19 Februari 2021

Cerita Bersambung: Reverse [Bagian 5: Janji]

6:38 PM 0 Comments
Klakson berbunyi, sebuah mobil hitam merapat di gerbang depan. Jo yang semula duduk di kursinya, dengan sigap berlari kecil menembus rintik hujan yang lebih kalem menghujam tubuhnya. Ia membukakan pintu gerbang yang tertutup. Sementara itu, Grace yang baru saja terbangun dari tidurnya mengintip dari balik jendela pos satpam. Mobil hitam itu asing baginya, ia tak pernah mengingat siapa pemiliknya. Namun, ada hal menarik yang ia temukan di dalamnya. Pria yang selama ini menggodanya, ada di dalam mobil itu bersama seorang wanita.

Baca kisah selengkapnya: Reverse Bagian 4 - Patroli Malam

Bagian 5: Janji

Setelah patroli perdana pada malam itu, Jo dan Grace lebih sering bertemu. Mereka bertemu pada malam hari untuk berpatroli bersama. Terkadang, sepulang kerja, Grace langsung menunggu jadwal patroli bersama Jo di pos satpam. Terkadang pula, Grace datang setelah tidur sejenak di rumahnya. Saat jadwal Jo bekerja pada siang hari, Grace juga seringkali bertemu dengan Jo di pantri. Mereka bagaikan sepasang merpati yang tak terpisahkan.

Akibat kebersamaan Jo dan Grace yang seringkali terlihat oleh beberapa karyawan, sebuah rumor pun menyebar. Kisah asmara satpam muda dan Nona Hulk pun menjadi berita utama yang disebarkan dari mulut ke mulut. Mulanya, rumor itu merebak di departemen keamanan. Lama-kelamaan, rumor itu semakin menjalar dengan cepat ke departemen lain bagai api yang melahap kayu bakar. Namun, tak ada yang berani membicarakan rumor itu kepada Jo ataupun Grace secara langsung. Keduanya juga tak begitu peduli dengan rumor yang melibatkan nama mereka.

Saat istirahat makan siang, Grace sengaja pergi ke pantri untuk menghampiri Jo. Sebab, ia tahu pria itu selalu beristirahat di pantri setiap ada kesempatan. Benar saja, saat membuka pintu, pria itu sedang menyeduh kopi. Tampaknya, pria itu menelan biji kopi setiap hari untuk mengganjal perutnya.

“Jo, nanti malam patroli, ya?” Grace menyambar secangkir kopi yang baru saja diseduh Jo. Ia menyeruput kopi yang sama sekali belum dicicipi oleh Jo sambil bersandar pada pantri.

“Malam ini bukan jadwalku untuk patroli malam.”

“Apa aku terlihat peduli?” Grace mendekatkan wajahnya dengan wajah Jo lalu menyeringai.

Jo mendesah pelan. Ia merebut kembali cangkir kopi yang dipegang Grace, membuat bibir Grace tersulut kopi yang masih mengepul. Gadis itu meringis sambil mengusap bibirnya yang kepanasan.

“Kau patroli saja sendirian,” ucap Jo sambil menyeruput kopinya.

“Aku tak tahu tempat ini, bisa-bisa aku menyasar.”

“Apa aku terlihat peduli?” Jo melirik Grace sambil menyeringai. Puas hati ia membalas ucapan Grace seperti apa yang diucapkan gadis itu kepada dirinya sebelumnya.

Grace mendecakkan lidahnya. Ia memutar bola matanya sambil bergumam, “Menyebalkan.”

“Kau bisa menelusuri lantai atas sekarang, alih-alih bersantai di sini.”

“Kau gila, haruskah aku menghabiskan waktu makan siangku yang sempit untuk menelusurinya sendirian?”

“Mengapa tidak? Kau punya kesempatan untuk itu,” tandas Jo. Ia meletakkan kopinya di atas meja lalu duduk di kursi.

Grace melipat kedua tangannya. “Nona Kim akan menyemburku dengan omelannya kalau melihatku berkeliaran seperti itu.”

“Apa aku terlihat peduli?” tanya Jo lagi dengan kalimat yang sama persis seperti sebelumnya. Kalimat itu seketika menjadi kalimat favoritnya.

“Jo, aku serius.” Grace mendekati Jo lalu menumpu kedua tangannya di atas meja. Permukaan kopi meriak karena getaran yang ditimbulkan dari sentuhan telapak tangan Grace pada meja. Kini, posisi wajah Grace lebih tinggi daripada Jo sehingga pria itu harus mendongak untuk memandang wajah Grace. “Aku harus segera mengetahui seluruh isi gedung secepatnya.”

Jo mengerutkan dahi. “Kenapa harus secepatnya?”

Grace mengatupkan bibirnya. Ia menghela napas. “Lebih cepat lebih baik.”

“Kenapa lebih baik?” Jo bertanya lagi.

“Kau ini banyak tanya!” Grace menggebrak meja sehingga riak permukaan kopi di gelas Jo bergetar lebih cepat.

“Itu tak menjawab pertanyaanku, Grace.”

Grace mengusap wajahnya. “Waktuku singkat, Jo.”

“Berapa lama lagi?” Jo memandang wajah Grace yang kian memerah karena naik darah.

“Tiga minggu.”

“Bukankah kontrakmu masih empat bulan lagi?”

Grace memutar bola matanya. “Setelah itu, aku gila-gilaan dengan proyek lain.”

Jo mengangguk. “Masuk akal.”

“Jadi?” Grace menatap Jo dalam-dalam walaupun pria itu tak tertarik menatapnya.

Pintu pantri yang terbuka mengejutkan keduanya. Grace melangkah mundur menjauhi Jo. Pandangannya terpaku pada seorang wanita tinggi dengan riasan wajah nyentrik yang sedang berdiri di bibir pintu.

“Berpacaran saat jam kerja, huh?” tanya wanita itu sambil melipat kedua tangan di dadanya.

“B-bukan begitu, Nona Kim. Aku… aku hanya—“

“Jika kau tak makan siang, kembali bekerja. Kau tahu, pekerjaan kita masih banyak, Grace!”

Grace melirik Jo yang melongo saat memandang Nona Kim. Pria itu sama sekali tak membantu saat Grace disudutkan oleh wanita cerewet itu. Sudah bisa dipastikan, Jo seperti melihat hantu merah yang gentayangan sebab bulu-bulu di lengannya tiba-tiba berdiri begitu wanita itu datang.

“Tunggu apalagi? Cepat, kembali bekerja!” suara Nona Kim yang melengking membuyarkan pikiran Grace.

“Ah, iya,” sahut Grace. Ia melangkahkan kakinya untuk meninggalkan pantri. Grace melirik Jo saat melewatinya lalu berbisik, “Sudah kukatakan barusan, langsung kejadian, kan?”

Jo mengangguk pelan, sebisa mungkin gerakannya tak begitu mencolok di mata Nona Kim. Kemudian, ia berbisik saat Grace mendekati pintu pantri. “Malam ini jam sebelas, di depan gerbang.”

Grace membentuk bulatan dengan dua jarinya, tanda bahwa ia setuju dengan usul Jo. Kemudian, ia pun keluar dari pantri dan menghilang di balik dinding yang menyekat ruangan.

Malam ini adalah janji pertama untuk bertemu dengan Grace di luar jam kantor. Jo menyunggingkan senyumnya sambil menyesap kopinya saat matanya terpaku pada pintu yang tertutup perlahan. Seketika bibirnya terbakar dengan cairan kopi yang masih mengepul. “Sial, panas!”

***

Matahari undur diri dan berganti posisi dengan bulan. Malam itu, bulan bersinar terang dan terbingkai sempurna pada jendela raksasa yang menempel di dinding. Lampu-lampu lorong sudah mati sebagian, hanya satu ruangan yang masih terang sebab di dalam ruangan itu terdapat seorang pegawai yang masih sibuk dengan mesin dan papan ketiknya.

Sore itu, Grace sudah bersiap-siap untuk pulang. Janji dengan Jo tak mungkin ia lupakan. Rencananya, ia akan tidur sejenak lalu kembali ke kantor untuk berpatroli malam bersama Jo. Namun, rencananya yang sudah disusun sedemikian rupa tiba-tiba berantakan setelah Nona Kim menghampirinya dengan setumpuk kertas berjilid-jilid.

Buku-buku yang disusun dari ratusan bahkan ribuan kertas itu berdebuk saat menghantam permukaan meja kerja Grace. Jari-jari Grace seketika lemas saat melihat tumpukan kertas berjilid itu. Ia menengadah untuk memandang wajah orang yang baru saja meletakkannya di atas meja.

“Kalau bisa, kau lembur malam ini. Tenggat waktu tinggal seminggu untuk menyelesaikan semua ini.” Nona Kim meletakkan satu per satu jilid kertas yang sampulnya berbeda-beda sambil menjelaskan rincian pekerjaan yang harus dikerjakannya satu per satu setiap kali ia membuka sampul pada satu jilid dokumen.

“Apakah aku harus mengerjakan ini semua sendirian?”

Nona Kim mengangguk sambil memainkan kukunya yang dipoles dengan cat berwarna merah darah. “Iya.”

“Mengapa tidak berbagi tugas dengan yang lainnya? Aku mengerjakan ini dalam seminggu, mustahil, aku masih punya pekerjaan yang la—“

Nona Kim mendesis sehingga membuat Grace berhenti berbicara. “Kerjakan saja, rekanmu yang lain sudah mendapatkan porsinya masing-masing. Oh iya, lagipula, itu tugas dari Tuan Ray. Kuharap kau melakukannya dengan baik.”

“Tapi, sebanyak ini?” Grace melirik tumpukan kertas berjilid yang hampir setinggi kepalanya.

“Selamat mengerjakan tugasmu!” Nona Kim menepuk bahu Grace lalu segera meninggalkan ruangan kerja itu.

Grace mendengus kesal. Ia meremas rambutnya hingga rambutnya yang dikucir rapi jadi acak-acakan. “Sial, pria kurang ajar itu sekarang ingin bermain-main denganku.”

Grace menatap layar monitornya yang menampilkan aplikasi untuk mengetik dengan kertas putih kosong yang terpampang. Lantas, ia mengusap wajahnya. Mau tidak mau, ia harus segera menyelesaikannya. Sekitar sembilan jilid dokumen tebal harus dikerjakan gadis itu dalam waktu satu minggu, belum lagi pekerjaan yang datang saat jam kerja normal, itu baru beban yang diterima saat ia bekerja di anak perusahaan milik Ray. Ditambah lagi beban yang harus ia pikul karena mengabdi kepada Jun. Bahunya kini benar-benar terasa berat memikul tanggung jawab yang semakin sarat.

Grace melirik jam yang menggantung di dinding. Empat jam, seharusnya dia bisa menyelesaikan setidaknya satu dari sembilan jilid pekerjaan tambahan yang harus dikerjakan. Ia meregangkan jari-jari hingga berbunyi lalu mulai bertempur dengan pekerjaannya sembari berharap ada waktu untuk menemui Jo walaupun hanya untuk membatalkan janji.

Jari-jari Grace menari di atas papan ketik. Suara jari dan papan ketik yang berdetik bersenandung bersama dengan jarum detik yang terpampang di dinding. Keheningan semakin lama semakin pekat. Kegelapan juga perlahan merambat. Lampu-lampu lorong mulai dimatikan, hanya lampu ruang kerjanya saja yang menyala.

