orang yang membutuhkan waktu dalam proses belajar tetapi memiliki tekad yang kuat untuk belajar. Terkadang, aku juga bertemu dengan orang yang hanya hadir mengisi presensi tanpa niat belajar sama sekali. 

Tapi kalian tahu? Anehnya, aku tetap ingin menjadi seorang guru. Aku mencintai pekerjaanku. 

Pagi itu, hariku diawali dengan membahas soal-soal latihan untuk persiapan ujian mendatang. Ketika dia kebingungan, aku merasa amat sangat dibutuhkan. Sebagai seorang guru, aku perlu menjelaskan hal yang membuatnya bingung dengan detail sampai ia bisa memahami soal tersebut tanpa masalah. 

Berulang kali aku harus menjelaskannya, ketika dia tidak bisa memahaminya, ada sedikit rasa jengkel yang muncul tetapi juga semangat yang semakin menggelora pun muncul. Perasaan yang aneh. Sebab, perasaan jengkelku timbul bersamaan dengan perasaan senang karena amat dibutuhkan oleh orang lain. Di saat itu lah, aku merasa... oh, aku bermanfaat untuk orang lain. 

Lucunya, walaupun aku merasa jengkel ketika mengajar karena banyak kesalahan yang dilakukan dan aku harus mengoreksinya berulang kali sebab ia melakukan kesalahan yang sama, hal itu sama sekali nggak membuatku mengeluarkan kata umpatan. Justru sebaliknya, aku tersenyum sambil menarik napas.

Itu lah alasan kedua yang membuatku tersenyum hari ini. Alasannya sedikit terdengar aneh, tapi pada nyatanya aku memang tersenyum karena hal itu. 

3. Menyebarkan Tawa Meski Menjadi Bahan Candaan

Bercanda memang sudah menjadi budaya hidup di area perkantoran kami. Ada hal yang aneh sedikit, kami buat bahan bercandaan. Seringkali kami punya inside jokes yang bahkan mungkin hanya dipahami oleh orang-orang tertentu saja. Sebab, apa yang kami lihat akan menjadi bahan guyonan.

Hari ini, aku menjadi salah satu bahan candaan beberapa orang di kantorku. Aku bukan orang yang serius menanggapi candaan orang lain, kecuali jika itu menginjak harga diriku. 

Empat orang perempuan yang duduk di seberangku mencoba untuk membuat rumor asmara tentang diriku. Apa aku kelihatan se-hopeless romantic itu ya? Hiks. Mereka saling berbisik, merencanakan hal-hal yang aku bahkan tidak tahu apa yang mereka bicarakan tentangku. Mereka hanya melirik ke arahku dan seorang laki-laki yang berada di dekatku. Hal itu membuatku penasaran, tapi aku tahu apa yang mereka bicarakan adalah tentang aku. Sebab, sebelumnya seseorang di antara para perempuan itu sudah menyenggolku sambil bilang, "cieeee."

Aku bahkan tidak tahu maksudnya apa, tapi itu membuatku malu tanpa alasan. Aku memperhatikan mereka yang berbisik sambil tertawa geli dengan rencana mereka sendiri. Entahlah. Aku juga tak tahu harus menyangkal bagaimana lagi, aku hanya bisa tersenyum sambil mendengar tawa mereka. 

Aneh, bukan? Aku nggak marah sama sekali. Aku hanya tersenyum melihat senyuman orang lain. Dan rupanya, aku kembali menyadari bahwa:
Kebahagiaan bukan hanya milikku sendiri tetapi milik bersama.

Terima kasih banyak, kamu sudah membaca ceritaku hari ini. Kini, giliran aku yang membaca ceritamu. Apa yang membuatmu tersenyum hari ini? Sekecil apa pun itu, katakanlah! Aku tunggu kisahmu.

Kalau kamu bingung ingin bercerita tentang apa yang membuatmu tersenyum hari ini, mungkin postingan ini bisa memberikan inspirasi. Temukan jawabannya [di sini]

Michiko ♡ 

3 Juni 2024

Kosong

11:01 PM 0 Comments
Sudah lama aku nggak muncul di blog ini. Entah apa alasannya, hanya saja aku merasa nggak ada yang perlu aku bagikan ke dunia. Semakin lama, aku merasa aku semakin nggak peka dengan keadaan di sekitarkuーjangankan dengan keadaan sekitar, justru peduli dengan keadaan diri sendiri pun nggak.

Mungkin, beberapa orang yang sering mengunjungi blog ini bertanya-tanya, ke mana orang yang hadir di balik kumpulan tulisan-tulisan ini? Sedang apa dia sekarang? Apa yang sedang dia pikirkan? Tulisan apa yang sedang ia siapkan? Itu pun kalau ada yang ingin tahu tentang keadaanku.

Sejujurnya, nggak ada yang aku siapkan. Nggak ada pula yang aku lakukan selama aku hiatus menulis tulisan untuk blog ini.

