5 Juni 2026

Cerita Bersambung: Reverse [Bagian 9: Gelisah dan Amarah]

"Grace, kau bisa berhenti kapan pun kau mau. Aku akan melindungimu dari siapa pun yang mau menyakitimu. Aku janji." 

Grace membuang muka. Ia tak bisa lagi menguras air matanya di hadapan pria itu. Grace melepaskan tangan Jo yang memegangi kedua pipinya. "Terima kasih atas ketersediaanmu, Jo. Aku mohon, jangan mengatakan hal ini lagi kepadaku. Kau membuatku berada dalam dilema yang tak berujung."

Baca episode sebelumnya: Reverse Bagian 8 - Dilema Tak Berujung

Cerita Bersambung: Reverse [Bagian 9 - Gelisah dan Amarah]

Bagian 9: Gelisah dan Amarah

Ray memasuki ruang pertemuan yang sepi, sebuah ruangan besar yang dapat menampung belasan orang di dalam sana saat menggelar rapat eksternal. Kursi-kursi bersampul kulit hitam berjajar saling berhadapan mengelilingi sebuah meja panjang yang besar. Terdapat dua pintu akses untuk masuk ke dalam ruangan yang berada di dinding utara dan barat. Pintu yang pertama merupakan pintu yang tembus ke ruangan para karyawan inti bekerja, salah satunya Nona Kim. Pintu yang kedua adalah pintu yang tidak terbuka untuk umum, pintu itu menghubungkan ruang pertemuan dengan sebuah ruangan yang tidak pernah dilihat oleh orang yang bekerja di sana kecuali Ray, si pemilik ruangan. Ray keluar dari ruangan itu sambil membawa berkas di tangannya.  


"Kukira kau tidak akan berubah pikiran. Rupanya, kau menerima tawaranku." 

Ia menutup pintu ruangan yang terhubung dengan ruangan semi-rahasia itu sambil membawa berkas di tangannya dan menghampiri Grace yang duduk seorang diri di ruangan yang cukup luas itu. Ia meletakkan berkas itu di hadapan Grace yang sedang memandang ke setiap sudut ruangan besar dengan jendela bertirai tirai penutup jendela yang terdiri dari bilah-bilah horizontal yang tertutup. 

Grace merasa asing dengan ruangan itu. Dia memang terbiasa bekerja di kantor yang punya ruang privat dengan penjagaan ketat, tetapi banyak pertanyaan yang muncul di kepalanya, bagaimana bisa perusahaan Ray juga memiliki ruangan privat yang hampir sama seperti tempat ia bekerja? 

Grace meraih kertas-kertas bertinta hitam yang bertuliskan kontrak pekerjaannya selama ia menjadi asisten pribadi direktur perusahaan. Matanya menyoroti huruf demi huruf yang tertulis di sana tetapi sama sekali tidak masuk ke dalam isi pikirannya yang saat ini sedang penuh dengan hal yang lain. Ia merasa sedang menjadi seorang pengkhianat. Baru kali ini, ia mengorbankan kesetiaannya pada seseorang hanya demi menunjukkan kesetiaan pada yang lainnya. 

Ray duduk di kursi kosong tepat di sebelahnya. Ia tersenyum melihat Grace yang sedang menilik kontrak kerja yang baru saja ia berikan. Sembari melepaskan kancing jas berwarna biru dongker, ia berkata, "Mulai sekarang, kau harus terus mendampingiku, Grace. Kau bisa baca kontrak itu baik-baik. Begitu kau menandatanganinya, apa pun yang tertulis di sana seharusnya tidak akan menjadi masalah untuk ke depannya."

Grace mendengus pelan, sedikit tertawa sinis mendengarnya. Percuma aku membaca semua omong kosong ini. Toh, ini hanya kontrak sementara. Setelah aku memenggal kepalamu dan memberikannya pada Jun, kontrak ini tak akan ada artinya lagi.

Ujung pena bergulir di atas kertas putih, Grace menorehkan tinta tanpa keraguan untuk menandatangani kontrak kerjasama antara dia dan Ray. Pengalaman kerja yang singkat ini tiba-tiba mengubah statusnya menjadi seorang asisten pribadi dari orang nomor satu di perusahaan ini. Entah ke depannya apa yang akan terjadi padanya. Mungkin digunjing rekan kerjanya, mungkin dicemooh para mantan atasannya, mungkin dilirik sinis oleh orang-orang yang iri padanya karena memiliki orang dalam. Grace sudah pasrah dengan semua konsekuensi yang telah ia pikirkan matang-matang. Lebih baik menerima segala hujatan daripada menyerahkan kepala sendiri kepada bandit haus darah.