Berulang kali, mata Grace melirik jam dinding. Waktunya semakin sempit sedangkan pekerjaannya belum selesai sesuai target. Grace meningkatkan kecepatan jari-jarinya, suara papan ketik semakin nyaring dan iramanya semakin membuat jantungnya berdebar lebih cepat. Ia yakin, Jo sekarang sudah berada di perjalanan untuk bertemu dengannya.

Saat matanya fokus pada layar, suara deritan pintu terdengar. Grace tak melirik ke arah pintu, ia tak begitu peduli dengan orang yang datang.

“Aku belum selesai, jangan dikunci dulu,” ucap Grace.

“Kau suka dengan pekerjaanmu yang baru?”

Suara itu sangat familiar di telinga Grace. Jari Grace berhenti bergerak. Ia melirik ke arah seseorang yang baru saja masuk ke ruangannya. “Kau suka melihatku menderita?”

Lantas, pria itu duduk di sofa yang terletak dekat jendela raksasa. Ia mendongak menatap rembulan yang bersinar terang. “Rembulan di luar sana bercahaya begitu indah. Padahal tadinya aku datang ke sini untuk memandang rembulanku, ternyata sekarang sedang mendung, ya?”

“Kalau kau datang untuk menggangguku, lebih baik kau keluar saja.” Grace kembali menggerakkan jari-jarinya. Ia tak ingin waktunya terbuang sia-sia hanya untuk menanggapi ucapan pria yang sama sekali tak berguna.

“Tutup saja pekerjaanmu, lalu pulang bersamaku.”

“Itu sama sekali tak akan menyelamatkanku dari amukan Nona Kim,” gumam Grace.

Pria itu tertawa. Ia bangkit dan berjalan mendekati Grace kemudian kedua kakinya terpasak di lantai. Ia berdiri di samping meja kerja gadis itu sambil kedua tangannya bertumpu pada permukaan meja. Matanya menilik wajah gadis itu. “Kau tak kenal aku? Aku, Raymond Arnoldi, yang bisa membuat Nona Kim berhenti mengomelimu bahkan berhenti muncul di hadapanmu. Selain itu, aku juga bisa mengurangi beban pekerjaanmu.”

“Caranya?” Grace berhenti mengetik.

Pria itu menyeringai sambil melirik jari-jari Grace yang tiba-tiba berhenti. “Tutup saja pekerjaanmu, lalu pulanglah bersamaku.”

Grace berpikir sejenak. Tinggal setengah jam lagi menuju janji temu dengan Jo. Jika dipikirkan kembali, pekerjaan Grace baru selesai dua per tiganya sedangkan ia harus menyelesaikannya malam ini juga. Namun, kendalanya adalah ia dikejar waktu untuk janji temu bersama Jo. Waktu yang tersisa tak akan cukup untuk menyelesaikan pekerjaannya itu, jika bersamaan dengan janji untuk bertemu Jo.

Maka, Grace pun mengambil keputusan. Jika pekerjaannya tak selesai, setidaknya pekerjaannya berkurang dan malam ini ia bisa pergi untuk menemui Jo. Urusan Ray yang ingin mengantarnya pulang, dia bisa saja beralasan untuk turun di tengah jalan.

“Hanya untuk malam ini saja.” Grace mematikan komputernya. Cahaya meredup dari layar. Grace segera menyambar tas tangannya lalu bangkit.

Ray menyeringai. Ia berjalan keluar diikuti Grace di belakangnya. Grace pun mematikan lampu ruang kerjanya. Kemudian, bersama dengan bosnya, ia menaiki mobil hitam yang pernah dilihatnya sebelumnya saat patroli malam pertama kali bersama Jo. Mobil melesat meninggalkan area gedung perkantoran.

Sementara itu, Jo sudah siap menanti Grace sejak pukul setengah sepuluh di bawah pohon rindang yang tertanam di samping gerbang kantor. Jalanan terlihat gelap tidak sepenuhnya dicakup oleh cahaya lampu jalanan. Bahkan, keberadaan Jo tak bisa dilihat dari jarak seratus meter. Ini adalah janji pertemuan yang pertama, Jo tidak ingin membuat Grace menunggu untuk kencan pertamanya.

Setelah menanti hampir satu jam lamanya, Jo melihat mobil hitam yang tak asing untuknya sedang melintasi gerbang kantor. Jo sudah biasa melihat mobil itu pulang selarut ini, biasanya pemiliknya selalu pergi bersama seorang wanita di sisinya.

Mobil hitam itu melesat pergi dari kantor melewati Jo yang sedang menanti seseorang. Jo mungkin tak ada urusan apa pun dengan pemilik mobil itu tetapi mata Jo tak bisa teralihkan dari mobil yang kian jauh darinya. Sebab, seseorang yang dia tunggu justru pergi bersama si pemilik mobil hitam.

Dada Jo terasa sesak saat melihat seseorang yang ia tunggu justru duduk bersebelahan dengan sang pemimpin perusahaan pada hari kencan pertamanya. Sungguh, ia berharap agar gadis itu tidak melakukan hal yang bahkan tidak sanggup ia bayangkan.

***

Jo duduk di trotoar sambil menanti Grace. Barangkali, gadis itu lupa bahwa ia punya janji dengannya. Jo akan tetap setia menunggu walaupun setengah hatinya saat ini sudah hangus terbakar api kecemburuan. Ia memandang rembulan yang berseri. “Kenapa kau berseri saat aku sedang mengalami hal seperti ini, sedangkan saat itu kau malah bersembunyi? Kau senang melihatku seperti ini, huh?”

Jo menyomot kerikil kecil dan melemparnya ke tiang listrik dengan kekuatan penuh hingga batu dan tiang besi itu berdenting dengan keras. Jo kembali duduk di trotoar, mungkin ia akan menanti di sana sampai Grace kembali.

“Kudengar, kau dekat dengan Jo.” Ray membuka pembicaraan setelah beberapa menit disapu keheningan.

“Iya, kami memang dekat.”

Grace memandang ke luar jendela. Sudah sejak awal, ia ingin sekali melompat keluar dari mobil itu. Perasaan resah itu berkecamuk dalam dadanya. Namun, Grace mengulurnya hingga setengah perjalanan agar tak terlalu mencurigakan.

“Apakah benar kau berpacaran dengan Jo?” tanya Ray.

Grace melirik Ray. Wajahnya benar-benar datar, air mukanya begitu keruh menyiratkan macam-macam pemikiran yang menggumpal di dalam benaknya.

“Kau tukang gosip juga seperti karyawan-karyawanmu, ya?”

“Bukan begitu. Maksudku, setidaknya, aku mengonfirmasinya langsung kepadamu. Sejujurnya, aku tak begitu suka dengan rumor yang merebak tetapi untuk rumor yang satu ini… aku merasa kalah saing dengan seorang satpam.”

“Status sosialmu tak berpengaruh apa-apa untuk urusan asmaraku.”

Lengang sejenak.

“Kau mau naik pangkat?” tanya Ray sesekali melirik Grace yang sedari tadi membuang muka.

“Mengapa kau menanyakan hal itu tiba-tiba? Aku bahkan tak tertarik sama sekali.”

“Baiklah.” Ray kembali menatap lurus ke depan. “Hubungi aku jika kau tertarik. Maka, kita akan membicarakannya lagi di ruang kerjaku.”

Grace menoleh setelah mendengar ucapan Ray. Itu adalah ruangan yang ia tuju. Hanya dengan memegang kartu AS, Grace bisa mendapatkan akses eksklusif untuk masuk ke sana. Namun, seketika Grace teringat pada Jo sesaat setelah membicarakan ruang kerja Ray. Waktu Jo dan perjuangan patroli itu akan sia-sia dalam hitungan detik saja.

Grace melirik jam tangannya, jarum jam menunjukkan pukul sebelas lebih sepuluh menit. Jo pasti sedang menunggunya. Sebenarnya, perjalanan dari kantor menuju rumahnya tidak memakan begitu banyak waktu. Akan tetapi, setengah jam telah berlalu sia-sia sebab pria itu mengambil akses jalan yang panjang untuk mengulur waktu bersamanya.

“Turunkan aku di depan!” Grace menunjuk sebuah halte yang sepi. “Rumahku tak jauh dari sini. Aku akan naik taksi.”

“Tidak, aku akan mengantarmu ke rumah.”

Alih-alih menginjak rem, Ray justru menginjak pedal gas saat melewati halte itu. Grace mengusap wajahnya. Pikirannya terus berjalan, ia memperhatikan trotoar di sisi jalan sambil mencari tempat untuk bersembunyi.

Grace memberhentikan Ray saat melewati sebuah toko kecil. “Berhenti!”

Ray menginjak rem sekaligus membuat tubuh keduanya tersungkur karena rem mendadak.

“Sudah sampai, rumahku ada di gang kecil ini. Mobilmu tak akan bisa masuk. Jadi, aku turun di depan sini saja. Terima kasih atas tumpangannya.”

Grace terburu-buru menyandang tas di bahunya lalu keluar dari mobil Ray. Ia pun melangkah sesantai mungkin memasuki gang kecil yang diterangi oleh remang cahaya lampu. Gang itu agak gelap, membuat tubuh Grace yang semula terbingkai bias cahaya lampu, seketika dilahap kegelapan begitu memasuki gang kecil itu.

Mobil hitam melaju dengan cepat meninggalkan tempat pemberhentian Grace setelah sepuluh menit berlalu. Pria itu benar-benar gigih untuk mendekati Grace, bahkan ia sampai rela menunggu untuk memastikan bahwa Grace tak membohonginya. Grace mengintip dari balik dinding, mobil itu sudah menghilang dari pandangannya. Ia pun berjalan cepat ke tepi jalan untuk memberhentikan kendaraan apa pun yang lewat.

Setelah menunggu, sebuah taksi melintas di depannya. Ia memberhentikannya lalu naik dengan tergesa-gesa. Mobil taksi langsung menancap gas setelah gadis itu menutup pintunya. Jarum jam kini sudah menunjukkan pukul dua belas kurang sepuluh menit. Jarak pemberhentiannya dengan kantornya sangat jauh, ini akibat Ray yang sengaja membawanya berkeliling kota untuk mengulur waktu.

“Tuan, bisa lebih cepat?” pinta Grace.

Jantung Grace berdebar kencang seolah diburu waktu. Sudah terlambat hampir satu jam, Grace berharap Jo ada di sana. Beberapa puluh meter dari sana, Grace melihat Jo sedang duduk di atas motornya. Taksi semakin merapat ke area perkantoran, Grace merogoh tasnya dan mengambil uang sedapatnya dari dalam tas.

“Bawa saja uang kembaliannya, Tuan.”

Berdebam. Grace membanting pintu taksi saat tatapan bingung dari sopir taksi itu menyudutkannya. Namun, Grace tidak peduli. Satu-satunya hal yang ia pedulikan adalah Jo. Pria itu menaiki motornya saat Grace sedang mencari uang di dalam tasnya untuk membayar ongkos taksi. Grace berlari mengejar pria itu tetapi laju motor pria itu jauh lebih cepat daripada dia.

Grace terengah-engah sambil memegang kedua lututnya. Seseorang menepuk bahunya, Grace menoleh ke arahnya.

“Uangnya kurang, Nona,” ucap sopir taksi yang baru saja ditumpangi taksinya oleh Grace.