Kosong
Aku kebanyakan menjalani rutinitasku sendiri. Berusaha mengalihkan pikiranku dan mengabaikan sekitarku―khususnya isi kepalaku yang seringkali terasa penuh dengan hal yang bahkan aku pun nggak tahu apa isinya, aku pun bahkan nggak bisa membuat isi kepalaku diam dan tenang sedetik pun. Aku hanya melakukan pekerjaanku sesuai dengan hal yang perlu aku lakukan, menonton film, dan mendengarkan musik. Setidaknya kesibukan itu sedikit membuatku teralihkan.

Apakah aku akan kembali menulis?

Entahlah. Aku merasa sekarang aku nggak pernah lagi mengamati sekitarku. Nggak banyak hal yang bisa aku amati untuk aku ambil hikmahnya lagi. Aku sekarang sedang berada di fase apatis, hanya memikirkan tentang diriku sendiri. Mungkin aku akan menulis lagi tapi bukan untuk membagikan hal yang bermanfaat untuk orang lain lagi. 
Aku akan menulis apa pun yang terlintas di dalam pikiranku, perasaanku, pengalamanku, harapan-harapanku, mungkin imajinasiku. Belakangan ini, aku banyak menonton banyak drama Korea. Aku mengamati bagaimana cara mereka mendeskripsikan perasaan mereka. Entah perasaan mereka ketika jatuh cinta, bahagia, sedih, marah, maupun saat mereka merasa sedang kosong sebagaimana yang aku rasakan saat ini. Aku tahu, drama itu hanyalah script yang sudah direncanakan, tapi bukankah tulisan itu diangkat berdasarkan cara orang-orang mengekspresikan diri mereka di dunia nyata?

Sudah hampir dua tahun, aku nggak merasakan emosi apa pun. Terkadang aku merasa senang yang teramat senang sampai aku pun nggak tahu hal apa yang membuatku senang. Aku bisa bernyanyi setiap kali aku sendiri, orang-orang selalu mengira aku bahagia atau ada hal yang membuatku senang. Akan tetapi, sejujurnya perasaan itu bukanlah hal yang aku rasakan sebenarnya. Aku merasa hanya berpura-pura, aku bahkan nggak bisa menyebutkan alasan kenapa aku senang. Aku juga merasa kalau perasaan senang itu aku buat-buat hanya agar orang-orang di sekitarku nggak khawatir tentangku atau mungkin menjauhiku saat aku terlihat sedih atau terpuruk. 

Namun, di balik perasaan senang itu, aku merasa ada sesuatu yang mengganjal di hatiku. Entah apa yang membuatku sedih, tetapi setiap kali aku melihat scene film, video, mendengarkan lagu, terkadang aku ingin menangis walaupun itu bukan lagu sedih. Aku merasa tertekan, tetapi aku sendiri tak tahu apa yang menekanku. Dan setiap aku berusaha mengenali perasaan sedih itu, alih-alih menangis justru aku selalu merasa mual dan ingin muntah. 

Sekarang, yang aku rasakan adalah perasaan kosong. Aku bisa tertawa di depan orang lain, aku bisa menangis ketika sendirian. Aku merasa tidak memiliki perasaan yang sesungguhnya sebab yang aku lakukan semuanya terasa hanya tipuan dan diriku yang sebenarnya adalah kekosongan. 

Mungkin, kurang lebih itulah yang aku rasakan. Sekarang aku hidup dalam genre dramaku sendiri. Aku ingin belajar untuk mengungkapkan dan mendeskripsikan apa yang aku rasakan lagi sehingga diriku yang terasa kosong ini perlahan-lahan mulai bisa kuisi penuh lagi dengan perasaan dan emosi.

Kira-kira apakah ada yang salah dengan diriku ini? Atau semua ini memang normal dirasakan oleh semua manusia?

Michiko ♡

25 Juli 2023

Menanti Chapter Selanjutnya

2:01 PM 0 Comments
"Bagaimana harimu?" sapa dia dengan ramah. 

Setiap hari dia selalu saja menyapaku dengan senyumannya yang manis. Mata yang menyipit dan lesung pipitnya cukup menggodaku. Siapa yang nggak tergoda dengan senyuman seorang pria berambut ikal dengan pipi chubby yang menggemaskan? Bukan cuma aku yang tergoda, semua gadis suka padanya karena sikap ramahnya. 

Tapi pernah nggak sih kamu terkecoh dengan sikap ramah seseorang? Astaga, aku sampai berkali-kali merasakan kupu-kupu berterbangan di perutku setiap kali dia bersikap ramah terhadapku—termasuk sapaannya sore hari ini. Setelah melewati hari yang panjang nan sibuk, akhirnya dia menyapaku. Oh ya, tentu sambil membukakan pintu kaca yang baru saja mau aku dorong. Tuhan, cobaan apa lagi ini? Pria ramah dengan acts of service?! Cobaan yang keterlaluan.

Ini bukan pertama kalinya dia melakukan ini kepadaku tetapi entah kenapa ini membuat aku gila. Nggak ada cobaan yang lebih parah lagi, nih? 

"Melelahkan," ucapku. Tapi cukup menyenangkan setelah melihatmu. Aku tersenyum. 

