Showing posts with label Student Archive. Show all posts
Showing posts with label Student Archive. Show all posts

June 23, 2019

Bersatunya Sangkuriang, Jaka Tingkir, Rama dan Shinta

7:47 AM 0 Comments
Sudah lama banget ya aku gak post di blog? Hohohoho. XD

Maaf ya, aku sibuk. Sibuk tidur, goleran, malas-malasan. Hehehe. Tapi... karena hari ini aku punya kisah untuk dibagikan, jadi aku kembali ingin menuliskannya dan membagikannya di blog ini.

Best struggles are the best memories. —Nadhira, 2019.

Tim Percakapan Bahasa Jepang Lanjut Malam

10 Juni 2019
Aku baru pulang dari rumah menuju perantauanku. Temanku, sebut saja Aaron (nama asli lah, malas bikin nama samaran 😂) sebelumnya sudah mengirimkan pesan lewat watsap. Katanya, "Nad, kamu balik ke sini kapan? Kalau sudah pulang, bantu bikin properti ya?"

Asli, aku saat itu malas pulang. Tapi, apa boleh buat? Aku harus membantu mereka untuk membuat properti. Akhirnya, aku pulang siang hari dan sampai di perantauan pada sore hari. Iya, dekat kok. Hanya dua jam perjalanan. Sesampainya di sana, aku langsung mengunjungi kos tetanggaku, Mualif, sebab katanya mereka membuat properti di sana.

Ketika aku masuk menelusuri lorong kemudian berhenti di depan pintu kamar kedua dari arah pintu di sebelah kanan, aku melihat seisi kamar yang dihuni beberapa temanku di dalamnya tetapi tuan rumah tak ada di sana. Widih... berantakan. Di dalam kamarnya banyak kardus berserakan di lantai dan rafia hijau yang digantung dari ujung kamar ke ujung kamar yang lainnya. Satu properti sudah selesai, itu rumput.

Bisa tebak, kami membuat properti apa? Ya! Properti untuk drama. Drama kali ini merupakan project terakhir mata kuliah "Percakapan Bahasa Jepang" untuk tingkat tiga. Setelah itu, kami tak akan bertemu dengan mata kuliah itu lagi. Bye~

Pada hari itu, tujuan kami adalah membuat pohon dan properti per kelompok. Tanganku sibuk untuk membuat kuda-kudaan, ada beberapa temanku yang lain sibuk membuat properti kelompoknya sendiri dan ada beberapa yang membuat pohon. Kuda yang aku buat terbuat dari kardus kecil yang aku lipat, kemudian untuk ekor dan rambutnya terbuat dari tali rafia hijau (sisa untuk membuat rerumputan). Kuda-kudaan yang aku buat adalah unicorn hijau. Oke siap wkwkwk. 😂
Aku membuat kuda-kudaan bekerjasama dengan kedua temanku, Vicky dan Tangguh. Sambil menyisir rambut kuda yang terbuat dari rafia, kami membuka sesi curhat dan canda supaya gak terlalu spaneng.

Teman-teman di sebelahku sibuk membuat pohon, mereka bingung sebab rencananya pohon akan dibuat 2D atau 3D. Namun, mengingat keperluan dibuatnya pohon ini adalah untuk bersembunyi, akhirnya diputuskan untuk membuat pohon 3D.

Maka, dibuatlah pohon 3D setengah 2D(?), jadi bentuk pohonnya gak berbentuk pohon tetapi pakai kardus dibuat alas batang datar lalu ditutup dengan kertas cokelat dan daunnya dibuat dari kardus lalu ditempel kertas hijau. Sederhana ya? Setelah itu, kami pulang dan memutuskan untuk melanjutkannya di hari selanjutnya.

11 Juni 2019

Kami berkumpul lagi di kos Mualif untuk lanjut membuat properti. Kali ini masih sepi karena aku datang tepat waktu. Ya, biasa... orang Indonesia penganut jam karet. Sudah ada beberapa orang di dalam kamarnya, sekitar empat orang dan mereka sedang kebingungan sebab pohon yang kemarin dibuat ternyata roboh dan hancur. Akhirnya, dengan menggunakan kekuatan otak Akrom yang encer sampai netes dari kuping (ITU CONGE GBLK), kami membuat pohon dari awal. Dimulai dari memotong kardus, membuat jari-jari pohon agar bentuk pohonnya kokoh, dan terakhir menggunakan payung yang ditempel kertas hijau sebagai daunnya. 