Grace mengangguk paham. Ia melangkah gontai menghampiri taksi yang terparkir di bahu jalan. “Iya, antar saya pulang, Tuan. Nanti uangnya saya bayarkan sekalian dengan ongkos pulang.”

Sepanjang perjalanan, Grace terdiam memandang ke luar jendela. Kekecewaan meredam perasaannya hingga membuatnya tenggelam. Waktu tak mengizinkan mereka untuk bertemu walaupun hanya sepersekian detik saja.

— B E R S A M B U N G —

Baca kelanjutan kisah: Reverse

Cerita Bersambung: Reverse [Bagian 5: Janji]

Ditulis oleh: Michiko

12 Februari 2021

Cerita Bersambung: Reverse [Bagian 4: Patroli Malam]

6:10 PM 0 Comments
Harga dirinya seketika terinjak oleh ucapan gadis itu. Ray tertawa hambar seraya bergumam, “Kau terlihat murah tapi sok jual mahal, Grace.”
***
Dahi Grace seketika mengerut. Wajahnya bak abstrak yang terlukis pada sebuah kanvas. Tidak terdefinisikan emosi apa yang terpatri di wajahnya antara marah, bingung, jijik, atau semacamnya. “Mustahil, tak ada yang perlu aku banggakan tentang hal ini. Justru sebaliknya, aku sudah muak bertemu dengannya. Beribu alasan aku berikan untuk menghindari pria itu tapi dia tidak juga berhenti. Aku sampai rela menahan perut keronconganku hanya demi menolak ajakannya.”

Senyum kecil mengembang perlahan di bibir Jo. Setelah mendengar ucapan gadis yang begitu geram digoda oleh atasannya, perasaannya jauh terasa lebih lega dari sebelumnya. Setidaknya, ia tahu bahwa gadis itu tak menyukai bosnya apalagi memiliki perasaan pribadi terhadap bosnya itu. Jo menyeringai seraya menyeruput kopinya. “Sebaiknya, kau hindari saja dia. Dia orang yang tak bisa ditebak.”

Baca kisah selengkapnya: Reverse Bagian 3 - Target Utama

Bagian 4: Patroli Malam

Jingga mengungkung langit petang. Langit bersemburat cahaya kemerah-merahan membingkai awan. Sedikit redum menghalangi surya yang bersembunyi di kaki langit. Tampaknya nanti malam hujan meskipun sebagian langit di ufuk lain terlihat terang dengan kemilauan senja yang indah.

Gedung perkantoran juga tampak sunyi dan redup, minim dengan cahaya lampu. Sinar matahari tak lagi menerangi keseluruhan lobi berdinding kaca raksasa. Beberapa karyawan yang pulang terlambat juga sudah mulai meninggalkan area perkantoran saat seorang pria berseragam hitam baru saja datang dan memarkirkan motornya di bawah naungan pohon yang rimbun.

“Jo, apa jadwal kerjamu masih di malam hari?”

Suara itu sudah familiar di telinganya. Suara seorang gadis pemarah yang suka bercerita panjang lebar tentang kehidupan pekerjaannya yang sangat sulit, apalagi setelah digoda oleh atasannya. Benar saja, saat Jo menoleh sembari melepaskan jaketnya, seorang gadis dengan rambut panjang dikucir kuda menjulurkan kepalanya dari balik pintu pos yang terbuka.

“Iya, untuk beberapa hari ini.” Jo menggantungkan jaketnya. “Hari ini istri Ed melahirkan. Setelah Ed selesai cuti, aku punya jadwal normal lagi. Kecuali, jika aku mendapatkan giliran untuk berjaga malam. Kau belum pulang, Grace?”

“Oh, bagus kalau begitu. Aku mau ikut jaga malam bersamamu.”

Jo mengerutkan dahi saat mendapati Grace tiba-tiba menyelonong ke posnya. Kemudian, Jo mendorong bahu gadis itu agar segera menyingkir. “Mengapa kau selalu membuntutiku? Minggir!”

“Ah, kau ini kenapa kasar sekali dengan wanita?” Grace tak ingin kalah. Ia balas mendorong Jo. Kekuatan gadis itu rupanya tak kalah dengan kekuatan satpam muda itu sehingga dorongannya membuat Jo yang tak siap menjejakkan kakinya di lantai doyong. Grace tak peduli Jo jatuh atau tidak, ia langsung membuang muka ke arah gedung bertingkat yang kokoh berdiri dari balik jendela pos satpam. “Siapa yang ingin membuntutimu? Aku ingin menelusuri gedung bertingkat itu, Jo. Ini kesempatanku untuk mengetahui lebih jauh tentang perusahaan ini.”

“Lantas, kau mau apa setelah tahu semuanya? Menjilat Tuan Ray?”

Grace menoleh. Sepersekian detik ia menatap wajah Jo lalu ia tertawa. “Konyol, apakah dengan mengetahui segalanya tentang perusahaan ini aku akan naik pangkat?”

Jo mengangkat bahu. “Bisa saja, kalau kau bisa menggunakan otakmu.”

“Jadi, menurutmu aku bodoh?” Kedua mata Grace menyipit. Bola matanya mengacungkan ujung tombak saat menatap Jo dengan tajam.

“Bagus, kalau kau sadar.” Jo menyeringai melihat air muka gadis itu. Ia tahu bahwa singa yang tidur dalam diri gadis itu mulai terbangun. “Sekarang, pergilah!”

“Sialan!” Grace menendang betis Jo yang kaku dengan ujung kakinya. Grace mengetuk meja dengan ujung telunjuknya. “Pokoknya, aku akan tetap di sini. Ikut bersamamu setiap malam!”

“Merepotkan saja. Banyak tugas yang harus aku kerjakan. Jadi, untuk apa membuntutiku setiap malam?”

Grace mengibaskan tangannya menepis ucapan Jo agar tak masuk ke dalam gendang telinganya. “Kerjakan saja tugasmu, aku tak akan mengganggu.”

“Kenapa kau tidak menelusuri kantor ini esok hari sendirian?” Jo mulai merasa kesal. Wanita itu benar-benar keras kepala dan tidak pernah mau mendengarkan alasan ataupun sarannya.

Grace mengibaskan kucir rambutnya lalu menyampirkannya ke bahu. Sambil menyisir rambutnya dengan jari, Grace menatap Jo. Mata Grace seketika berbinar melemparkan cahaya yang lebih indah daripada bintang kejora. Tatapan gadis itu seolah menutup mulut Jo secara perlahan. Senyuman Grace merekah di bibirnya bak bunga indah yang bersemi. “Karena aku mau menghabiskan waktu bersamamu sepanjang malam.”

Jo terpaku. Lidahnya kelu. Jantungnya nyaris berhenti saat kedua tatapan mereka saling beradu. Jo memutar bola matanya seolah meminta bantuan kepada orang di sekitarnya untuk membawanya pergi dari situasi ini. Bulu-bulu di lengannya pun meremang. “A-apa kau sedang menggodaku sekarang?”

Grace menyeringai lalu mengalihkan pandangannya pada bulu halus di lengan Jo yang mulai berdiri. “Iya. Kenapa? Kau tergoda, ya? Tampaknya, kau merinding.”

Jo melirik lengannya yang berbulu lebat. Dengan cepat ia mengusap lengannya untuk menidurkan bulu-bulu yang berdiri. “Mana mungkin aku tergoda dengan wanita Hulk macam kau! Membayangkan Nona Hulk melakukan hal seperti itu saja… ih, lihat! Aku benar-benar merinding sekarang.” Jo mengulurkan kedua lengannya untuk menunjukkan bulu-bulu halus di lengannya yang berdiri. Setidaknya, Jo tidak perlu menutupi bulunya lagi sebab ia sudah menemukan alasan untuk menyangkal ucapan Grace.

Nona Hulk?” Suara Grace meninggi. Wajahnya seketika memerah mendengar julukan itu juga diucapkan oleh Jo. Jelas saja ia merasa malu sekaligus marah, julukan itu menyebar dengan cepat saat ia membanting Ray di depan para karyawan. Grace menepuk lengan Jo sampai bunyi kulit yang bertumbukan itu terdengar nyaring. Dari suaranya, sudah pasti tamparan Grace sangat dahsyat, apalagi setelahnya lengan Jo berangsur memerah. Grace menatap Jo tajam bak harimau yang siap menerkam lawan. “Tarik ucapanmu, Pria Berbulu!”

Jo seketika menyambar lampu senter yang tergeletak di atas meja setelah menyulut amarah gadis itu. Tanpa menjawab ucapan Grace, Jo langsung mengacir keluar dari pos satpam.

Grace berdiri dari tempat duduknya. Kedua telapak tangannya menggebrak meja seraya berteriak dari balik kaca. “Mau ke mana kau?”

“Kabur dari amukan Nona Hulk!” Jo berteriak sembari berlari menuju gedung perkantoran. Suaranya merebak ke langit petang sehingga tak begitu nyaring terdengar.
***
Senja larut dalam kegelapan malam. Cahaya redup lampu taman berpendar menerangi sebagian area perkantoran. Langit malam makin berselimut awan yang kian sabak. Bintang-bintang yang malu menampakkan kilauannya bersembunyi di balik awan.

Jo yang telah kembali ke pos setelah menjalankan tugas pertamanya, kini harus memulai tugas kedua. Dua jam telah berlalu setelah sesi istirahatnya, pria itu masih duduk ditemani gadis yang tadi sore mengamuk karena disebut Nona Hulk.

Sejak beberapa menit yang lalu, pertanyaan gadis itu tiada henti mengganggu ketenangan istirahat Jo. “Jo, kapan kita patroli malam?”

“Satu jam lagi.”

“Sekarang saja, Jo!” Grace tetap memaksa, padahal Jo baru saja duduk di kursinya setelah mengelilingi area perkantoran untuk menyalakan lampu.

“Kalau kau mau patroli sekarang, pergi saja sendiri.” Jo menghempaskan punggungnya pada sandaran kursi.

Grace menutup mulutnya. Ia melemparkan pandangannya ke arah gedung tinggi dan tak lagi berbicara kepada Jo.

Jo merasa bersalah setelah mengucapkan hal itu. Ia melirik Grace yang seketika merenung hanya dalam hitungan beberapa detik setelah mendengar jawabannya. Saat itu pula ia berubah pikiran, gadis itu pasti lelah setelah bekerja pada siang hari sedangkan ia harus menunggu selama satu jam lagi hanya untuk ikut berpatroli. Namun, Jo terlanjur berkata tidak, ia gengsi untuk mengatakan kalau ia berubah pikiran.

Kilatan petir membelah horizon secara vertikal. Rinai hujan berjatuhan menyerbu bumi. Kesempatan baik untuk mengubah keputusan. Jo pun menyambar lampu senter yang diletakkannya di atas meja.

“Ayo pergi sekarang!” Jo berjalan keluar dari posnya.

Grace yang semula menatap gedung perkantoran, menoleh ke arah Jo yang berdiri di ambang pintu. “Tadi kau bilang satu jam lagi.”

“Hujan,” singkat Jo. Ia tak ingin menjelaskan lebih banyak lagi tentang alasan utamanya untuk berubah pikiran.

Senyuman seketika merekah pada bibir merah gadis itu. Dengan sigap, ia langsung berdiri dan berlari kecil menghampiri Jo. Grace dan Jo berjalan beriringan memasuki gedung perkantoran. Lampu yang ada di lobi berpendar menembus jendela raksasa hingga cahayanya turut menerangi teras gedung perkantoran yang kurang penerangan.