"Kerja bagus. You did well! Istirahat yang cukup!" Dia memujiku sambil mengepalkan tangannya untuk tos tinju denganku. 

Aku membalas kepalan tinjunya. Wajahku terasa memanas saat mendengarnya, seperti keluar api dari pori-pori wajahku dan aku ingin berteriak, aku suka sama kamu! Kamu paham nggak sih? Aku tuh nggak bisa diginiin! 

Iya, sudah tiga bulan aku mengenalnya. Dia sosok orang yang baik dan ramah. Aku menyukainya, sangat menyukainya. Entah aku suka sikapnya, atau aku suka orangnya. Yang jelas, aku suka dia. Terkadang, aku sengaja menghampirinya supaya lebih dekat dengan dia. Aku sengaja duduk di tempat yang bisa membuatku menatapnya tanpa diketahui olehnya. Bahkan mencoba berinteraksi dan membuka obrolan dengannya. 

Berbulan-bulan aku berdiam diri. Bergerilya mengagumi seseorang yang entah apakah bisa aku miliki. Masalahnya di sini, aku menyukai orang yang ramah. Itu sama saja seperti aku seorang fans yang mengidolakan seorang artis. Bisa kamu bayangkan, kan? Bagaimana aku di mata dia? Aku banyak mengingat hal tentang dia, dari hal apa yang dia suka sampai hal-hal kecil tentang dia. Akan tetapi sebaliknya, aku di matanya hanyalah seorang relasi yang perlu disapa, tidak tahu asal-usul keberadaanku bahkan mungkin tidak ingat kalau aku ada. 

Semakin hari, semakin gemar aku mencari tahu tentang dia. Semakin subur pula tunas-tunas dari benih cinta yang kutanam dalam hati itu tumbuh. Tak sabar ingin kupupuk hingga berbuah. Rasa sukaku kini terasa semakin dalam. Setiap malam aku membayangkan bisa bersama dengan dirinya. Bisa memilikinya suatu hari nanti. Bisa tertawa bersamanya sambil menggenggam tangannya. Berhalusinasi itu asik, bukan? Memang.

Pada akhirnya, suatu hari dia menyadari keberadaan aku. Malam hari, ketika aku sedang berjalan kaki, dia menghampiriku dengan sepeda motornya dan menawarkan tumpangan. Awalnya, aku berpikir, haruskah aku berpura-pura untuk menolaknya sedangkan ini adalah kesempatanku untuk dekat dengannya? Nggak, aku nggak mau kehilangan kesempatan itu. Maka dari itu, aku pun mengiyakan ajakannya. Itu lah pertama kalinya aku berboncengan dengan dia. Tahu nggak sih, rasanya tuh senang banget bisa berboncengan dengan orang yang aku suka. Ingin aku rengkuh pinggangnya, tapi aku siapa? Bukan siapa-siapa. 

Sesampainya di rumah, aku nggak bisa menahan rasa berbunga-bunga itu. Aku melompat dengan girang ke tempat tidurku dan membenamkan wajahku di bantal seolah aku membenamkan diriku ke dalam pelukannya. Boncengan pertamaku! 

Semenjak boncengan pertama itu, aku semakin dekat dengan dia. Kami sering jalan bersama-sama, mengobrol tentang apa pun, bercanda ria, dan saling meledek. Satu hal yang membuatku semakin salah tingkah karena sikapnya yang ramah itu adalah dia memanggilku dengan sebutan khusus. Bocil. Alasannya, karena perilakuku seperti anak kecil tanpa kusadari di hadapannya sehingga nama itu muncul sebagai julukanku. 

"Cil, mau beli makan malam bareng, nggak?"
"Cil, mau nebeng, nggak?
"Cil, mau dibantuin, nggak?"

Cal. Cil. Cal. Cil. Enak banget dia manggil aku kayak gitu padahal hatiku sudah bergetar setiap kali dia memanggil aku dengan panggilan khusus itu. Dia membuat aku berharap semakin tinggi. Namun, aku selalu bingung dengan sikapnya yang ramah itu. Dia membuatku bingung dan penasaran. Siapa orang yang dia suka? Apakah dia suka aku? Kenapa dia sebaik itu kepadaku? Kenapa dia nggak mengerti sih kalau aku di sini kebingungan dengan sikapnya?

Sepanjang malam, aku nggak bisa tidur karenanya. Aku memikirkan, siapa orang yang dia suka? Aku nggak mau sembarangan menduga-duga tentang dia yang ramah tapi misterius itu. Kadang dia membicarakan perempuan lain juga. Kadang dia baik dengan perempuan lain juga. Sempat aku berpikir, sebenarnya dia itu bersikap ramah atau memang sengaja membuat semua gadis jatuh hati sama dia sih?

Aku bercerita pada teman-temanku. Apa yang harus aku lakukan dalam menghadapi situasi membingungkan ini? Aku yang terus kepikiran tentang dia, membuat aku selalu nggak fokus dalam mengerjakan suatu hal. Beberapa temanku ada yang menyarankan agar aku suka dalam diam saja, supaya nggak canggung. Tapi ada beberapa temanku juga yang menyarankan untuk mengungkapkannya supaya lega. 