Tanganku gak turut serta dalam membuat pohon itu, karena di dalam kamar sudah ada beberapa orang dan aku memilih untuk membuat di lorong kos saja. Tanganku sibuk membuat properti kelompokku sendiri. Membuat bunga-bungaan untuk digunakan dalam salah satu adegan drama. Lucu gak?

Bunga properti kelompok tiga.

Selain itu, aku juga membantu dalam menempelkan kresek biru untuk membuat sungai di penghujung acara saat itu. Setelah semua selesai, semua properti sudah tuntas diperiksa kelengkapannya, kami pun pulang dan beristirahat.

12 Juni 2019

Hari ini merupakan hari dekorasi dan gladi bersih. Beberapa properti yang belum selesai, kembali dituntaskan seperti mengecat sayap dan membuat perahu. Semua properti dan kostum masing-masing disiapkan per kelompok. Tugasku adalah membawa peralatan makan, peralatan rajut, dan sapu. Iya gaes, aku naik motor ke kampus sambil nenteng-nenteng sapu sampai-sampai dilihatin oleh orang lain sampai terheran-heran. Ya Allah, tabah dedek. :")

Di kelas, kami sibuk dengan urusan kami masing-masing. Ada yang mengecat properti, ada yang menggunting kardus, ada yang memasang kain untuk pemisah panggung dan belakang panggung, ada yang sibuk mencari latar untuk drama, ada yang sibuk mengatur speaker dan layar, ada yang sibuk menata bangku, dan ada pula yang duduk manis sambil menunggu. Pokoknya saat itu, suasana kelas penuh dengan kesibukan sejak pukul satu siang sampai pukul tujuh malam. Kebetulan, saat itu kampus memang masih bebas dari aktivitas kegiatan belajar mengajar sebab hari itu sebenarnya kami belum diharuskan untuk masuk kuliah karena ada kegiatan halal bihalal untuk dosen dan rekan kerja sehingga kami gak bisa tinggal lebih lama untuk menjajal panggung saat gladi bersih. 

Katanya, "Cepat dirapikan, satpam ngamuk gaes!"

Ujaran itu membuat kami grasak-grusuk untuk membereskan seluruh kekacauan di kelas dan merapikan properti yang berserakan. Dengan keadaan terusir, kami pun melakukan gladi bersih di lapangan parkir yang kosong. Pentas drama untuk mahasiswa yang mengikuti mata kuliah ini dibagi menjadi tiga kelompok, kami pun gladi "bersih bersihan" secara berkelompok karena hari sudah mulai malam, tanpa panggung tanpa penonton. Gladi bersih macam apa ini. XD

Selesai gladi bersih, kami pun membubarkan diri pada pukul 8.30 malam. Begini Mak, anakmu berjuang di perantauan. :')

13 Juni 2019
Hari ini, aku bangun lebih pagi dari biasanya. Pukul lima pagi, padahal kalau dulu sekolah aku biasa bangun jam segini hahahaha. Efek kelas sore gaes, makanya aku bangunnya sering siang. Hari ini aku sudah berangkat ke kampus pada pukul enam lebih, kami datang lebih pagi sebab pentas drama kecil-kecilan ini akan dimulai pada pukul 08.00 WIB. Suasana kampus sudah mulai sibuk. Kami mulai memakai kostum dan berdandan bila diperlukan.

Kelompokku memutuskan untuk tidak memakai riasan wajah karena kami kira pasti akan memakan banyak waktu. Jadi, kami memanfaatkan waktu persiapan untuk memasang kostum dan berlatih melempar palu. Ngapain coba ya? XD
Konsep kelompok tiga atau kelompokku adalah konsep lokal Indonesia campur budaya Jepang. Cerita yang kelompokku bawakan adalah kisah seorang anak yang ngebet kawin sama ibunya(?), berjudul "Sangkuriang". Kostum yang kelompok kami pakai bukan kebaya juga tanpa kujang, melainkan yukata. Budaya Indonesia yang kami ambil adalah budaya ketika orang jaman dahulu mencuci di sungai, suasana latar dan waktu dan latar musik yang dibuat ala kesundaan.
Dalam persiapan untuk pentas drama ini, hal yang paling menyita waktu di kelompokku adalah memasang obi. Ini adalah hal yang rumit bagiku yang gak terbiasa pakai yukata, makanya memakan banyak waktu.