"Aku jadi penasaran, apa yang membuatmu berubah pikiran?" Ray menilik kontrak kerjasama yang baru saja ditandatangani sambil menyunggingkan senyuman. Ia merasa puas, seolah saat ini ia mendapatkan tangkapan besar. 

Grace meletakkan pena di atas meja sambil menghela napas. "Kupikir, hanya kau yang bisa menyelamatkanku dari pekerjaan yang menumpuk dan Nona Kim yang merundungku."

Ray mengulurkan tangannya, menawarkan jabatan tangan sebagai tanda dimulainya kerjasama antara mereka berdua. Ia tersenyum puas mendengar jawaban Grace yang terdengar sedang mengandalkannya. Matanya memandang Grace saat menunggu sambutan jabat tangan dari Grace, "Kau datang ke orang yang tepat."

Grace menatap uluran tangan pria itu dan memandang wajah Ray yang tersenyum secara bergantian. Tak lama, ia pun menjabat tangan pria itu. Kerjasama di antara mereka pun dimulai resmi sejak hari ini.

***

Debuk suara pintu pantri yang tiba-tiba terbuka mengejutkan Jo yang sedang terlarut dengan larutan kopi yang memutar membentuk pusaran. Ia menoleh ke sumber suara.

"Di sini kau rupanya! Kenapa kau tak menghentikannya?" sergah Nona Kim yang baru saja tiba tanpa menjelaskan situasi apa pun kepada Jo yang sama sekali tidak tahu apa-apa.

Jo melongo. "Apa maksudmu?"

"Dia menandatanganinya!" Nona Kim mendengus kesal dan berdecak. "Dia meneken kontraknya!"

Rahang mulut Jo terbuka, tangannya meletakkan cangkir kopi yang sedari tadi bertengger di antara sela jemarinya. "Jangan bercanda."

Nona Kim semakin sensitif dengan ucapan Jo, ia tertawa sinis. "Bercanda? Aku kehilangan posisiku karena wanita sialan itu! Kau pikir, untuk apa aku mengatakan hal ini padamu?"

Jo mengerutkan keningnya. Sekilas, ia teringat kejadian malam itu, saat melihat tetesan air mata yang menggenang di mata Grace. Ia tak pernah berpikir bahwa Grace akan menerima kontrak dari orang yang selama ini gadis itu hindari. Baginya, itu tak masuk akal. Mati-matian Grace menghindar dari pria hidung belang itu, tetapi sekarang wanita itu menandatangani kontrak hanya untuk terus berada di samping pria itu? 

"Tetapi, dia tidak berkata apa pun tentang hal ini. Padahal kemarin aku bersamanya...," gumam Jo dengan padangan kosongnya.

Nona Kim berkacak pinggang sambil mengernyitkan dahi. "Tunggu... apa? Kemarin kau dan... tunggu, kau dan Grace..."

"Dia ada di mejanya?" sela Jo.

"Tidak."

 "Ini tidak bisa dibiarkan." Jo beranjak pergi dengan terburu-buru meninggalkan Nona Kim tanpa peduli hal apa yang belum ia dengar dari Nona Kim.

Nona Kim memandangi kepergian Jo yang meninggalkan kopi hangat dengan kepulan asap yang belum terjamah. Ia menyambar telinga cangkir kopi itu dan menyesapnya, "Dua pria bodoh berebut satu wanita gila."

Jo berlari wara-wiri mencari Grace. Waktunya yang sempit itu harus ia manfaatkan sebelum Grace pergi lebih jauh. Dari pantri ia berjalan cepat menelusuri koridor setiap lantai, berharap bertemu Grace yang mungkin saja sedang berkeliaran. Beberapa kali dia kepada anggota divisi yang berpapasan dengannya, tetapi tak satu pun orang melihat Grace. Ia menuruni tangga darurat berharap bisa menyaingi kecepatan elevator yang penuh dengan antrian para karyawan di jam makan siang. Ia berlari ke meja resepsionis di lobi, menanyakan keberadaan direktur, Ray, sebab ia tahu jika ada Ray di sana pasti di sampingnya akan ada Grace yang mengikuti. Namun, usahanya tidak membuahkan hasil.