Aku berpikir beberapa hari tentang hal itu. Ungkapkan jangan, ya? Aku kebingungan. Namun, karena siatuasi ini cukup mengganggu, akhirnya aku memutuskan untuk menghubungi dia lewat chat. Aku nggak seberani itu untuk bertatapan langsung dengannya. Nyaliku kurang besar. 

"I have crush on you

Intinya, itu yang aku bicarakan saat aku mengirim pesan panjang lebar demi mengubur gengsi dan rasa malu yang berkecamuk dalam dada. Wajahku terasa memanas, aku tenggelamkan wajahku di bantal sambil menunggu jawaban darinya. Aku nggak berharap dia balik suka aku sih, eh ada deh sedikit. Aku tunggu beberapa menit sampai hampir setengah jam setelah pesanku dibaca olehnya. DIA NGGAK BALAS PESAN AKU.

Aku melemparkan ponselku. Merasa kecewa karena aku harus memendam rasa penasaran akan jawaban dia terhadap ungkapan perasaanku yang baru saja aku kirimkan. Namun, beberapa saat kemudian dia membalas. 

"Terima kasih kamu sudah membuat aku merasa dicintai. Tapi sekarang, aku nggak fokus dengan hal itu. Aku harap kamu mengerti," jawabnya. "Kamu nggak marah, kan?"

Marah? Buat apa aku marah terhadap perasaan seseorang yang nggak bisa membalas perasaanku? Sedikit kecewa mungkin iya, tapi aku nggak berharap setinggi itu dari awal karena tujuanku untuk mengungkapkan perasaan ini hanya supaya aku merasa lega dan nggak lagi terbayang-bayang dengan hal-hal yang ingin aku ketahui tentang dia. Yang jelas, dia nggak suka sama aku. Aku sudah dapat jawabannya, walaupun hatiku masih sedikit mengharapkannya. Kamu juga pasti tahu rasanya kan, jatuh cinta itu ada prosesnya begitu pula berhenti menyukai seseorang, itu juga butuh proses. 

Setelah insiden pernyataan perasaan itu, aku dan dia terasa semakin berjarak. Aku mencoba biasa saja terhadap dia, tapi entah kenapa justru dia yang terasa semakin bersikap dingin terhadapku. Apa mungkin dia takut kalau aku salah paham lagi akan sikapnya? 

Rupanya, rasa lega itu nggak aku dapatkan. Justru yang aku dapatkan hanyalah penyesalah, seandainya aku nggak mengungkapkan apa yang aku rasakan terhadap dia saat itu mungkin akhir cerita kita nggak akan seperti ini. Aku nggak akan menjadi asing dengan dia. Panggilan Bocil yang sering dia sematkan untuk memanggilku pun jarang kudengar. Sekarang, dia lebih sering menghindariku ketimbang menyapaku terlebih dahulu. Padahal aku berusaha untuk menyapanya lho, tapi kenapa sikap dia berubah begitu ya?

Hari demi hari berlalu. Beberapa bulan kemudian, aku masih dengan rasa yang sama, masih di tempat yang sama menanti dia, mendapati dia sudah memiliki seorang pujaan hati. Hatiku teriris perih. Kukira aku bisa memperbaiki semuanya. Kukira aku bisa kembali lagi seperti sedia kala. Ternyata, aku telah menghancurkannya. 

Langkahku harus terhenti di sini, hanya sampai di sini aku bisa mengagumi. Selamat tinggal, aku akan terus berjalan menyambut chapter selanjutnya. 


Michiko 

Photo by Ivan Jevtic on Unsplash


16 Juli 2023

Kebiasaan Orang Kaya

2:58 PM 0 Comments
Aku bekerja di sebuah perusahaan swasta bidang pendidikan, yang mana merupakan tempat les. Tempat les ini harganya tidak murah, mahal—menurut orang tidak berduit seperti aku. Bahkan biaya per bulannya pun bisa sama dengan gajiku per bulan. Wow. Anak-anak yang belajar di sini pun bukan main-main, orang tua mereka punya income yang cukup—bahkan sangatlah besar. Sampai-sampai ingin ku bisikkan kepada mereka, "Pak, kerjanya apa? Spill dong, Bestie!"


Kebiasaan Orang Kaya

Satu hal yang aku tahu tentang anak-anak orang kaya ini adalah mereka anak-anak yang sibuk. Anak-anak yang tidak punya waktu luang untuk sekadar rebahan dan leha-leha di kamarnya sambil bermain handphone. Jadwal kosongnya selalu mereka pakai untuk les ini dan itu. Mereka nggak pernah membiarkan waktu mereka kosong. Justru mereka memanfaatkan waktunya untuk berinvestasi dengan dirinya sendiri. Entah itu menambah skill atau melakukan hal-hal seperti berolahraga, mengerjakan hobi, dan sebagainya. Yang jelas, nggak ada kata rebahan berjam-jam di dalam kamus mereka.