Sekilas info:
Obi ini adalah sabuk untuk yukata atau kimono dan semacamnya. Bentuknya hampir mirip seperti selendang tetapi bahannya jauh lebih tebal dan kaku. Lebarnya sekitar 16-30 cm tergantung jenisnya dan panjangnya bisa mencapai 3-4 meter. Obi ini banyak jenis namanya, tergantung penggunaannya untuk yukata atau kimono atau lainnya. Tapi, biar lebih singkat jadi aku sebut obi saja. Cara memakainya hanya dililit dan diikat saja tanpa perlu peniti atau jarum. Untuk tutorial, bisa dicari di Youtube ya. Banyak kok tutorial dari orang Jepang asli.
Sedangkan, kelompok yang memanfaatkan waktunya untuk merias wajah dan memakai kostum adalah kelompok satu. Mereka merias wajah mereka mirip seperti wayang dan kostum yang dipakai juga lokal banget seperti kebaya dan semacamnya.  Kelompok satu ini punya konsep kerajaan zaman dahulu, seperti film yang suka tayang di channel ikan terbang itu lho. Mereka membawakan kisah cinta antara dua sejoli yang terpisah karena orang ketiga(?), judulnya "Rama dan Shinta". 

Mereka cukup memakan waktu yang banyak dalam melakukan persiapan, terutama Mbak Shinta (ini bukan nama asli dia ya, tapi ini pemeran tokoh Shinta), dia memakai kebaya dan rambut palsu serta riasan di wajah agar "jadi" cantik. Mengapa memakai wig? Sebab, pemeran Shinta ini adalah seorang laki-laki bernama Heru. 🤣

Heru as Shinta

Cantik, bukan? 
Ya, aku kira memang begitu. Pantas saja dia ini diperebutkan oleh Rama dan Rahwana. Gak deng. 😂

Kelompok dua ini selama kelompok satu dan kelompok tiga bersiap-siap, mereka diam saja sambil duduk manis memperhatikan yang lain justru membantu kelompok lain dalam persiapan pentas drama. Aku pun bingung, kenapa mereka gak bersiap-siap juga. Rupanya, semua ini karena kostum dan riasan mereka sangat simpel bahkan tanpa perlu bantuan siapa pun dalam persiapannya. Kenapa sih? Kelompokku aja rasanya ribet banget. :")

Konsep yang mereka bawakan ini merupakan campuran zaman dahulu dan zaman modern saat sudah terciptanya gadget. Cerita yang mereka bawakan adalah mencari jati diri demi restu calon mertua(?), berjudul "Jaka Tingkir". 

Setelah bersiap-siap, dosen pengampu datang dengan membawa tiga buah kertas undian. Masing-masing ketua kelompok diharapkan untuk mengambil kertas tersebut. Angka yang tertulis di kertas itu merupakan penentu siapa yang akan pentas lebih dahulu. Dan... jeng jeng jeng! Kelompok "Sangkuriang" yang akan menjadi pembuka pada pentas drama hari ini, setelah itu "Rama dan Shinta", lalu "Jaka Tingkir" sebagai penutup.

Deg-degan gaes. :")

Anggota kelompok "Sangkuriang" sudah bersiap di belakang panggung untuk mengecek background latar dan musik juga sebagian mempersiapkan properti yang akan digunakan. Pentas pun dimulai, aku bertugas untuk memberi aba-aba pada operator yang mengoperasikan musik latar. Saat giliranku untuk masuk ke panggung, aku grogi sampai ada beberapa dialog yang terlewat atau sekadar lidahku kepeleset dalam pengucapannya. Dosaku yang menghantuiku sampai keesokan harinya adalah... salah bahasa. Ya Allah, cobaan apa lagi ini. :")

Harusnya dialogku adalah...
Sangkuriang: "Kitto kimi to kekkon suru" (Pokoknya, aku akan menikahimu."
Dayang sumbi: "Iya da yo." (Gak mau!)

Tapi aku malah bilang...
Dayang sumbi: "Shireo yo!" (Gak mau!)

Iya, artinya memang sama sih. Tapi itu bahasa Korea. Gblk banget dah. 😭
Gini nih efeknya kalau kebanyakan nonton drama korea. Hiks.
Gak apa-apa, setidaknya diriku pernah berjuang~ :")

Untuk kisah kelompok satu dan kelompok dua, aku gak bisa menceritakannya dengan detail sebab aku tidak tahu apa saja yang terjadi di belakang panggung. Ketika kelompok satu dan dua sedang tampil, aku duduk di kursi penonton dan merekam penampilan mereka untuk dokumen pribadiku.