Derap langkah kaki keduanya terdengar menggema di sepanjang koridor lantai dua. Grace membuntuti Jo dari belakang saat pria itu memasuki ruangan. Ruangan dengan dinding bercat biru muda menyambutnya. Cat biru langit memberikan kesan luas terhadap ruangan itu. Meja-meja kayu yang dipernis ditata sedemikian rupa hingga menciptakan ruang kerja yang begitu nyaman.

Satu meja besar diletakkan di tengah ruangan dengan sepuluh kursi yang melingkarinya. Sepuluh meja menghadap ke dinding dengan komputer yang bertengger di atasnya. Di bagian kanan ruangan dari pintu masuk terdapat sofa panjang yang diletakkan persis berdempetan dengan jendela raksasa yang menghadap ke arah barat. Pada sore hari, jendela raksasa itu membingkai pemandangan senja yang indah. Namun, malam ini, awan hitam yang menggumpal terpampang bak lukisan kelam pada kanvas raksasa.

Beberapa meja tertata dengan rapi, tak ada kertas-kertas berserakan. Figura kecil dengan foto keluarga dipajang di atasnya. Beberapa ada yang meletakkan tanaman hias kecil di mejanya. Sebaliknya, beberapa meja lainnya justru berantakan, berserakan kertas-kertas yang entah penting atau tidak bagi pemiliknya, sepertinya pemilik meja itu sudah dikejar waktu untuk kembali ke rumah dan merebahkan tubuhnya.

Setelah memeriksa seisi ruangan yang luas itu, Jo mematikan lampu ruangan. Gelap seketika menyelimuti ruangan. Setelah itu, Jo berbelok ke ujung lorong dari pintu masuk untuk mematikan lampu toilet dan pantri lantai dua.

“Di lantai dua juga ada pantri?” Grace mengintip ruangan pantri yang tak jauh berbeda tata letaknya dengan ruang pantri di dekat ruang kerjanya.

Jo menutup pintu pantri dan mematikan lampu yang menerangi lantai dua. Ia berjalan menuruni tangga darurat yang terletak di sebelahnya. “Menurutmu, hanya departemenmu saja yang butuh makan?”

Grace menoleh ke belakang setelah lantai dua benar-benar gelap gulita. Cahaya merah menyala di sudut lorong. Jo dan Grace mulai menaiki anak tangga satu per satu. Jo melangkahkan kakinya terlebih dahulu dan Grace mengikutinya dari belakang. Tangga itu tidak diterangi oleh pencahayaan yang cukup sebab lampu-lampu lantai sebelumnya sudah dimatikan.

“Lalu, mengapa kau selalu datang ke pantri di lantai atas? Padahal kau hanya perlu naik satu lantai untuk menyeduh kopi.”

Jo terdiam. Kakinya seketika berhenti, membuat gadis itu juga turut berhenti.

“Ada apa?” Grace bertanya karena langkahnya terhambat.

Jo menoleh ke belakang guna melirik gadis yang berjalan di belakangnya. Ia merapatkan diri ke dinding. “Kau jalan duluan saja.”

“Aku baik-baik saja di belakangmu, Jo.”

“Kalau kau jatuh, kau bisa menghancurkan gedung ini.”

Alis Grace mencureng. “Hey! Memangnya aku apa?”

“Nona Hulk.”

Kepalan tinju menghantam pipi Jo seketika. Grace pun melangkahkan kakinya sambil menghentakkan kakinya dengan kedua tinju yang mengepal. “Berhenti menyebutku dengan julukan itu!”

Hantaman tinju Grace di pipinya benar-benar kuat. Rahangnya terasa ngilu setelah mendapatkan pukulan di pipinya. Beruntung, rahangnya tidak bergeser. Jo memegang pipinya sambil sedikit meregangkan rahangnya. Ia meringis pelan saat memandang Grace yang kian jauh darinya.

“Tak akan lagi aku berurusan dengan Nona Ekstra Hulk.” Jo pun turut melangkahkan kakinya untuk menaiki tangga.

Kali ini, Grace hanya berdiri di sepanjang lorong menunggu Jo selesai berpatroli di dalam ruang kerja lantai tiga. Bagi Grace, itu bukanlah hal yang penting, tujuannya yang sebenarnya hanyalah ruangan kerja Ray sehingga ia seharusnya ikut dengan Jo hanya jika Jo berpatroli di lantai tertinggi. Namun, ia tak bisa melakukannya begitu saja, karena hal itu akan sangat mencurigakan jika Grace hanya ikut dengan Jo untuk mengunjungi ruangan kerja Ray.

“Jo, kau masih lama?” Grace menjulurkan kepalanya di ambang pintu.

“Kau sudah lelah?” jawab Jo yang entah ada di mana tetapi suaranya jelas terdengar.

“Iya, begitulah.”

“Kau kembali duluan saja, aku akan kembali ke pos satpam secepatnya. Sebentar, kau bisa bawa senterku.” Jo muncul dari balik bilik yang menyekat ruangan luas itu. Entah apa kegunaannya, Grace tak begitu memedulikannya.

“Tidak perlu, aku punya mata kucing. Aku pergi duluan. Dah!”

Belum sempat Jo menghampirinya, gadis itu sudah pergi menuruni tangga dan meninggalkan gedung.
***
“Di mana monitor pengawasnya?”

Grace membuka beberapa petak loker yang ada di pos satpam. Televisi sudah dinyalakan tetapi televisi itu hanya terhubung dengan antena untuk mengusir kebosanan. Ide gila terlintas, mungkin monitor itu disembunyikan sehingga saat ini Grace sedang mencari monitor pengawas yang terhubung dengan CCTV di dalam gedung kantor. Namun, beberapa loker yang terbuka sama sekali tak menunjukkan alat elektronik apa pun.

Grace yang tak kunjung menemukan monitor pengawas itu merasa keheranan. Grace menggigit kuku jempolnya. Matanya bak mata burung elang menyelisik setiap sudut ruangan dengan hati-hati. “Tak mungkin tidak ada, lalu apa gunanya CCTV yang terpasang di sana?”

Sorot lampu membias dari balik jendela. Grace segera menutup seluruh pintu loker yang terbuka. Ia duduk di kursinya sambil melipat kedua tangannya di atas meja dan menyembunyikan wajah di balik dekapannya. Jo telah kembali dari patroli malamnya.

Hujan semakin deras menghujam alam. Cahaya kilat menerangi langit sepersekian detik disusul petir yang mengakar di kaki langit. Jo yang baru keluar dari gedung seketika tersabur derai hujan saat berlari ke pos satpam. Bajunya basah kuyup diterpa bulir air hujan yang menyerbu. Langkahnya terhenti saat mendapati Grace yang tertunduk di balik dekapan lengannya. Ia tersenyum kecil, sedikit geli mengingat ucapan Grace petang itu.

“Kau bilang mau menghabiskan waktu bersamaku sepanjang malam, nyatanya kau selelah itu untuk melakukannya.” Jo meraih jaketnya yang menggantung lalu menyampirkannya pada bahu gadis itu agar ia merasa hangat.

Entah beberapa menit atau beberapa jam berlalu hingga hujan mulai mereda dan menyisakan bulir hujan yang lebih tipis dari sebelumnya. Jo masih setia duduk di kursinya tepat di samping Grace. Suara rintikan hujan terdengar bagai lagu nina bobo di telinga Grace sehingga ia tertidur sejenak.

Klakson berbunyi, sebuah mobil hitam merapat di gerbang depan. Jo yang semula duduk di kursinya, dengan sigap berlari kecil menembus rintik hujan yang lebih kalem menghujam tubuhnya. Ia membukakan pintu gerbang yang tertutup.

Sementara itu, Grace yang baru saja terbangun dari tidurnya mengintip dari balik jendela pos satpam. Mobil hitam itu asing baginya, ia tak pernah mengingat siapa pemiliknya. Namun, ada hal menarik yang ia temukan di dalamnya. Pria yang selama ini menggodanya, ada di dalam mobil itu bersama seorang wanita.

Grace mencoba mencari tahu siapa wanita yang ada di dalam mobil bersama pria itu. Akan tetapi, mobil hitam itu terlanjur melesat pergi setelah pintu gerbang terbuka lebar. Grace kembali menyembunyikan wajahnya saat Jo menutup gerbang dan kembali duduk di sampingnya.

Waktu kerja Jo sudah selesai tepat pada pukul tiga malam. Saatnya berganti shift dengan rekannya yang baru saja datang, seorang pria yang memiliki perut buncit dan jari yang penuh dengan cincin batu akik, namanya Andi. Pria itu melepaskan jaketnya sambil menilik seseorang yang asing baginya.

Pria itu tidak terlalu dekat dengan Jo, hubungan keduanya agak canggung. Mereka hanya mengobrol seadanya dan seperlunya. Jo tidak pernah bercerita tentang kehidupan pribadinya kepada pria itu. Begitu juga sebaliknya, pria itu juga tidak pernah bercerita tentang kehidupan pribadinya kepada Jo. Sebatas yang Jo tahu, dari hasil menguping pembicaraan rekan kerjanya saat sedang merokok bersama dengan seorang sopir taksi, teman tongkrongan Andi di warung kopi yang kebetulan sedang mampir di posnya, rekan kerjanya yang satu ini punya dua orang anak gadis yang menginjak usia remaja dan salah satunya minta dibelikan telepon genggam yang canggih. Namun, saat pria itu datang dan melihat wajah baru di posnya, baru kali ini lah, pria itu penasaran soal kehidupan pribadi Jo.

“Pacarmu, Jo?”

Jo melirik ke arah gadis yang terlelap di sampingnya. “Bukan, ini Nona Hulk.”

Grace menguping pembicaraan kedua pria yang tak bisa ia lihat wajahnya. Ia seketika mengepalkan tinju, ingin sekali menonjok wajah kedua pria yang sedang berbincang itu.

“Iya, aku tahu. Aku bisa melihatnya dari postur tubuh yang tidak seperti wanita pada umumnya. Aku hanya penasaran, apa dia pacarmu?”

Jo menggelengkan kepalanya. Ia tak ingin menjawab sehingga sedikit berharap bahasa tubuhnya sudah cukup untuk menjawab pertanyaan rekan kerjanya itu.

Pria itu ber-oh pelan, tidak melanjutkan pertanyaan yang sejak tadi sudah berputar-putar di kepalanya. Pria itu urung untuk bertanya, sebab kehadiran gadis itu di pos satpam biarlah menjadi urusan Jo. Toh, dia tidak tahu apa-apa jika ada sesuatu hal yang terjadi.
***
Matahari telah kembali menyambut cakrawala. Kegelapan memudar perlahan bersamaan dengan lelah yang mendekap. Grace terbangun dari tidurnya, entah sejak kapan ia tertidur. Hanya saja, hal terakhir yang ia ingat adalah perbincangan kedua pria yang membicarakannya tadi malam.

Kuciran rambutnya melonggar, rambut cokelatnya juga berantakan, tidak rapi seperti saat ia pergi ke kantor di pagi hari yang biasanya. Anak rambutnya berdiri, membuat keningnya yang lebar terlihat lebih jelas. Grace mengusap poninya yang menghalangi pandangannya, sesekali mengucek matanya yang masih terasa berat.

“Kau sudah selesai mengobrol denganku di dalam mimpimu?” ucap seorang pria yang duduk di sampingnya semalaman.