Walaupun kelihatannya melelahkan karena setelah melakukan rutinitas, mereka harus menambah waktu untuk melakukan pekerjaan tambahan juga, bagiku hal itu justru menakjubkan dan ingin aku tiru. Bayangkan saja, kalau aku punya dua jam waktu luang dan aku menginvestasikannya dengan membuat karya misalnya, mungkin aku sudah mempublikasikan banyak tulisan ke blog ini setiap harinya. Alih-alih dua jam waktu luangku dihabiskan untuk rebahan sambil bermain sosial media yang bahkan tidak banyak hal yang bisa aku dapatkan dari sana.

Ingat, guys! Waktu itu berharga! Baca juga: Time Management

Sekarang, aku jadi berpikir... apa aku masih berada di titik ini tanpa perkembangan karena aku belum siap menjadi orang kaya, ya? Aku belum siap merelakan waktu untuk tidak rebahan. Aku belum siap meninggalkan kebiasaan bermain sosial media sampai lupa waktu. Aku belum siap meninggalkan kebiasaanku menongkrong sampai berjam-jam. Mungkin hal ini yang membuat aku masih belum bisa menjadi orang kaya.

Namun, kaya atau berkecukupan itu merupakan rezeki masing-masing manusia. Yang jelas, kini aku bisa mendapatkan perspektif kehidupan baru dari orang-orang kaya yang ada di lingkunganku dan bisa aku coba terapkan ke dalam kehidupanku. Barangkali, setelah menerapkannya aku bisa jadi orang kaya. Siapa yang tahu, kan? Aamiin!

Tapi kebahagiaan bukan hanya soal uang ya, guys! Kita juga bisa bahagia dari hal-hal yang sederhana kok. Baca juga: Bahagia dari Hal Kecil

Semoga rejeki kita selalu dilancarkan oleh Tuhan Yang Maha Pengasih. See you later!

Have a nice day


Michiko ♡

20 Juni 2023

Senyum Mentari Lebih Redup daripada Rembulan

8:33 PM 0 Comments
Hampir setengah tahun berlalu dan aku baru muncul ke permukaan, menunjukkan batang hidungku setelah sekian purnama berlalu. Ke mana kah diriku yang dulu? Si penulis yang gemar berbagi sudut pandang kehidupan dari pengamatannya. Si penulis yang gemar menyemangati dirinya sendiri dan orang lain melalui tulisan-tulisannya.

Oh, rupanya dia sedang sibuk bersembunyi dari khalayak keramaian, menarik dirinya sendiri dari pergaulan demi memperbaiki keadaan dirinya sendiri. Sendirian mengobati luka yang menganga lebar. Senyumannya yang pernah bersinar bak mentari kini lebih redup daripada rembulan. Dunia telah mengubah sosok diriku.


Delapan bulan berjalan, aku mengonsumsi obat-obatan yang membantuku untuk tetap bertahan di dunia. Mereka bilang aku tidak bersyukur atas kehidupanku. Mereka bilang aku terlalu tamak. Namun, bukan itu yang kumaksud ketika aku ingin mengakhiri semua. Justru luka yang terasa sakit ini semakin dalam dari hari ke hari, membuatku tidak mampu bertahan semakin lama lagi. Semakin lama ditahan, semakin perih pula rasa sakitnya. Mereka tidak akan pernah mengerti rasa sakitnya sampai mereka sendiri yang mengalaminya. 

1 Januari 2023

Laporan Pertanggungjawaban Tahunan

12:00 AM 0 Comments
Hai! Kita ketemu lagi di penghujung tahun dalam artikel pertanggungjawaban resolusi tahun lalu. Aku baru menyadari, ternyata kalau resolusi kita banyak itu bisa bikin kita termotivasi untuk mewujudkannya. Btw, happy new year! Ternyata kita sudah melewati tahun 2022 ini dan segera menyambut tahun baru 2023. Semoga tahun 2023 akan menjadi tahun yang jauh lebih baik dan penuh dengan berkat untuk kita semua.

Ayo kita mulai rutinitas tahunan yaitu dengan mengevaluasi pertanggungjawaban tahun 2022 dan merancang target untuk tahun 2023.

Laporan Pertanggungjawaban Tahunan

Apakah resolusi tahun 2022 tercapai?

Jawabannya, nggak semua. Resolusi tahun 2022 ada delapan, aku berhasil mencapai empat. Ada dua target yang masih berada di waiting list dan sisanya belum tercapai.

1. Baca berbagai genre buku
Tahun ini, aku belum membaca tuntas satu pun buku karena waktuku lumayan padat dan ada malesnya sedikit sih. Berbagai genre buku yang aku baca meliputi buku-buku pengembangan diri dan novel. Aku banyak belajar dan menerapkan tips-tips yang aku baca lewat buku ke dalam kehidupan sehari-hari dan itu cukup membantu aku untuk berkembang. Jadi, aku anggap resolusi ini tercapai.