Setelah drama ini selesai, kami pun foto bersama. 






Aku sisipkan dokumentasi tambahan ehe. Plot twist:
Setelah Rahwana gagal mendapatkan Shinta dan Sangkuriang gagal mendapatkan Dayang Sumbi, akhirnya Dayang Sumbi dan Rahwana pun memutuskan untuk hidup bersama. Gak.



お疲れ様でした!
Thank you for creating this memories in my life.

Michiko♡

March 7, 2019

Ganbarimashou

9:28 PM 0 Comments
Jujur, hari ini aku tuh gak punya bahan buat konten karena kerjaanku hari ini cuma tidur dan cicilan mengerjakan tugas yang seabrek menumpuk di meja.
Lelah, iya pasti.
Mengeluh, ah gak perlu ditanya.
Misuh, apalagi.

Tugas setiap harinya datang dan gak membiarkan aku buat bersantai. Pengakuan nih, kerjaanku dari semalam cuma sambat alias mengeluh. Ya, namanya juga manusia sih, ada ini ada itu pasti mengeluh. Dapat duit dua ribu rupiah aja masih mengeluh lho, padahal kan dapat rezeki ya? wkwkwk. Maklum, manusia.

Tugas lagi. Tugas lagi. Tugas lagi. Kadang berpikir, kok tega ya, pengajar kasih tugas sebanyak ini. Kadang berpikir, itu pengajar mikir gak sih kalau mau kasih tugas ke siswanya sampai sebanyak ini? Tapi kalau dipikir lebih dalam lagi juga, ya memang benar. Kerjaan pengajar kasih tugas, kerjaan pelajar ya belajar--melalui mengerjakan tugas. Memangnya apa lagi pekerjaan pelajar selain belajar, gak ada.

Iya sih, memang berat. Bikin kita jadi sering mengeluh. Belum lagi ditambah masalah di luar lingkungan pendidikan. Haduh, makin berat deh. Tapi kita juga harus ingat, kita dikirim ke dunia ini karena kita sanggup menjalani itu semua. Kalau gak sanggup, mana mungkin Tuhan tega kirim kita ke dunia, betul?

Biar pun sulit pasti ada kemudahan. Biar pun berat pasti bisa dijalani. Percaya aja, kalau kita manusia yang kuat.Waktu jadi sperma aja bisa menang lomba berenang, padahal lawannya jutaan sel sperma. Hidup juga harusnya bisa menang, apalagi wujud kita sudah jadi manusia. Harus lebih kuat pastinya. Ingat aja:

Sesungguhnya bersama kesulitan, ada kemudahan.

Semangat menyelesaikan tugas yang diemban di dunia ini.

Have a nice day,

Michiko♡

March 5, 2019

Susan, besok gede mau jadi apa?

10:40 PM 0 Comments
Tahu lagu Susan Punya Cita-Cita yang dipopulerkan Ria Enes?

 Susan Susan Susan
Besok gede mau jadi apa
Aku kepingin pinter
Biar jadi dokter
 
Waktu kecil kalau ditanya cita-cita, jawabnya enteng banget. Tapi kenyataannya mewujudkannya gak seenteng bilang pengen jadi ini pengen jadi itu. Mewujudkan cita-cita tuh rasanya berat, kamu gak akan kuat. Biar Dilan aja(?).

Coba sekarang aku tanya. Kamu mau jadi apa?

Gampang gak sih buat mejawabnya? Kok aku rasanya berat banget mau jawab, bingung juga. :")
Inilah yang baru saja aku alami. Sekali lagi, perkataan dosen kembali menamparku Kali ini yang menamparku dengan perkataan adalah dosen pengampu kelas menulis. Berkat beliau, aku jadi teringat pada masa studiku yang sudah menginjak semester-semester senja.
Setelah ini kalian mau jadi apa?
Begitu kata beliau ketika kami sedang membahas tentang tema penelitian yang sederhana. Bukannya memikirkan ide lain untuk diusulkan pada perkuliahan itu, aku justru kembali merenung. Pikiranku terasa seperti tersengat oleh kata-kata itu.