Jo pun memutar otak, bagaimana caranya untuk menemukan Grace? Ia kembali ke pantri untuk menemui Nona Kim. Beruntung, Nona Kim masih ada di sana menyeruput kopi yang tinggal setengah. 

"Beritahu aku jadwal kegiatan Tuan Ray hari ini."

Nona Kim pun menghela napas dan mengeluarkan ponselnya sambil menunjukkan jadwal kegiatan Ray hari ini. Jo lari belingsatan menuruni tangga darurat lagi, walaupun napasnya masih tersengal. Ia berlari ke arah basement tempat di mana mobil hitam Ray terparkir. Saat ia menginjakkan kaki di lantai bawah, Grace tertangkap dalam pandangannya sedang mencangklong tas di bahunya. Ia berlari menyusul Grace yang baru saja mendorong pintu kaca untuk keluar dari gedung memasuki basement.

"Grace!" Jo memanggil Grace, berharap Grace menghentikan langkahnya. Ia menyusul Grace dan mengimbangi langkah gadis itu yang berada beberapa langkah di depannya. Jo mengatur napasnya sambil mencecar Grace dengan pertanyaannya. "Kudengar kau naik jabatan. Kau menandatanganinya?"

Grace tidak melirik Jo sama sekali, pun tidak menghentikan langkahnya. Walaupun ia mendengar deru napas Jo yang tersengal kehabisan napas karena berusaha mengejarnya. Tidak tega, tetapi dia harus menghindari Jo atau semua rencananya akan kacau.

"Ya, begitulah," jawabnya dingin. 

Jo heran. Grace berubah dalam semalam. Sikapnya benar-benar tidak biasa. Sangat dingin, seperti es di Antartika. Jo meraih tangan Grace, menahan gadis yang berjalan lebih cepat di depannya. "Grace, tunggu!"

Grace menghentikan langkahnya saat lengannya ditahan oleh Jo. Mau tidak mau. Namun, ia bergeming.

"Apa yang terjadi padamu akhir-akhir ini, Grace? Kau berubah drastis dalam semalam! Kau tidak seperti Grace yang kukenal." Jo melangkah ke hadapan Grace, tubuhnya yang besar berdiri tegap tepat di depan Grace dan menghalangi gadis itu agar tidak melanjutkan langkahnya. "Batalkan kontrak itu, Grace!"

Grace tidak sanggup memandang Jo. Bahkan mendengar suaranya saja, sudah cukup menyayat hatinya. "Aku tidak pernah memberitahumu tentang ini, Jo... dan kau tidak punya hak apa pun untuk melarangku." Ia melepaskan genggaman tangan Jo yang mencengkeram lengannya. Tidak ada perlawanan, tangan Jo jatuh begitu saja ditarik gaya gravitasi. Grace menghela napas dalam, jauh di lubuk hatinya ia tidak ingin mengatakan hal setega ini. Namun, untuk membuat pria di hadapannya itu pergi, ia harus mengatakan ini. "Justru karena kehadiranmu di hadapanku ini lah yang menghambat langkahku."

Lidah Jo kelu. Tidak ada yang bisa ia katakan setelah mendengar ucapan Grace. Tenggorokannya seketika kering dan ia tercekat seolah kata-kata yang diucapkan Grace itu melilit lehernya hingga ia sesak karena tidak bisa bernapas. Di kepalanya, hanya suara retakan hati yang terdengar. 

"Jadi, selama ini kau menganggapku seperti itu, Grace?" ucapnya dengan suara bergetar.

Grace yang semula tidak berani menatap Jo, kini mengalihkan pandangannya untuk menatap pria itu. Ia menelan ludah dan mengangguk mantap. Tidak sampai hati ia melakukannya, tetapi semua sudah terjadi. Kini yang bisa dilakukannya hanyalah memantapkan pilihan. 

"Iya. Jadi, aku harap kau tidak menggangguku lagi." Grace menjawab mantap dan pergi melewati Jo.

Jo memandangi kepergian Grace menuju ke sebuah mobil hitam yang terparkir di dekat tiang pancang. Pandangannya tidak beralih sedikit pun, dengan hati yang terluka ia melepas kepergian Grace yang kemudian hilang dari pandangannya saat memasuki mobil hitam milik Ray.