Pria berseragam itu belum tidur sama sekali. Ia hanya duduk memandang ke luar jendela pos satpam sambil mengawasi area perkantoran—dan menunggu Grace bangun. Namun, gadis itu justru tertidur sangat lelap. Rekan kerjanya juga tidak kembali. Setelah pamitan untuk bertugas, pria itu merasa lega ada Jo yang mengawasi gedung kantor di pos satpam dan tak kunjung kembali hingga pagi.

“Ah, maaf, aku ketiduran,” ucap Grace sambil merapikan rambutnya. Grace meraba bahunya saat ia akan duduk tegak, khawatir jaket Jo yang tersampir di bahunya jatuh. Akan tetapi, jaket itu sudah tidak lagi ada di bahunya, jaket itu menggantung di lengan Jo.

Sebelum Grace bangun, Jo mengambil jaket itu. Ia enggan untuk bersikap hangat kepada wanita, apalagi kalau bersikap hangat kepada Grace, bisa-bisa menjadi bahan bulan-bulanan gadis itu. Terlebih lagi, mereka masih sering bertemu setiap hari.

“Kukira kau sudah pulang.” Grace mengucir rambutnya.

“Tadinya aku ingin meninggalkanmu di pos satpam sendiri.”

“Lalu?”

Jo menutup mulut. Segera, ia bangkit dari tempat duduknya. Tangannya menyambar kunci motor yang diletakkannya di atas meja. “Kau mau pulang tidak?”

“Apa menurutmu aku akan menginap di pos satpam selamanya?” Grace meraih tas tangannya. Ia turut bangkit dari tempat duduknya.

“Di mana tempat tinggalmu?”

“Kau akan mengantarku pulang?” Grace berjalan keluar pos satpam setelah Jo menghampiri motornya yang terparkir di bawah pohon.

Butiran air membasahi jok motor Jo yang kehujanan sepanjang malam. Tanpa melirik ke arah Grace, ia berkata, “Aku seorang gentle man.”

Grace tertawa geli. “Jo, apakah kau sadar saat bicara begitu?”

Jo menoleh ke arah Grace. Ia mengangguk mantap. “Seratus persen sadar. Jadi, kau mau kuantar atau tidak?”

“Aku ada urusan lain, kau pulanglah terlebih dahulu.”

Jo pun menunggangi kuda besinya. Mesin menderu dan kepulan asap menggumpal dihembuskan lubang knalpot.

“Jo!” Grace memanggil Jo yang sedang sibuk menyiapkan mesin motornya.

Jo yang semula sibuk dengan motornya, melirik ke arah gadis yang berdiri di depan pos satpam. Pria itu menyahut, “Apa?”

“Besok aku ikut patroli malam lagi!”

Pria itu mengacungkan jempol ke udara. Jo pergi meninggalkan area perkantoran seraya berteriak, “Selasa dan Jumat!”

Kuda besi pun berlari melintasi gadis itu. Grace memandang kepergian Jo yang mengendarai motornya. Ia turut melangkahkan kaki meninggalkan pos satpam.

Seorang satpam berperut buncit dengan cincin batu akik itu kembali dari patroli malam di warung kopi. Ia berpapasan dengan Grace saat gadis itu melangkah keluar gerbang. Saat melihat Grace pulang sendiri, pria itu mengerutkan alisnya. “Wah, biasanya kalau pulang sendiri sih, sudah bisa dipastikan kalau mereka bertengkar.”

Pria itu pun masuk ke pos satpam setelah mendapatkan gosip terhangat.

— B E R S A M B U N G —

Baca kelanjutan kisahnya: Reverse

Cerita Bersambung: Reverse [Bagian 4: Patroli Malam]

Ditulis oleh: Michiko

6 Februari 2021

Cerita Bersambung: Reverse [Bagian 3: Target Utama]

8:05 PM 0 Comments

Tiga minggu berlalu. Seluruh keperluan dan prosedur “mutasi” ke tempat yang menjadi tujuannya sudah dilaluinya. Berhari-hari, siang dan malam tiada henti, gadis itu mencari seluk-beluk perusahaan yang ia tuju. Di sanalah targetnya bersarang, di sebuah cabang perusahaan yang menggurita. Pewaris keluarga satu-satunya itu benar adanya, juga telah diumumkan di berbagai media cetak dan televisi bahwa ia akan menjadi seorang pewaris tunggal.

Setelah melakukan berbagai riset dan bermacam-macam hal yang harus dilaluinya, Grace berhasil menginjakkan kaki di tempat yang menjadi tujuannya.

Baca kisah selengkapnya: Reverse Bagian 2 - Kamuflase

Bagian 3: Target Utama


Kemeja putih membungkus tubuh pria berusia kepala tiga yang memiliki perawakan tinggi. Kancing kemejanya saling bertautan dengan erat menahan tekanan dadanya yang bidang agar tak melompat sembarang arah. Celana panjang berwarna merah marun juga menyelimuti kedua kakinya yang jenjang, serta jas merah menutupi lekukan otot-ototnya yang terbalut kemeja. 

Pria itu melangkahkan kakinya begitu pintu lift terbuka, membelah kerumunan karyawan yang hendak menghabiskan waktu makan siangnya. Para karyawan yang berdiri di depan pintu lift memberikan jalan untuknya. Beberapa dari mereka terpanah dengan penampilannya hari ini, bisik-bisik terdengar antara mengagumi juga diam-diam menghakimi. Sebagian terpesona, sebagian lagi iri dengan gayanya yang gagah dan berwibawa.

Dengan sengaja, pria itu berhenti di lobi sambil bertanya kepada seorang wanita berbadan kurus dan kecil yang berdiri di meja resepsionis. “Karyawan baru itu sudah keluar dari ruangannya?”

“Nona Grace?” Wanita itu bertanya dengan ramah kepadanya untuk memastikan walaupun pertanyaan itu tak dibutuhkan. 

“Iya, siapa lagi kalau bukan dia?” Pria itu menumpu siku pada meja resepsionis sambil melepas dua buah kancing baju teratasnya yang mencekik lehernya hingga separuh dada bidangnya mengintip di balik celah kemeja.

“Belum, Tuan.” Wanita itu menjawab dengan senyumannya yang lembut walaupun hatinya bersungut-sungut dan ingin sekali ia merengut. Tak ada yang ingin diucapnya lagi kepada pria itu walaupun banyak pertanyaan di kepalanya: Mengapa orang nomor satu di perusahaan ingin bertemu dengan seorang karyawan biasa yang bahkan hanya seorang pegawai kontrak. 

Siang itu, sinar matahari menyeruak di balik awan. Cahayanya membias menerangi birunya payung cakrawala. Penerangan cahaya alami itu menembus dinding-dinding kaca, membuat lobi lantai satu menjadi terang benderang. Wajah-wajah letih pegawai yang berlalu-lalang mencari asupan energi pun sudah mulai terlihat. Pria itu memutuskan untuk duduk di sofa yang telah disediakan sambil menunggu seseorang datang. 

Beberapa menit menunggu, batang hidung wanita yang telah dinantinya pun muncul. Wajah gadis itu tak kalah kusut seperti pegawai lain yang terlihat kelelahan, belum lagi bibirnya berkomat-kamit seperti mengomel kepada angin. Pria itu lantas melompat dari tempat duduknya dan berjalan cepat untuk menyusul langkah kaki gadis itu. Napasnya tersengal saat menyusul gadis itu, belakangan ini dia tak berolahraga sehingga baru berjalan sedikit cepat pun membuat napasnya memburu. 

Pria itu mengulurkan tangannya untuk menyentuh bahu gadis itu. Sontak, lengannya itu dicengkeram dengan kuat dan tubuhnya melayang hanya dalam hitungan beberapa detik. Punggung dan bokongnya membentur lantai. Ia mengaduh saat tubuhnya yang terbanting terasa seperti tulang-tulangnya remuk bagai kaca yang pecah. 

“Astaga! Tuan Ray!” Mata gadis itu melotot seketika, terkejut saat melihat orang yang baru saja ia banting. Namun, ada satu hal baik yang tiba dari insiden itu, kekesalan yang ia rasa sudah sirna sepenuhnya. 

Perhatian orang-orang pun seketika memusat ke arah mereka berdua. Sebagian orang terkejut melihat seorang pria yang jatuh terbanting. Sebagian menatap penasaran dengan apa yang terjadi di antara mereka. Sebagian lainnya lagi menahan gelak tawanya saat melihat pria yang mengaduh karena dibanting oleh seorang wanita.

Grace mengulurkan tangannya, ia berniat untuk membantu pria itu berdiri sebagai bentuk rasa tanggung jawabnya. “Kau baik-baik saja?”

Pria itu meringis. Ia mengusap bokongnya yang menjadi landasan pendaratannya di lantai. Begitu menyadari orang-orang di sekelilingnya menatapnya iba tapi tak membantunya, ia pun berdiri dengan sendirinya. Satu tangannya meraih bahu Grace dan menyeret gadis itu meninggalkan panggung pertunjukan yang tak diinginkan. Sambil berjalan pincang, ia memaksakan diri untuk mengajak Grace pergi.

“Kau wanita yang kuat, Grace. Badanku masih sakit hingga saat ini, kau belajar bela diri di mana?” komentar pria yang sedang duduk di kursi kafetaria sambil memutar sendi lengannya perlahan. 

Tubuh pria itu memang besar dan kokoh seperti batu raksasa tetapi ia batu yang lunak. Tiada hentinya ia meringis sepanjang perjalanan dari gedung kantor ke kafetaria, antara itu benar-benar terasa sakit atau dia hanya mencari perhatian Grace. Kemejanya berantakan, begitu pula rambutnya yang semula disisir rapi kini terlihat lebih acak-acakan. 

Di seberangnya, Grace duduk sambil menatapnya dengan tatapan heran. Heran akan dua hal, yang pertama adalah alasan pria itu membawanya ke sini dan yang kedua adalah hidangan makanan sudah tersedia di hadapannya tanpa ia pesan. Pria itu telah memesankan dua porsi makanan, satu untuk gadis itu dan satu porsi untuknya sendiri. 

“Iya, aku belajar di suatu tempat untuk berjaga-jaga. Tapi sungguh, maafkan aku, Tuan Ray, tadi kau tiba-tiba menyentuhku. Jadi, aku refleks membantingmu seperti itu. Lalu ada satu hal yang ingin kutanyakan padamu, ada perlu apa kau mencariku?” 

“Berjaga-jaga?” Ray menekankan pertanyaannya seolah tak percaya dengan ucapan Grace.

Grace mengangkat bahu. Rasanya terlalu canggung. Seketika kata-kata yang ada di kepalanya menghilang sehingga yang hanya bisa diucapkannya hanyalah, “Iya, begitulah.” 

Pandangan Grace menyusuri seisi ruangan. Kafetaria semula bukanlah tempat yang asing baginya tapi kali ini suasana kafetaria benar-benar berbeda. Atmosfer yang menjalar di punggungnya pun penuh dengan kecanggungan. Ditambah lagi, meja-meja yang ada di sekelilingnya kosong, tak seperti biasanya. Padahal antrean mengular panjang tetapi tak ada satu orang pun yang mengambil langkah untuk mengisi delapan meja kosong yang mengelilingi mejanya. Apakah itu disebabkan oleh kehadiran Ray yang kini duduk di seberangnya? 

“Makanlah! Aku sudah membayarnya.” 