Habis ini aku mau ngapain?
Habis lulus apa yang mau aku kerjakan?
Mau lanjut S2 atau kerja?
Mau kerja apa?

Kalimat-kalimat itu mulai menghantuiku. Memang, benar kata orang, semakin dewasa bebanmu semakin berat. Kini, aku masih dilema apa yang akan aku lakukan setelah aku lulus kuliah. Jujur, aku berpandangan dengan realistis saja, sebab orientasiku menempuh pendidikan adalah untuk mendapatkan pekerjaan. Aku pun menginginkan pekerjaan yang tentu menghasilkan penghasilan yang tinggi. Di dalam pandanganku, hidup memerlukan uang. Sandang, pangan, papan, semua membutuhkan uang. Kini pikiranku bukanlah mengejar "keinginan" untuk menjadi seorang ini itu anu ono iki kui kae, tetapi kini pikiranku hanyalah "mencari uang untuk tetap bertahan hidup".

Mungkin pandangan kita berbeda. Aku yakin pasti ada pikiran yang tak sejalan denganku. Aku paham itu. Berbeda pendapat dan pandangan boleh saja, tapi tidak perlu menghakimi dan memaksakan pendapat orang lain agar sama dengan kita. Well, bagaimana pendapatmu? Apa yang akan kamu lakukan untuk hidup ini? Bekerja atau melakukan hal yang kamu inginkan?


Hmm, mungkin itu pelajaran yang bisa aku petik hari ini. Apa pun pilihan kita, bekerja, sekolah, atau melakukan hal suka-suka, semoga kita selalu menjadi orang yang sukses dan bahagia. Aamiin.

Have a nice day,


Michiko♡


March 4, 2019

Aku Masih Bodoh

10:35 PM 0 Comments
Hari ini aku dapat pelajaran baru.
FYI, aku ini adalah mahasiswa tingkat tiga. #Udahtua
Di kelas bahasa tingkat lanjut, aku benar-benar merasa seperti ditampar oleh perkataan dosenku sendiri.

Saat itu, beliau membawa sebuah buku yang semua mahasiswa miliki tetapi kami tidak pernah membacanya, bahkan menyentuhnya pun jarang. Buku panduan akademik mahasiswa. Tidak ada mahasiswa yang membaca uraian standar kompetensi pembelajaran, sama sekali tidak ada. Beliau pun membacakannya.

Mahasiswa tahun ketiga setidaknya dapat menguasai:
1. Kemampuan mendengarkan (bahasa asing)
Mahasiswa mampu memahami pengumuman lisan (stasiun, mall, bandara, dsb.); mampu memahami perbincangan dan alur pembicaraan; mampu memahami acara TV atau radio; mampu menguping obrolan orang lain.
2. Kemampuan berbicara (bahasa asing)
Mahasiswa mampu berpidato secara singkat dalam acara formal; mampu menjelaskan arah/cara pergi ke suatu tempat; mampu menceritakan pengalaman dan perasaan pada suatu hal yang dialami; mampu bercakap dalam bahasa asing dengan topik ringan sehari-hari.
3. Kemampuan membaca (bahasa asing)
Mahasiswa mampu memahami informasi dari brosur, dll.; mampu menggali informasi dari ensiklopedia; mampu memahami cerita karya sastra pendek; mampu membaca dan memahami isi pengumuman tertulis.
4. Kemampuan menulis (bahasa asing)
Mahasiswa mampu menulis memo; mampu melakukan pemesanan melalui internet; mampu menulis karangan cerita pengalaman dan kehidupannya sehari-hari; mampu menulis surat ucapan.

Kemudian beliau bertanya, "Apa kalian sudah punya kemampuan yang harus dimiliki tingkat tiga?"

Aku duduk terpaku sambil berpikir. Ucapan dosenku seolah menamparku. Kalau aku pikir kembali, sebenarnya aku belum banyak menguasai standar kompetensi itu. Bahkan, amat sangat jauh sekali dari kata baik. #pemborosankata

Kemampuan mendengarkanku masih sangat kurang dari kata baik, bahkan mendengarkan acara seperti rekaman atau seminar pun aku harus mendengarkannya berulang dan tidak semudah itu menerjemahkannya ke dalam bahasa Indonesia.
Kemampuan berbicara juga masih jauh dari kata baik, kosa kata yang aku miliki sangat sedikit bahkan ketika beliau menanyakan 'alat cukur' dalam bahasa itu pun aku tidak tahu.
Kemampuan membaca, gak perlu ditanya lagi, aku membaca karakter pun masih sering membuka kamus.
Kemampuan menulis, mustahil. Bahkan, ketika aku membuka suatu web yang penuh dengan kanji dan kawan-kawan membuatku pusing dan buru-buru menutupnya lagi.