2. Punya sertifikat N2
Jujur, tahun ini aku sudah mengikuti ujian sertifikasi N2 sebanyak dua kali. Untuk percobaan pertama, aku dinyatakan tidak lulus karena nilai yang aku dapatkan di bawah batas minimal. Pada awal desember 2022, aku kembali mengikuti ujian sertifikasi N2 lagi dan aku masih menunggu hasilnya. Jadi, resolusi yang satu ini aku masukkan ke dalam kategori waiting list. Semoga ujian sertifikasi yang kedua ini aku bisa lulus. Aamiin!

3. Bikin buku
Aku merasa kalau buku dan tulisan yang panjang ini bukanlah bagian dari jalan hidupku. Mungkin karena dasarnya malas banget kali ya, jadi nggak bisa komitmen buat bikin tulisan panjang. Nggak tahu kenapa, sejak dulu aku selalu pengen buat buku dan menerbitkannya. Akan tetapi, hal itu selalu saja tertunda. Jadi, untuk resolusi yang satu ini, aku anggap gagal untuk mewujudkannya.

4. Rutin olahraga
Umm… sudah pasti gagal, aku nggak bisa komitmen untuk resolusi yang satu ini. Aku nggak sesuka itu dengan olahraga. Akan tetapi, ada satu hal yang bisa aku anggap sebagai olahraga, yaitu jalan kaki dan naik turun tangga di kantor setiap hari. Nggak disangka, itu bikin berat badan aku turun sepuluh kilogram dalam setahun. Wow.

5. Konsisten dalam melakukan suatu hal
Sepanjang 2022, aku konsisten melakukan hal yang aku suka seperti bernyanyi, menulis, dan produktif bekerja. Aku menganggap untuk konsisten dalam melakukan suatu hal ini ke waiting list karena aku terlalu gampang bosan untuk terfokus dalam satu hal aja.

6. Selalu merasa bahagia dan ikhlas dalam menjalani segala hal
Ada banyak banget ujian yang datang di tahun 2022 dan benar saja aku belajar tentang keikhlasan di tahun ini. Namun, aku yakin Tuhan selalu menjadi kekuatan bagiku dan aku bisa melewati semuanya dengan baik. Tuhan juga Maha Baik, dia mengirimkanku kebahagiaan yang tak ternilai sebagai balasan dari keikhlasan itu. Aku anggap resolusi yang satu ini tercapai.

7. Bangun hubungan baik dengan orang lain
Semenjak bekerja, aku banyak ketemu dengan berbagai jenis manusia serta karakteristiknya masing-masing. Dari sana lah, aku membuka mataku tentang dunia dan mulai menjalin relasi dengan orang-orang dari berbagai macam latar belakang dan sifat yang berbeda-beda. Aku anggap resolusi ini berjalan dengan baik.

8. Punya penghasilan dan tabungan yang stabil
Alhamdulillah. Puji syukur aku panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Pemurah, tahun ini aku bisa punya penghasilan yang stabil dan bisa menyisihkan sebagian uangku untuk menabung serta membantu kebutuhan keluarga.

Rintangan dan Kegagalan pada Tahun 2022

Menurutku, tahun 2022 semakin terasa sulit bagiku. Sebab, aku banyak menerima ujian yang membuat aku belajar tentang keikhlasan, di antaranya:

1. Bunda jatuh sakit
Beberapa bulan setelah mendapatkan pekerjaan, aku mendapatkan kabar kalau Bunda jatuh sakit. Rasanya campur aduk antara sedih, marah, menyesal, dan putus asa. Dilema berada di depan mata. Terutama aku yang berperan sebagai anak pertama, aku merasa duniaku runtuh dan menimpa kepalaku. Namun, Tuhan memang selalu memberikan jalan di setiap cobaan yang datang dan aku pun mengikhlaskan kejadian ini serta mengembalikannya kembali kepada Tuhan.

2. Kehilangan support system
Aku merasa banyak kehilangan support system di tahun ini, dari mulai jauh dari keluarga, putus cinta, kehilangan kucing kesayangan, serta teman-teman semakin berkurang. Adikku yang sekarang kuliah merantau pun membuat aku merasa sepi setiap aku pulang ke rumah. Aku selalu bingung apa yang harus aku lakukan saat aku pulang ke rumah dan sendirian di rumah. Aku merasa kesepian karena biasanya Ayah sibuk bekerja dan Bunda juga sedang sakit.

Tahun ini juga hubungan percintaan resmi kandas dengan alasan kita yang sudah saling nggak bisa memahami satu sama lain lagi. Lima tahun kebersamaan itu cukup membuat aku merasa kehilangan sahabat baik yang setia dalam satu malam. Tentu saja, aku butuh waktu satu bulan untuk menerima keadaan itu.

Kucingku, Opet, dia juga mengalami hal-hal yang nggak baik di tahun ini. Mulai dari sakit, kelindes ban mobil, sampai hilang entah ke mana. Keadaannya memprihatinkan, walaupun dia hidup aku justru merasa kasihan karena setiap dia berdiri nafasnya selalu saja tersengal. Tahun ini aku banyak mengalami kehilangan. Dari sini pula, aku harus belajar mengenai keikhlasan.

Satu-satunya yang bisa menyemangatiku saat ini adalah diriku sendiri.