Suara Ray memecah lamunan Grace. Grace mengangguk kaku, bibirnya masih bertaut satu sama lain. Sampai saat ini belum terucap sepatah kata pun. Semua pertanyaan terkait apa, siapa, di mana, mengapa, kapan, bagaimana, berputar-putar di kepalanya. Ia berniat untuk menundanya saja, daripada dianggap sebagai karyawan rendahan yang banyak tanya dan tidak tahu rasa terima kasih. 

“Terima kasih,” ucap Grace sembari meraih garpu dan sendok dengan ragu. Namun, selera makannya terhenti oleh kecanggungan walaupun makanan itu dengan seksi bertengger di atas piring hingga mampu mengunggah selera siapa pun yang melihatnya. 

“Kau tak akan memakan itu?” Ray kembali berbicara saat melihat Grace yang tak kunjung menyuapkan makanan ke dalam mulutnya. “Aku tidak meracuninya.”

Grace ingin tertawa tapi kecanggungan yang mengepungnya itu membuat tawanya terdengar begitu hambar. “Iya, aku percaya. Hanya saja, aku kurang nyaman dengan keadaan seperti ini.”

Ray menolehkan wajahnya ke kanan dan ke kiri, mendapati karyawan-karyawan lain yang berdiri menanti meja kosong yang lain selain di sekitarnya. Ray pun mengacungkan tangannya tinggi-tinggi agar dapat dilihat oleh mereka yang belum mendapatkan meja makan. Sambil mengangkat tangannya ke udara, Ray berkata dengan suara yang lantang, “Hey, kalian boleh mengisi meja ini! Jangan sungkan, makanlah bersamaku.”

Kemudian, para karyawan yang semula berdiri pun mengerumuni meja-meja yang kosong itu. Kecanggungan di antara keduanya perlahan sirna ditelan ucapan-ucapan yang saling tumpang-tindih. Setidaknya, kafetaria itu benar-benar memiliki suasana kafetaria, bukan rumah duka. 

Beribu pertanyaan kini mulai mengungkung kepala Grace. Mustahil untuk menanyakannya kepada pria itu, dia bahkan tak menjawab pertanyaan sederhana yang dilayangkannya. Kelak, ia akan menanyakan hal itu kepada Jo untuk memuaskan rasa penasarannya. 

Setengah porsi makanan sudah habis ditelan. Ray makan dalam keadaan senyap. Begitu pula Grace yang benar-benar canggung dan lebih banyak diam sejak ia diseret ke kafetaria itu tanpa persetujuannya. Gadis itu merasa serba salah dalam bertingkah, antara memilih santai atau formal. Berada di depan petinggi perusahaan membuatnya tak bisa berpikir jernih, dia pun tak tahu bagaimana harus menyikapi keadaan itu, apalagi selama bekerja dengan Jun, tak pernah ia mengalami hal serupa.

“Kalau bisa, setiap hari kau menemaniku makan siang.” Ray pun angkat bicara setelah beberapa menit yang terasa seperti beberapa jam terbalut kesenyapan berlalu.

Grace berhenti menyendok makanannya, seketika ia tak berselera mendengar ucapan itu. Alis Grace mencureng saat memandang Ray yang ada di hadapannya. Tubuh Grace yang semula bungkuk penuh rasa sungkan seketika terasa ringan. Ia menegakkan posisi tubuhnya untuk mengangkat harga dirinya yang terasa mulai diinjak pria di depannya. “Kenapa aku harus melakukannya?”

“Sebab, aku akan merasa senang jika selalu ditemani olehmu,” ucap pria itu begitu lancar tanpa ada rasa sungkan ataupun keraguan. 

“Apakah itu maksudmu untuk mengajakku ke sini? Untuk bersenang-senang?” Grace menatap mata pria itu dengan tatapan yang kalem, walaupun tersirat api yang membara di bola matanya.

“Iya, bukankah sudah tugasmu adalah membuat atasanmu merasa senang?” Ray menyeringai penuh kemenangan.

Kini, selera makan gadis itu benar-benar lenyap. Grace meletakkan sendok dan garpunya perlahan, sebisa mungkin tak terdengar dentingan saat piring dan sendoknya saling bertumbukan. Grace menggigit bibirnya, menahan diri agar tak menyembur wajah pria itu dengan ludahnya. Wajahnya terasa panas dan kepalanya pusing terasa seperti ditekan angin dari arah lehernya. Naik pitam. Ia meredam keinginan untuk menusuk mata pria itu dengan garpu. 

Kepalan tinju siap menghantam wajah pria di hadapan Grace tapi sebisa mungkin ia tahan. Setidaknya, ia tidak meninjunya di hadapan karyawan yang lain, apalagi melakukannya di depan makanan. Ekspektasinya yang naif benar-benar menghanyutkannya. Semua kesan pertama yang terpatri dalam benak gadis itu terlalu indah, sehingga membuat kenyataan ini cukup menamparnya. Semua orang yang memiliki kekuasaan tak mungkin akan bersikap rendah hati sekali pun dia amat disegani.

Grace menghela napasnya, lalu membuang seluruh amarahnya yang meluruh bersama udara. “Maaf, Tuan, tapi permintaanmu tak ada kaitannya dengan urusan pekerjaan.”

Ray berhenti mengunyah makanannya. Matanya mendelik terpaku pada gadis yang sedang berbicara kepadanya.

“Apa kau sudah selesai makan? Jika iya, aku akan pamit terlebih dahulu. Nona Kim akan mengomeliku lagi jika aku terlambat kembali ke mejaku,” sambung Grace sambil melirik jam tangan silver kecil di pergelangan tangannya. 

Ray menengadahkan tangannya untuk mempersilakan Grace pergi. Lantas, gadis itu membungkuk kecil dan pamit. Ray menatap kepergian Grace yang menghilang di balik kerumunan. 

Harga dirinya seketika terinjak oleh ucapan gadis itu. Ray tertawa hambar seraya bergumam, “Kau terlihat murah tapi sok jual mahal, Grace.” 

***

Uap mengepul di udara mengantarkan suhu panas yang menguar ke setiap sudut ruangan. Air mendidih dituangkan ke dalam mangkuk hingga menyiram segumpal tepung keriting yang sudah ditata sedemikian rupa. Hari ini, telah diputuskan ia akan menyantap mie instan saja ketimbang harus menerima tawaran makan siang bersama lagi. 

Pria yang beberapa hari silam melontarkan ucapan yang dianggapnya kurang ajar itu tiada henti mendekatinya. Setiap ada kesempatan, pasti pria itu selalu ada di sekitarnya seperti seorang penguntit. Saat istirahat makan siang, pria itu ada di lobi. Saat sedang bekerja, pria itu ada di ruang kerjanya untuk memberikan arahan yang sebenarnya tak begitu diperlukan. Rasa percaya diri Grace semakin tinggi, semakin mantap pula ia menduga-duga bahwa Ray datang dengan alasan mengarahkan tim itu sebenarnya hanya untuk menemui dirinya. Seolah pria itu tak memiliki kesibukan lain selain menguntitnya.

Grace seringkali heran dengan jadwal kegiatan sang pemimpin perusahaan. Dia lebih sering terlihat wara-wiri melakukan hal yang tidak jelas ketimbang merepresentasikan citra perusahaan kepada para investor. Rapat seringkali bolos, kerjaannya hanya nongkrong di ruang kerja Grace. Absen rapat seringkali dilakukannya, padahal tak ada alasan yang penting untuk meninggalkan rapat dengan para investor. Ketimbang duduk di posisi sebagai direktur, Ray lebih cocok menjadi karyawan biasa. 

Jika boleh dibandingkan performa kerja di antara Ray dan Jun, Grace berpendapat bahwa Jun lah yang lebih pantas untuk menerima promosi sebagai pimpinan perusahaan, seandainya mereka bekerja di perusahaan yang sama. Sekelumit pertanyaan pun kembali melesak di dalam benaknya. Lantas, mengapa warisan perusahaan ini justru sepenuhnya jatuh ke tangan pria ini? Apakah ini yang menjadi alasan kuat Jun sangat ingin merebut warisan itu dari tangannya?

“Kau tak makan siang di kafetaria?”

Suara yang dikenalinya terdengar dari ambang pintu. Itu adalah suara si Pria Berbulu. Sudah beberapa hari belakangan Grace tak bertemu dengannya. Sekali, pernah dia menghampiri posnya di depan gedung untuk mencari pria itu karena ingin menanyakan suatu hal tetapi dia tak ada di sana. Sedikit rindu yang terselip dalam dada seketika membuncah begitu mendengar suaranya.

Seperti biasanya, Jo selalu datang untuk menyeduh kopi di pantri setiap jam makan siang. Terkadang juga, memasak mie instan sebagai makanan untuk mengganjal perutnya. Kesehatan tubuh tak penting baginya, yang penting makanannya gratis dan ia tak perlu mengeluarkan uang untuk hal itu. Namun, beberapa hari ini ia tak berkunjung ke pantri untuk menyeduh kopi atau memasak mie—ataupun sekadar bertegur sapa dengan Grace.

“Jo, sudah lama sekali aku tak melihatmu!” sambut Grace dengan senyuman yang mengembang saat melihat Jo.

“Baru beberapa hari saja. Kau rindu padaku, ya?” Jo menyinggungkan senyum yang menyebalkan untuk menggoda Grace.

“Mustahil!” Grace melambaikan tangannya seolah menepis ucapan yang dilayangkan pria itu.

“Kata Ed, kau mencariku?” 

“Iya, aku ingin menceritakan banyak hal. Bolak-balik aku mencarimu tapi kau tak ada. Kau ke mana saja?”

“Aku bertukar jadwal dengan Ed. Istrinya sedang hamil besar. Jadi, Dia tidak bisa bekerja di malam hari. Apa yang ingin kau beritakan sampai mencariku?”

“Ini tentang Tuan Ray.” Grace berucap sambil membawa semangkuk mie yang sudah matang ke meja yang terletak di tengah-tengah ruangan.

“Ada apa dengan Tuan Ray?”

“Kau tahu, belakangan ini dia sering membuntutiku.” 

Jo menggenggam cangkir berisi kopi panas yang baru saja diseduhnya. Perlahan, ia seruput sambil memandang wajah Grace yang berubah serius. “Apa itu penting bagiku?”

Grace mendecakkan lidah. Telapak tangannya menggebrak meja hingga mangkuk berisi mie instan panas bergeser dari tempatnya semula. Wajah Grace benar-benar kusut dengan dahi mengerut dan bibir yang mengerucut. “Penting atau tidak untukmu, yang jelas aku mulai merasa tidak nyaman dengan pria itu!”

“Memangnya, apa masalahmu dengannya?”

“Asal kau tahu, Jo, sudah beberapa hari ini dia membuntutiku dan selalu bertanya kepadaku, ‘Apa kau mau makan siang bersamaku?’”

“Apa kau sedang pamer kepadaku tentang itu?”

“Mustahil, tak ada yang perlu aku banggakan tentang hal ini. Justru sebaliknya, aku sudah muak bertemu dengannya. Beribu alasan aku berikan untuk menghindari pria itu tapi dia tidak juga berhenti. Aku sampai rela menahan perut keronconganku hanya demi menolak ajakannya.”

Jo tertawa saat mendengar penjelasan Grace sembari meletakkan secangkir kopi di atas meja. “Jadi, apakah ini yang menjadi alasanmu makan siang dengan mie instan?”