Jadi, selama ini aku ke mana? Aku hanya memikirkan nilai, nilai, dan nilai. Dipikiranku hanya cumlaude, cumlaude, dan cumlaude.Aku tidak pernah berpikir tentang skill dan pengaplikasian pada kehidupan sehari-hari. Bahkan, kemampuan yang menjadi standar minimal pun tidak aku miliki. Aku merasa sombong dan puas dengan ilmu yang aku dapatkan, padahal itu hanya sebagian kecil bahkan hanya dasar. Aku terlalu cuek dengan ilmu yang harusnya aku cari dan gali lebih dalam. Sekarang, apa kenyataannya? Bahkan aku kesulitan mengaplikasikannya ke dalam kehidupan sehari-hari.

Ini merupakan bahan untuk evaluasi. Reminder untuk diriku sendiri agar aku bisa introspeksi. Aku akan berusaha lebih keras lagi. Ganbarimasu!

Jangan sombong dan tetaplah haus ilmu. Sebab, ada pepatah mengatakan:
Carilah ilmu dari buaian sampai ke liang lahat.
Semangat untuk kita semua!

Have a nice day,

Michiko♡

Photo by Aaron Burden on Unsplash

March 3, 2019

Dia Adalah Guruku Bukan Dilanku

11:47 PM 0 Comments
Tadi siang, aku membuka blog lamaku (link: http://orangjelek-kecebadai.blogspot.com/) yang sudah lama banget terbengkalai. Seketika aku teringat pada seseorang yang pernah hadir di dalam garis hidupku. Sebab, pada era aku aktif di blog lamaku juga merupakan masa di mana aku pernah membuang seseorang dari kehidupanku juga.

He was my teacher. Seorang penulis berbakat. Seorang yang sering mendukung aku untuk mengembangkan potensi menulis yang aku miliki. Seorang yang (pernah) sangat mempedulikan muridnya. Sejujurnya, beliau ini adalah panutanku karena menurutku beliau adalah penulis yang hebat. Yeah, I remember this. Beliau orang yang rendah hati dan asik diajak berdiskusi. Akan tetapi, aku justru memperlakukannya dengan sangat kejam sebab kepeduliannya yang menurutku terlalu berlebihan sampai kuanggap mencampuri urusanku. Setelah aku pikir lagi, sebenarnya wajar sih kalau guru menasihati dan peduli kepada muridnya. Tetapi, mungkin saat itu aku masih labil dan keras kepala. Jadi, hal yang beliau lakukan terasa sangat menyulitkan aku.

Pada postingan kali ini, saya mau meminta maaf atas segala hal yang pernah saya lakukan terhadap beliau. Serta berterimakasih karena telah menasihati saya dan mengingatkan saya kalau saya berbuat kesalahan.

Sebenarnya, aku menulis ini dengan pertimbangan yang cukup lama. Sebab, aku gak mau menuai kesalahpahaman yang dulu terulang lagi. Sejujurnya, kami sudah lost contact since five years ago. Bahkan mungkin lebih, I guess. Uhm, I'm not sure. Saat ini aku benar-benar gak tahu kabarnya bahkan aku juga gak tahu beliau masih mengajar di sana atau gak sehingga aku pun gak bisa meminta maaf secara langsung. Maka dari itu, aku menulis postingan ini untuk meminta maaf atas segala kesalahan yang pernah aku lakukan kepada beliau. Semoga beliau sudi membaca dan memaafkanku.


Pesan untuk beliau:
Pak, saya sudah dewasa dan menyadari kesalahan yang saya lakukan. Jadi, saya mau meminta maaf atas apa yang pernah saya lakukan dan saya menyadari kesalahan saya. Terima kasih atas supportnya di kala itu. Semoga tidak ada kesalahpahaman yang terjadi lagi. Sebagai manusia, kita harus berbuat baik kepada sesama makhluk Tuhan. Cukup sekian, terima kasih telah membimbing saya, Pak.
Cukup segini aja postingan hari ini.
Have a nice day,

Michiko♡



Photo by rawpixel on Unsplash

June 11, 2018

Zutto Oinorishimashou

10:00 AM 2 Comments
Teruslah kau berdoa seolah kau sedang mengayuh sepeda untuk sampai pada tujuan.