***

Pendar cahaya lampu menyoroti jalanan yang terkungkung kegelapan. Suara mesin menderu mengisi keheningan. Gedung tinggi itu kini gelap gulita, hanya lampu taman yang menyala remang-remang. Sebuah mobil sedan hitam berlalu melintasi gerbang menuju ke arah parkiran bawah tanah. Jarum jam terus berdetak perlahan, melintasi waktu yang kian berlalu. Ujung jarum jam tangan yang melingkar di lengannya sudah menunjukkan pukul sebelas malam. 

Waktu shift kerja sudah selesai sejak sore tadi, akan tetapi ia memutuskan untuk menunggu Grace yang tak kunjung kembali. Duduk di atas motor bututnya, menanti kepulangan gadis itu cukup membuatnya merasa pegal dan tak sabar. Akhirnya, setelah mengikuti urutan jadwal yang Nona Kim bocorkan, orang yang dinantinya pun datang.

Derap langkah kaki terdengar menggema di sepanjang lorong yang gelap. Grace memandang ke arah CCTV di setiap sudut lorong. Lampu merah terlihat menyala seperti kilatan mata hewan buas di dalam hutan. Selama perjalanan dari basement sampai ke ruangan pertemuan, Grace bertanya-tanya di dalam benaknya. Di mana monitor CCTV ini?

Ruangan yang semula gelap, langsung terang begitu lampu ruangan pertemuan itu menyala satu per satu. Grace meletakkan tasnya di atas meja dan menyusuri setiap sudut ruangan yang baru saja hari ini pertama kali ia jamah. 

"Kau menikmati suasana malam ini?" Ray berdiri di belakang Grace yang terpaku menghadap ke jendela besar yang menyuguhkan langit malam dengan bintang-bintang yang bertaburan di atas langit.

Jo membelalakkan matanya saat ia mengintip di balik celah tirai horizontal ruang kerja yang tertutup. Sejak kedatangan mereka berdua, Jo menyelinap masuk dan membuntuti mereka berdua. Ia penasaran dengan motif Grace berubah sikap dalam satu malam dan tentu saja penasaran dengan apa yang akan Ray lakukan malam ini dengan asisten pribadinya. 

Rupanya pemandangan itu benar-benar privasi yang seharusnya tidak ia invasi. Di ruangan yang sepi dan gelap itu, Ray bahkan berani menghimpit tubuh Grace hingga gadis itu bersandar pada meja tidak bisa kabur dari terkaman manusia buas yang haus akan belaian wanita. Napas Jo semakin berat bahkan rasanya seperti terhenti tepat di tenggorokannya. Pemandangan itu cukup menghancurkan hatinya, ia kini menyadari bahwa ia menaruh hati pada Grace yang kini sudah berbeda dari sebelumnya. Jo mendongak sambil menarik napas dalam, menahan air mata agar tak jatuh serta melegakan tenggorokannya yang terasa seperti tercekik realita.

Jo mengulurkan tangannya dan menggenggam gagang pintu. Ia terhenti sejenak, memikirkan ulang ucapan Grace di basement tempat parkir. Perlahan, genggaman tangannya melemas. Ia menatap kedua orang itu, semakin liar tanpa penolakan. Jo kini memahami motif perubahan sikap Grace ini. Semua ini terjadi karena ruangan pribadi Ray yang penuh misteri. 

Tidak ada yang bisa dilakukan Jo selain berdiri mematung sambil mengunyah isi hati yang telah mati. Ia mengepalkan kedua tangannya, sangat kencang hingga urat-urat di lengannya menyembul di bawah kulitnya. 

Dua kepala itu bergerak dengan arah yang berlawanan, saling memagut satu sama lain dengan gairah yang semakin memuncak. Bahkan salah satunya melepaskan jas rapi yang ia kenakan agar lebih leluasa. Beberapa saat, aktivitas keduanya terhenti. Mereka berbicara sejenak tetapi Jo sama sekali tak bisa mendengar mereka. Tak lama, pintu yang ada di sisi lainnya terbuka dan kedua orang itu memasuki ruangan itu. Mereka hilang dari pengawasan Jo. Geram, Jo pun menonjok tembok dengan kekuatan penuh, rupanya Grace hanya memanfaatkannya.

- B E R S A M B U N G-

Baca Reverse versi lengkap di sini: Reverse

Ditulis oleh: Michiko 美智子

Tidak ada komentar:

Posting Komentar