Grace mengangguk sambil mengaduk mie yang menguar uapnya di bibir mangkuk. Suara seruput mie bersenandung bersama ucapan yang keluar dari mulut gadis itu. “Iya, itu alasan utamanya. Alasan yang lain, selera makanku seringkali hilang hanya dengan melihat wajahnya saja. Setiap kali berpapasan dengan dia, ingin sekali aku memutar balik agar tak bertemu dengannya.”

“Lalu, sekarang dia masih sering mendekatimu?”

“Masih, bahkan setiap menjelang makan siang, alih-alih rapat atau apalah itu pekerjaannya, dia malah datang ke ruang kerjaku dengan alasan mau memberikan arahan.”

“Mungkin, dia memang mau memberikan arahan kepada tim kalian?” Jo menebak-nebak niatan Ray.

“Tidak, Jo!” sangkal Grace. Dentingan garpu terdengar nyaring saat Grace meletakkannya dengan perasaan geram. “Saat aku bertanya tentang kesibukannya, kau tahu apa jawabannya? ‘Jika orang lain bisa melakukannya, mengapa harus aku?’ Lalu, aku sempat membalasnya perihal arahan tim itu dengan bertanya, ‘Jika ada manager, mengapa harus kau yang melakukannya?’ Kau tahu apa jawaban dia? Lebih gila lagi, ‘Aku ada di sini karena ingin bertemu denganmu.’”

Jo tertawa lagi. Namun, tawanya terdengar tak begitu lepas seperti sebelumnya, malah terdengar sedikit lebih hambar. “Kenapa dia bisa selancang itu kepadamu? Kau menggodanya, Grace?”

Dahi Grace seketika mengerut. Wajahnya bak abstrak yang terlukis pada sebuah kanvas. Tidak terdefinisikan emosi apa yang terpatri di wajahnya antara marah, bingung, jijik, atau semacamnya. 

“Kau gila? Dia yang tiba-tiba menyeretku ke kafetaria dan berkata, ‘kalau bisa kau menemaniku setiap hari.’ Puh, dia pikir aku wanita macam apa?”

Jo tidak menjawab ucapan Grace. Ia kembali menyeruput kopinya. Senyum kecil mengembang perlahan di bibirnya. Setelah mendengar ucapan gadis yang begitu geram digoda oleh atasannya, perasaan jauh terasa lebih lega dari sebelumnya. Setidaknya, ia tahu bahwa gadis itu tak menyukai bosnya apalagi memiliki perasaan pribadi terhadap bosnya itu. Jo membiarkan gadis itu meluapkan segala kekesalannya yang membuatnya bercerita hingga menggebu-gebu.

Setelah mengeluarkan isi hatinya, ketenangan pun menghampiri jiwa Grace. Nafsu makan gadis itu tiba-tiba meningkat sebagai pelampiasan nafsu amarahnya. “Omong-omong, aku jadi agak heran saja saat kita pertama bertemu, mengapa kau bisa berkata kalau dia amat disegani?”

Jo mengangkat bahu. “Entahlah.”

“Bagiku, dia tidak profesional sama sekali, bahkan cenderung aneh jika kau sampai menggilai wataknya,” komentar Grace.

“Terkadang, manusia selalu punya sisi gelap yang tak pernah terungkap, Grace.”

Grace menilik wajah Jo saat sebagian mie sudah masuk memenuhi mulutnya. Sontak, mulutnya tiba-tiba melepaskan gigitan hingga mie itu kembali jatuh ke mangkuk.

Jo membelalak. “Apa yang kau lakukan? Menjijikan!”

“Panas,” singkat Grace. Grace mengangkat kepalanya dan duduk dengan tegak berusaha mengalihkan pembicaraan. “Lalu aku harus bagaimana, Jo? Aku tak mau dihantui pria itu lagi.”

Jo menyeringai seraya menyeruput kopinya lagi. “Sebaiknya, kau hindari saja dia. Dia orang yang tak bisa ditebak.”

— B E R S A M B U N G —


Baca kelanjutan kisahnya: Reverse

Cerita Bersambung: Reverse [Bagian 3 - Target Utama]


Ditulis Oleh: Michiko

29 Januari 2021

Cerita Bersambung: Reverse [Bagian 2: Kamuflase]

8:32 PM 2 Comments
“Tiga bulan. Jika kau tak bisa membawa berita itu, wajah cantikmu ini yang akan kucabik.” Jun melepaskan cengkeraman tangannya pada pipi gadis itu dengan kasar. Ia kembali duduk di singgasananya.

Terlilit utang dan ikatan dengan seorang pedagang wanita penghibur mulanya terlihat sangat mengerikan baginya. Seolah itu adalah jalan kehidupannya yang kekal walaupun ia sudah berada pada titik keputusasaan. Namun, Jun tiba-tiba datang bak malaikat yang mengembangkan sayapnya untuk menyelamatkan Grace dari keterpurukannya. Ia datang demi menjanjikan kepastian atas segala harapannya, memperlihatkan titik terang untuk merangkak ke arah lubang putih tanpa dosa.

Baca kisah selengkapnya: Reverse Bagian 1 (Sarang Buaya)

Bagian 2: Kamuflase

Tiga minggu berlalu. Seluruh keperluan dan prosedur “mutasi” ke tempat yang menjadi tujuannya sudah dilaluinya. Berhari-hari, siang dan malam tiada henti, gadis itu mencari seluk-beluk perusahaan yang ia tuju. Di sanalah targetnya bersarang, di sebuah cabang perusahaan yang menggurita. Pewaris keluarga satu-satunya itu benar adanya, juga telah diumumkan di berbagai media cetak dan televisi bahwa ia akan menjadi seorang pewaris tunggal.

Seorang pebisnis yang tua dan ringkih itu pernah bekerja keras membangun bisnisnya hingga meneteskan peluh sebesar biji jagung. Kini, biji jagung itu sudah membuahkan hasil yang sangat memuaskan, membuat makmur siapa pun yang meladang di perusahaannya. Namun, taipan tua itu beberapa tahun belakangan sudah tak berdaya lagi, tak ada lagi hal yang bisa dilakukannya selain berbaring dan berdoa—bahkan membuka mata pun ia tak bisa. Ia hanya tinggal menanti jalan menuju surga dibuka.

Setelah melakukan berbagai riset dan bermacam-macam hal yang harus dilaluinya, Grace berhasil menginjakkan kaki di tempat yang menjadi tujuannya. Gedung perkantoran menjulang tinggi nan kokoh di hadapannya. Cahaya matahari di siang hari tak begitu menyengat sebab dedaunan pohon-pohon yang rimbun memayungi halaman perkantoran yang cukup luas. Grace mendongakkan kepalanya untuk menatap sebuah jendela yang amat besar pada gedung itu. Lantai teratas, ruangan paling besar untuk seseorang yang paling penting dalam struktur organisasi perusahaan.

Penampilannya saat ini berbeda dengan penampilan biasanya, walaupun dia masih tetap menggunakan blazer hitam yang sama tetapi kali ini ia harus mengganti alas kakinya dan celana panjang hitamnya dengan sepatu hak tinggi dan rok ketat. Pakaian barunya membuat gadis itu lebih anggun dan feminim. Akan tetapi, keanggunan dan kegemulaian seorang wanita bukanlah gayanya. Ia sangat kesulitan beradaptasi dengan sepatu hak tinggi yang harus dikenakannya. Langkahnya tak sebebas saat ia melangkah dengan sepatu sneaker putih kesayangannya. Rok pendek yang ketat juga menghambat langkahnya yang semula leluasa.

Saat keluar dari lift, Grace melepaskan sepatu hak yang dikenakannya. Ia berjalan dengan kaki telanjang sambil menjinjing sepatu tingginya. Gadis itu berlari kecil, berusaha mengabaikan keadaan sekitar walaupun beberapa karyawan yang berada di sekitarnya memperhatikannya. Mereka tidak menegur gadis berpenampilan aneh yang berlari-lari kecil ke arah toilet, mereka hanya berbisik-bisik dengan rekan yang ada di sebelahnya. Enggan menegur gadis itu sebab mereka sebenarnya tak terlalu peduli.

“Kau akan pergi ke kantor dengan penampilan seperti itu?” tegur seseorang yang membuat langkah kaki Grace terhenti.

Sial. Seseorang menegurnya saat gadis itu mati-matian memasang muka tembok di hadapan karyawan lainnya. Gadis itu meremas pelindung tumit pada sepatu yang ada di genggamannya. Gemas. Lebih baik orang-orang membicarakannya dari belakang daripada harus menegur penampilannya secara terang-terangan. Itu jauh membuatnya merasa lebih malu. Grace menoleh dan tersenyum kikuk.

“Kakiku agak sakit karena memakai ini,” ucap Grace sambil melirik sepasang sepatu yang dijinjingnya.

“Mau kubantu untuk mengobatinya?” Tawaran itu membuat Grace terbelalak. Apa dia tidak salah mendengarnya? Pria ini sungguh berani sekali. Bahkan mereka tidak pernah bertemu sebelumnya. Saling menyebutkan nama satu sama lain pun tidak. Belum sempat Grace menjawab pertanyaannya, seorang pria berbadan tegap itu sudah membuka pintu ruangan yang terletak di seberang toilet. “Masuklah.”

Gadis itu terpekur sejenak. Bingung dan kikuk. Namun, ia tetap menuruti perintah laki-laki itu. Mata Grace terbelalak lagi untuk kedua kalinya. Sofa empuk berwarna hijau muda membentang di dalam ruangan itu, ruangannya begitu luas, lengkap dengan kompor dan dispenser. Nuansa hijau terang dalam ruangan itu benar-benar menyegarkan mata dan memberikan rasa nyaman. Peralatan dapur juga tertata dengan rapi sesuai dengan tata letak yang seharusnya. Pria itu membongkar kotak obat yang menempel pada dinding sementara Grace hanya bisa termangu menelusuri seluruh sudut ruangan dengan pandangannya.

Pria itu kembali dengan obat merah dan plester di kedua tangannya. Tubuhnya yang tinggi kini menjadi lebih rendah saat ia berjongkok di hadapan gadis itu untuk menetesi lukanya dengan obat merah.

“Tumitmu lecet. Kau tidak biasa mengenakan sepatu tinggi, ya?”

“Eh? Iya, aku tak biasa mengenakannya.” Grace melirik ke arah tumitnya untuk memeriksa keadaannya.

“Padahal, kukira kau sudah terbiasa dengan sepatu tinggi. Sebab, perusahaan lain yang merekomendasikanmu untuk bekerja di sini.”

“Oh… iya, um, aku, aku hanya sedikit….”

“Kalau kau kesulitan dengan sepatu itu, bekerjalah dengan sepatu yang membuatmu lebih nyaman. Formalitas berpakaian tak terlalu diutamakan di sini.”

“I-iya.” 

Grace kehilangan kata-kata. Lidahnya kelu karena dua alasan. Alasan yang pertama, dia terkesima dengan perangai pria ini, terlalu rendah hati. Bagaimana mungkin laki-laki ini bisa berkeliaran seperti seorang karyawan biasa dan bersikap manis kepada karyawan lainnya. Amat jauh berbeda dengan atasan lamanya, Jun, seorang bos yang suka mengintimidasi karyawannya dan berlaku seenaknya. Alasan yang kedua, budaya pekerjaan yang benar-benar baru untuknya. Biasanya, formalitas dan sistem hirarki amat penting dalam sebuah perusahaan, apalagi perusahaan yang sangat besar seperti perusahaan ini. Namun, ekspektasinya berbanding terbalik dengan realitanya.