Kejadian itu terjadi pada hari Selasa sekitar pukul 19.00 WIB, mengenai tanggal aku lupa sih itu tanggal berapa tepatnya karena memang sudah lama hehehe. Pada hari itu, ada mata kuliah Japanese Reading atau sebut saja dokkai. Materi kuliah membahas tentang sebuah cerpen yang berjudul "わらしべ長者". Aku pernah menerjemahkan cerita pendek ini di postingan sebelumnya (ini link ceritanya: Warashibe Chōja (Saudagar Jerami)). 

Cerita pendek ini aku dapat dari dosenku, sebenarnya ini cerita yang dikasih untuk tes harian, tapi karena ceritanya menarik jadi aku terjemahkan ke dalam versi Bahasa Indonesia supaya masyarakat Indonesia bisa ambil hikmah dari cerita itu. Sengaja aku post di blog, siapa tahu ada mahasiswa sastra Jepang yang dapat tugas menerjemahkan cerita ini terus google-ing judulnya biar dapat contekan wkwkwk. Gak deng. 😂

Selain amanat yang bisa diambil dari cerita pendek tersebut, ada amanat yang bisa diambil juga dari perkuliahan pada hari itu. Di dalam cerita, kami menerjemahkan penggalan kalimat:

「太郎は朝までずっとお祈りしました。」
Tarou wa asa made zutto oinorishimashita.
 Artinya:
Tarō terus-menerus berdoa sampai pagi.

Sepenggal klausa yang aku warnai merah itu merupakan garis besar pembahasan postingan ini. Dosenku memberi perumpamaan dalam klausa itu. Begini katanya:

"Kalian tahu? Zutto oinorimashita itu berdoa yang terus-menerus gak berhenti-berhenti. Jadi, dalam kalimat itu, 'Asa made zutto oinorishimashita.' Artinya si Taro ini gak cuma berdoa sekali terus bar. Gak gitu. Dia itu terus-terusan berdoa dari sore sampai pagi gak berhenti-berhenti. Biar apa coba? Biar doanya ini dikabulkan sama Kannon-sama.

Kalian juga harus kayak gitu. Kalau punya kemauan jangan cuma mau aja, berdoa sekali terus wis bar. Jangan. Ibaratnya berdoa itu kayak kalian lagi mengayuh sepeda. Kalau kalian naik sepeda terus gak dikayuh, apa bakal sampai ke tujuan? Gak toh? Kalian harus mengayuh sepeda itu biar sampai ke tujuan. Kalau kalian gak kayuh sepeda itu sampai bar Isya' gak akan sampai tujuan.

Begitu juga dengan berdoa. Kalian kalau punya kemauan, teruslah berdoa. Supaya apa? Supaya kalian sampai ke tujuan. Supaya keinginan kalian itu tercapai. Paham?

Gak perlu aku jelaskan juga harusnya kalian paham kan maksudnya?  Jadi, pelajaran yang bisa dipetik pada hari itu adalah....
Sudah aku tulis pada kutipan yang paling atas, gak usah ditulis lagi lah ya? Ha ha ha ha.

Oh iya, jangan lupa diselingi dengan usaha dan keikhlasan juga ya. Masalah hasil, serahkan kepada yang berwenang, Tuhan Yang Maha Kuasa.

Karena hidup gak jauh-jauh dari DUIT. Bukan money recehan atau pun dollar seratus ribuan. Tetapi:
Doa
Usaha
Ikhlas
Tawakkal

Have a nice day.♡

June 7, 2018

Warashibe Chōja (Saudagar Jerami)

5:20 PM 0 Comments

Jangan ragu untuk melakukan kebaikan sekecil apa pun. Sebab, kebaikan yang kau lakukan akan mendatangkan kebaikan yang lebih besar.
Credits: web-japan.org

Pada dahulu kala, di suatu tempat, hidup seorang laki-laki bernama Tarō. Tarō setiap hari rajin bekerja, tetapi ia tidak pernah mendapatkan sesuatu yang baik. Suatu hari, Tarō berdoa kepada Dewi Kwan Im.

"Aku harap ada sesuatu yang baik datang kepadaku. Aku mohon."