3. Keadaan mental yang sangat amat tidak stabil
Semua kejadian yang terjadi di tahun 2022 membuat aku mengorek luka lama dan berputar-putar dalam penderitaan. Oleh karena itu, sebelum aku melangkah lebih jauh untuk menyakiti diri sendiri, aku memutuskan untuk memeriksakan diri. Kemudian, aku pun mendapat diagnosa keadaan mental yang sedang sakit dan sekarang sedang menjalani pengobatan rawat jalan.

Pencapaian Tak Terduga pada Tahun 2022

Dari semua kesulitan yang dihadapi pada tahun 2022, aku pun mendapatkan berkat untuk bisa mencapai beberapa hal yang nggak terduga di luar resolusi tahun 2022. Pencapaian itu berupa:

1. Jauh lebih mencintai diri sendiri
Aku semakin menyayangi diriku sendiri. Rasa insecure berkurang karena aku yakin bahwa aku pantas untuk mendapatkan hal yang jauh lebih baik dari sebelumnya. Aku merasa bahwa jika tidak ada yang bisa mencintaiku, maka aku lah yang akan mencintai diriku sendiri. Aku pun lebih rajin memberikan afirmasi positif kepada diriku sendiri, lebih banyak bersyukur kepada Tuhan, serta lebih banyak waktu untuk mengurus diri dan mengembangkan kemampuan diriku sendiri.

2. Lingkaran pertemanan yang suportif
Aku bersyukur juga dipertemukan dengan orang-orang baik dan ditempatkan di lingkungan yang sangat suportif. Mereka yang mendukungku untuk lebih percaya diri atas kemampuan yang aku miliki. Mereka juga dengan senang hati membantu dan memberikan telinganya untuk mendengarkan keluh kesahku serta bersedia untuk memberikan saran kepadaku.

3. Aku bisa membeli benda yang aku mau dengan uangku sendiri
Pada tahun 2022 aku punya beberapa wishlist benda yang ingin aku beli sebelum tahun ini berakhir. Pada akhirnya, setelah menabung selama setahun, aku bisa membeli barang yang aku inginkan. Aku harap dengan benda yang aku beli ini, aku bisa lebih produktif untuk melakukan hobiku lagi dan mengembangkan kemampuan diriku agar lebih berkembang pesat.

Evaluasi Diri

Setelah melalui pahit dan manisnya tahun 2021, ada beberapa hal yang aku pelajari:
  • Semua ujian hidup ini datangnya dari Tuhan dan akan kembali juga kepada Tuhan.
  • Apa yang hilang, akan tergantikan dengan hal yang jauh lebih baik dari sebelumnya.
  • Kebahagiaan datangnya dari rasa syukur, semakin kita bersyukur maka kebahagiaan itu semakin bertambah sedangkan semakin banyak kita mengeluh maka hal yang kita keluhkan itu akan terus datang dalam kehidupan kita.
  • Sebelum mencintai orang lain, hal yang paling penting dilakukan adalah mencintai diri sendiri. Ketahui apa yang diri sendiri butuhkan dan wujudkan apa yang diri sendiri inginkan.
  • Pekalah terhadap lingkungan sekitar kita, sebab terkadang ada beberapa orang yang menyimpan masalahnya sendiri dan berjuang sendiri untuk menyelesaikan masalahnya padahal dia sangat membutuhkan dukungan dari orang-orang terdekatnya.

Selain pelajaran yang bisa aku ambil, ada juga hal-hal yang aku perlu perbaiki:
  • Aku perlu mengurangi waktu untuk bermalas-malasan dan menunda pekerjaan.
  • Aku perlu lebih banyak mendengarkan dan berlatih untuk memberikan respon yang baik kepada orang lain agar komunikasi berjalan dengan lancar.
  • Aku juga perlu meningkatkan intensitas untuk mengungkapkan rasa sayang dan memberikan perhatian serta cinta kepada semua orang yang aku sayangi.

Resolusi Tahun 2023

Sampailah kita pada inti pembicaraan, setelah melakukan refleksi diri dan evaluasi, ini saatnya untuk menentukan target pencapaian pada tahun 2023. Kali ini, targetku akan melanjutkan target pada tahun sebelumnya dan menambah beberapa target baru.

Bismillahirrahmanirrahim. Inilah resolusiku untuk tahun 2023:
  1. Unlock new skill
  2. Bikin karya minimal dua minggu sekali
  3. Berbagi ilmu lewat Catatan Jepangku
  4. Punya passive income
  5. Produktif minimal 2 jam sehari
  6. Konsisten dalam melakukan segala hal
  7. Bangun relasi baik dengan orang lain
  8. Jadi happy virus buat lingkungan sekitar
  9. Makin sayang sama diri sendiri dan keluarga

Itulah cerita penutup dan pembuka tahun dari aku. Semoga tahun 2023 menjadi tahun yang penuh berkat dan kebahagiaan. Aamiin. Gimana dengan kamu? Kamu punya target pencapaian apa yang harus diwujudkan pada tahun 2023? Coba tulis di kolom komentar, nanti aku semogakan.