“Kau bisa menempelkan plester ini sendiri?” Pria itu menyodorkan plester tumit kepadanya. Ucapannya memecahkan lamunan Grace.

“Oh, iya, aku bisa.” Grace menerima plester itu. 

“Aku akan pergi sekarang. Selamat datang di perusahaan kami. Lain kali, pasangkan plester itu di tumitmu agar kakimu tidak terluka oleh sepatu lagi.” 

“Terima kasih,” ucap Grace sambil tersenyum, sedikit tersipu.

Lantas, pria itu pun pergi. Saat pria itu membuka pintu, seorang pria berseragam hitam berpapasan dengannya. Pria yang baru saja mengobati kaki Grace berhenti sejenak, ia menoleh ke arah Grace sambil menunjuk pria berseragam yang turut menghentikan langkahnya saat berpapasan dengan pria itu. “Oh iya, ini Jo. Kau bisa tanyakan apa pun kepadanya.” 

“Baik, terima kasih atas bantuannya,” sahut Grace.

Pria itu mengangguk pelan. Ia mengalihkan pandangannya pada pria berseragam itu. “Jo, tolong bantu nona itu, dia karyawan baru di sini.”

“Siap, Tuan!” Jo meletakkan ujung jari-jarinya di ujung alisnya seperti menghormati bendera. 

Pria itu pun benar-benar menghilang dari pandangan Grace. Hanya tersisa satu laki-laki berseragam dengan pentungan di pinggangnya. Ia tersenyum ke arah gadis itu lalu berjalan memasuki ruang pantri. 

“Siapa dia?” Grace melemparkan pertanyaan basa-basi walaupun dia sudah tahu siapa pria itu. 

Jelas Grace sudah mengetahuinya. Bagaimana tidak, hampir sebulan lamanya dia melakukan riset dan mempelajari latar belakang targetnya. Tugasnya tidak hanya menjalankan misi dari Jun tetapi juga mencari informasi terkait targetnya. Oleh karena itu, penawaran Jun tidak main-main kepada Grace saat gadis itu berada di ambang keputusasaan karena terlilit hutang yang mencekiknya hingga tak mampu lagi bernapas. 

Jun tidak pernah memberikan informasi rinci terkait target yang ingin ia habisi. Ia hanya menunjukkan nama dan foto saja lalu sisanya Grace yang mengeksekusi. Tak peduli bagaimana caranya, saat Grace kembali, ia harus membawa kabar bahwa targetnya sudah mati. 

“Tuan Ray, orang paling rendah hati yang pernah aku temui. Dia pemimpin perusahaan ini,” jawab Jo.

“Oh, ya?” Grace memandang ke arah pintu pantri yang tertutup. Sedikitnya, berharap laki-laki yang telah pergi itu akan kembali. “Apakah ruang kerjanya ada di lantai ini?”

“Tidak. Ruangannya ada di lantai teratas.”

“Apa aku bisa menghampiri dia ke ruangannya?” Grace menatap ke arah satpam muda itu.

“Untuk apa?” Jo menyeduh kopi dan mengaduknya. Kepulan asap kopi panas itu menguar dari mulut cangkir.

“Setidaknya, mengucapkan terima kasih untuk hari ini atau ada kepentingan lain terkait urusan kantor, mungkin.”

“Terkait urusan pribadi?” Jo menggelengkan kepalanya. “Tidak mungkin bisa. Hanya orang tertentu saja yang bisa masuk ke ruangannya. Bahkan, sekretarisnya sendiri pun tidak bisa sembarang masuk ke sana.”

Apa maksud ucapan Jo? Lalu apa fungsinya sekretaris jika orang terpercayanya pun tak bisa memasuki ruangannya. Budaya pekerjaan yang baru benar-benar mengejutkan Grace. Grace mengernyitkan dahi, memandang Jo dengan tatapan penuh tanya. “Lalu bagaimana jika ada keperluan tanda tangan dan lainnya?”

“Sekretarisnya yang akan menelepon Tuan Ray dan beliau akan berjalan sendiri ke ruangan khusus pertemuan karyawan dan direktur. Jadi, jika kau memanggilnya untuk sekadar mengucapkan terima kasih… kau pikirkan saja, apa perlu untuk melakukannya?”

Aneh. Grace termenung saat mendengarnya. Sebenarnya, apa yang dilakukan oleh pria itu? Apakah dia sengaja membuat ruangan pribadi yang tak bisa diakses siapa pun? Jo memberikan secangkir kopi buatannya kepada Grace. Pandangan Jo tak terlepas dari dada Grace. “Ini untukmu, Nona… anu….”

“Terima ka—“ Grace mengulurkan tangannya untuk menerima secangkir kopi dari pria berseragam itu. Namun, ia tiba-tiba terhenti dan melirik ke arah dadanya yang dipandangi oleh Jo. Dengan cepat, kedua lengannya bersedekap menutupi dadanya. Suara Grace meninggi karena tersulut kemarahannya. “Hey! Apa yang kau lihat?”

Jo melirik wajah Grace. “Eh? Maaf, aku hanya ingin melihat tanda pengenalmu.” 

Grace menilik Jo dengan tatapan galak. Satu tangan Grace terulur menerima secangkir kopi panas itu. “Kau bisa menanyakannya kepadaku, alih-alih melihat dadaku seperti itu. Dasar mesum!”

Jo menyeruput kopinya lalu meletakkan cangkir itu di atas meja. “Lagipula, tak ada yang bisa kulihat dari dadamu. Kau seperti papan triplek.”

“Kurang ajar!” Sepersekian detik, tas gadis itu melambung ke arah pria berseragam hitam itu hingga benda itu menampar tepat di wajahnya. Tas itu mewakili tangan Grace yang sejak tadi ingin dilepaskanya untuk menampar pipi satpam itu. 

Alih-alih meminta maaf, Jo hanya tertawa saat menangkap tas gadis itu. “Apa ini sapaan pertama yang kau berikan kepada seniormu wahai Nona Karyawan Baru?”

“Senior? Mana mungkin, kau seorang satpam.”

“Apa posisi seorang satpam lebih rendah daripada seorang karyawan? Lagipula, aku sudah bekerja di sini selama tiga tahun lebih lama darimu.”

Suara puh pelan terdengar dari mulut Grace. Gadis itu menyesap kopinya tanpa membalas ucapan pria yang kebanyakan mengucapkan omong kosong itu. Senyap sejenak, adu argumen itu terhenti. 

“Omong-omong soal Tuan Ray, kau pernah melihat ruang kerjanya?”

Jo menilik gadis itu dengan tatapannya yang tajam. “Kenapa kau begitu penasaran soal itu, Nona?”

Grace menggeleng cepat. “Ah, tidak, bukan begitu. Maksudku, aku hanya merasa heran dengan budaya kantor yang sangat berbeda dengan perusahaan biasanya.”

“Perusahaan biasanya?” 

“Ayolah, Jo, kau tahu kan budaya perusahaan lainnya lebih mengutamakan sistem hirarki tapi melihat ini semuanya… seperti berbeda.”

Mata Jo tidak beralih mengamati Grace yang gelagapan. Ia menyeruput kopinya dengan tenang. “Oh. Jika kau penasaran tentang budaya kantor ini, kau bisa tanyakan hal itu padaku.”

“Apa aku bisa bertanya tentang ruangan direktur juga?”

“Mustahil.” Jo menyeringai sambil menyesap kopinya.

*** 

Hari pertama bekerja di perusahaan itu cukup mudah dilalui Grace. Terlebih lagi ia mendapatkan uluran tangan langsung dari sang pemimpin perusahaan yang mengobati tumit kakinya beberapa hari silam. Penampilannya juga kembali seperti dahulu kala, blazer hitam dan celana panjang hitam serta sepatu sneaker putih yang membuatnya lebih nyaman daripada penampilan di hari pertama.

Pendampingan dari direktur perusahaan dalam beradaptasi juga diterima Grace sehingga ia menjadi lebih cakap dengan tugasnya. Ia juga belajar budaya pekerjaan yang baru bahwa pemimpin yang baik akan membantu timnya untuk berkembang, bukan hanya menyuruh timnya melakukan suatu hal atau memarahi karyawannya habis-habisan saat pekerjaannya tak sesuai harapan. Dalam hitungan hari, Grace sudah mampu beradaptasi dengan ruang kerjanya, rekan timnya, suasana pekerjaannya, juga beradaptasi dengan perangai sekretaris yang hobi mengomel. 

Seorang wanita yang menjadi sekretaris direktur perusahaan itu terlihat masih muda tapi sikap dan sifatnya persis seperti nenek-nenek cerewet yang tiada henti mengomel kepada cucu-cucunya. Sekali saja ia melihat rekan kerjanya bersantai sedikit untuk beristirahat dari kepenatan pekerjaan, pasti wanita itu akan berbicara sendiri dengan nada bicara yang tidak mengenakkan hati. Sebab perangainya itu, Grace juga seringkali mendengarkan bisikan-bisikan tak mengenakkan dari karyawan lain yang membicarakan wanita itu di belakangnya. 

“Hanya karena posisi dia paling dekat dengan Tuan Ray, dia jadi sok berkuasa.” 

“Dia hanya sebatas sekretaris, bukan istri konglomerat itu tapi sudah merasa memiliki segalanya.” 

Begitulah kurang lebih bisikan-bisikan rekan kerjanya yang membicarakan wanita cerewet itu. Orang-orang yang bekerja di kantor itu biasa memanggilnya Nona Kim. Jika karyawan lain membicarakan dia tanpa sepengetahuannya, biasanya mereka memanggilnya dengan sebutan Nenek Sihir. Selain itu, Grace juga tahu beberapa informasi tentangnya dari Jo. Beberapa kali Jo bercerita tentang Nona Kim, Grace selalu melihat bulu-bulu lebat di lengan Jo berdiri setiap kali menceritakannya. 

Saat jam makan siang, Nona Kim menghampiri Grace di meja kerjanya. Wanita itu menumpu kedua tangannya pada meja Grace seperti sedang menginterogasinya. 

“Apa kau punya koneksi dengan Tuan Ray?” 

Grace mengerutkan dahi, bingung atas pertanyaan Nona Kim. “Tidak, kenapa kau tiba-tiba bertanya soal itu?” 

“Lalu mengapa kau bisa secepat itu bekerja di perusahaan ini?” 

“Entah, mungkin bosku sebelumnya yang memiliki koneksi dengan Tuan Ray,” ucap Grace sambil merapikan berkas-berkas pekerjaannya yang berserakan di atas meja. 

“Apa nama perusahaan lamamu?” tanya Nona Kim penasaran. 

Tangan Grace berhenti bergerak. Ia melirik wajah Nona Kim. “Apa itu penting bagimu? Sekarang, aku sudah menjadi bagian dari perusahaan ini. Jika itu saja yang ingin kau tanyakan, aku permisi.” 

Lantas, Grace pergi dari meja kerjanya untuk menikmati waktu istirahat makan siangnya. Nona Kim masih terpaku di tempatnya berdiri saat Grace pergi, ia memandang punggung Grace yang pergi menjauh dan menghilang di balik pintu. Rasa penasaran kini mengungkung kepalanya, jawaban itu harus didapatkannya. 

— B E R S A M B U N G —

Baca kelanjutan kisah Reverse

Cerita Bersambung: Reverse [Bagian 2: Kamuflase]

Ditulis oleh: Michiko