Setelah itu, pada malam harinya, Tarō bermimpi. Di dalam mimpinya, ia berbicara kepada Dewi Kwan Im.

"Tarō, jagalah sesuatu yang kau pungut besok. Kemudian, berjalanlah ke arah timur sambil membawanya. Niscaya akan ada hal baik datang kepadamu."

Keesokan paginya, ketika ia berjalan menelusuri jalan, ia tersandung. Kemudian, ia tersadar, ia membawa setangkai jerami di tangannya. Tarō membawa jerami itu dengan hati-hati dan mulai berjalan ke arah timur. Karena ia merasa kesepian berjalan sendiri, ia pun menangkap seekor serangga. Ia mengikat serangga itu pada jerami yang ia bawa lalu ia pergi berjalan lagi.

Setelah beberapa saat, ada seorang bayi tengah menangis. Ibunya memeluknya sambil menyanyikan lagu untuknya, tetapi bayi itu terus menangis. Ibunya kebingungan. Namun, ketika Tarō menunjukkan serangga, bayi itu berhenti menangis lalu mulai tertawa.

Ibunya bayi itu berkata kepada Tarō, "Bolehkah jerami dan serangga itu untuk saya?"

Tarō memberikan jerami dan serangga kepada bayi itu. Ibunya bayi itu sangat berterimakasih, ia memberikan tiga buah jeruk kepada Tarō. Tarō membawa ketiga jeruk itu, kemudian lanjut pergi berjalan ke arah timur. Kali ini, ada seorang wanita muda yang cantik duduk lemah lesu di jalanan. Di sebelahnya, berdiri seorang kakek tua terlihat khawatir.

"Apa yang terjadi?"

Ketika Tarō bertanya, kakek itu menjawab, "Katanya, Nona ini sedang sakit dan ia ingin minum air. Di manakah sumber air berada?"

Tetapi, tidak ada air di mana pun.

"Oh, ini ada tiga buah jeruk. Makanlah!"

Tarō memberikan jeruknya kepada wanita itu. Setelah wanita itu memakan semua jeruk, ia jadi pulih kembali.

"Terima kasih banyak."

Kakek dan wanita itu amat berterimakasih, mereka memberikan kain yang indah kepada Tarō.

Tarō membawa kain itu kemudian pergi berjalan lagi ke arah timur. Sore pun telah tiba. Kemudian, kali ini ada seekor kuda yang tergeletak di jalan. Samurai yang berdiri di sebelah kuda itu berkata kepada Tarō, "Hei! Kuda ini untukmu. Sekarang, dia sedang tidak sehat tetapi ini kuda yang bagus. Sebagai gantinya, kain indah yang kau bawa, kau berikan untukku."

Setelah berkata begitu, samurai itu meletakkan kudanya lalu membawa pergi kain indah itu. Tarō kebingungan. Namun, karena ia merasa kasihan kepada kuda itu, ia pun duduk di sebelah kuda itu lalu berdoa kepada Dewi Kwan Im. 

"Kumohon, bantulah kuda yang menyedihkan ini."
Tarō terus menerus berdoa tiada henti sampai pagi.

Ketika pagi telah tiba, kuda itu membuka matanya. Kemudian, ketika melihat ke arah Tarō ia langsung berdiri dan meringkik. Tarō sangat bersyukur, ia pun mulai berjalan ke arah timur bersama kuda itu. Tarō dan kuda itu tiba di kota. Di sana ada banyak rumah besar. Ketika berjalan melewati sebuah rumah besar, seorang laki-laki yang bekerja sebagai pembantu rumah itu berkata, "Kau membawa kuda yang keren ya. Pemilik rumah ini sangat menyukai kuda. Tunggu di situ sebentar!"

Segera, pemilik rumah itu keluar dari dalam rumahnya. Ketika melihat kuda itu, ia berkata kepada Tarō, "Wah, ini kuda yang hebat! Bolehkah kuda itu untuk saya? Sebagai tanda terima kasih, saya akan memberikan banyak ladang yang saya punya."

Demikianlah, satu batang jerami dan berakhir menjadi ladang yang luas. Tarō pun bersungguh-sungguh bekerja menggarap ladang itu dan menjadi orang kaya. Maka dari itu, semua orang menjuluki Tarō "Warashibe Chōja (Saudagar Jerami)".

***

Diterjemahkan oleh: Nadhira Shafa

Subscribe