Sekian tulisan hari ini. Semoga memberikan sudut pandang yang baru buat kita semua. Mari kita jalani tahun 2023 ini. Semangat!

Have a nice day,


Michiko ♡

9 Oktober 2022

Guru Pemandu Kehidupan

5:46 AM 0 Comments
Hidup di dunia tak pernah lepas dari belajar, termasuk belajar menjalani kehidupan. Saat lahir ke dunia, kita perlu guru untuk membantu kita dalam mengenal dunia serta memberi masukan saat melakukan suatu hal yang akan berpengaruh dalam hidup kita.

Aku memilih guruku berdasarkan pengalamanku. Bagiku, mereka adalah role model yang bisa aku ikuti langkahnya. Mereka pula lah yang menginspirasiku dengan berbagai macam sikapnya yang positif dalam menghadapi dunia.
Guru Pemandu Kehidupan 
Kesempatan kali ini, aku mau menunjukkan siapa sih orang yang membuatku terinspirasi. Berikut ini adalah orang-orang yang sejauh ini bisa membuatku terinspirasi:

1. Bunda

Bunda orang yang tangguh dan tegar. Dia pekerja keras dan punya banyak talenta, dari talenta dan kreativitasnya dia bisa menciptakan berbagai jenis bisnis. Dia sangat optimis dan selalu mendukung anak-anaknya untuk mengejar mimpi mereka. Darinya aku belajar sabar, optimisme, dan kerja keras.

Berkat dukungannya, aku bisa menjadi seorang Pejuang Mimpi. Baca juga kisah perjuangan mimpiku.

2. Ayah

Ayah adalah seorang pekerja keras dan sosok yang tidak mudah menyerah. Dia sosok yang bertanggung jawab dan perhatian walaupun hanya dalam diam. Dia selalu berusaha keras untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. Darinya aku belajar tanggung jawab, kemandirian, dan kerja keras. 

Kerja keras dan kegigihannya juga membuat aku terinspirasi untuk menuliskan cerpen Superman Tanpa Jubah.

3. Adik Perempuanku

Adikku merupakan orang yang ceria dan penyayang. Dia selalu menyebarkan aura positif dan menebar kebahagiaan untuk orang lain. Hatinya lembut dan dia pendengar yang baik. Dia tidak pernah ragu untuk menunjukkan cintanya. Aku belajar banyak tentang arti rasa sayang dan cara mengungkapkan kasih sayang darinya.

4. Nonny

Dia teman dekatku sejak SMA hingga sekarang. Dia orang yang rajin, bertekad kuat, dan ambisius. Dia punya mimpi yang tinggi dan selalu berusaha untuk mewujudkannya. Dia juga selalu memperbaiki serta meningkatkan kualitas dirinya. Darinya aku selalu termotivasi untuk terus belajar dan meningkatkan kualitas diriku sendiri.

5. Gita Savitri

Dia seorang wanita yang keren dan punya pemikiran yang unik serta kritis. Dia juga berani mengutarakan pendapatnya yang berbeda dari orang lain. Pengetahuannya sangat luas. Darinya, aku termotivasi untuk memperluas pandanganku terhadap isu di sekitarku dan menumbuhkan keberanianku untuk mengutarakan pendapatku sendiri serta berpikiran terbuka untuk menerima pendapat orang lain.

6. Jackson Wang

Dia salah satu musisi yang menginspirasiku. Dia berani mengambil langkah untuk beralih dari profesinya sebagai atlet demi mengejar mimpinya sebagai seorang musisi. Dia selalu terlihat ceria, bertalenta, dan produktif dalam bermusik. Dia juga selalu menyemangati fansnya untuk tetap bertahan dan terus maju saat menghadapi kesulitan-kesulitan yang menghadang perjalanan dalam meraih mimpi. Once, he said:
Hey, it's gonna be hard, it's gonna be stressful, it's gonna be unfair. A lot of obstacles are going to pull you down on this path. But, hang in there. Don't let anything disturb you. Go full out and never give up, I guess. —Jackson Wang, 2020 on Twitter Music Q&A

Darinya, aku belajar tentang kegigihan, keberanian dalam mengejar impian, dan aktif untuk terus berkarya. Maka dari itu, aku tidak pernah berhenti untuk tetap berkarya. Dari dia pula, aku bisa memaknai arti kegagalan (Baca: Memaknai Kegagalan) dan mempercayai segalanya pada proses (Baca: Percayakan pada proses).

Sekarang, aku masih terus belajar dari orang-orang di sekitarku. Aku masih mencoba untuk menerapkan hal-hal positif yang orang-orang miliki dalam kehidupanku dengan harapan aku bisa hidup dengan lebih baik lagi. Ada kemungkinan pula guruku akan bertambah seiring aku mengenal lebih banyak orang dan lebih dekat lagi.

Kamu juga pasti punya orang yang menginspirasimu, kan? Siapa sih orang itu? Boleh ceritakan juga apa yang membuat kamu terinspirasi dari dia? Yuk cerita sama aku di kolom komentar!

Sekian tulisan dariku, sampai jumpa lain waktu!

Michiko ♡