25 Desember 2020

Perayaan Natal dalam Pandangan Budaya Jepang: Iitoko Dori (いいとこ取り)

Halo! Ini adalah tulisan edisi spesial hari Natal. Jadi, hari ini aku akan membahas tentang makna perayaan hari Natal bagi orang Jepang. Sebelumnya, aku mau memberikan disclaimer, aku membuat tulisan ini murni untuk mengedukasi tanpa mengurangi rasa hormat bagi teman-teman semua yang merayakan hari Natal. Jadi, mohon untuk ditanggapi dengan bijak ya. 

Hari Natal jatuh pada tanggal 25 Desember, hampir seluruh umat Kristen di berbagai negara bersuka cita menyambut hari ini, termasuk negara Jepang juga. Pohon Natal menjulang tinggi di setiap toko dan pusat kota. Lampu hias berkelap-kelip indah seperti bintang yang bertaburan di angkasa. Kemeriahannya bisa dilihat saat malam Natal, banyak orang berkumpul dan bersuka cita seraya berbagi kasih. Suasananya hangat sekali walaupun cuacanya dingin karena bertepatan dengan musim dingin. 

Christmas Vibes,  Merry Christmas!

Akan tetapi, kalian tahu nggak sih perayaan hari Natal di Jepang sebenarnya nggak dianggap sebagai hari keagamaan oleh orang Jepang? Kenapa begitu? Sebab, kebanyakan dari mereka nggak religius, mereka nggak terlalu peduli dengan agama yang dipeluknya. Orang-orang Jepang kebanyakan menganut ajaran Shinto, kita lebih mengenalnya sebagai kepercayaan animisme yaitu percaya terhadap kekuatan spiritual atau roh. Beberapa juga ada yang menganut ajaran Buddha dan Konfusianisme. Hmm... tetapi kenapa ya orang Jepang bahkan hampir seluruh masyarakatnya berbondong-bondong merayakan Natal juga? 

Hal ini disebabkan oleh pengaruh salah satu budaya Jepang yaitu iitoko dori (いいとこ取り)

Apa itu Iitoko Dori (いいとこ取り)?

Iitoko dori (いいとこ取り) adalah salah satu pemikiran orang Jepang untuk mengadaptasi kebudayaan dari luar negaranya untuk diterapkan di dalam negaranya tanpa mengubah identitas asli dari kebudayaan negaranya sendiri. Salah satu budaya yang mereka adaptasi adalah perayaan hari Natal, mereka merayakannya dengan meriah dan penuh suka cita. Namun, orang Jepang menganggap kegiatan keagamaan hanya sebagai nilai budaya. Mereka melaksanakan kegiatan keagamaan itu hanya sebagai sarana untuk bersenang-senang dan bersosialisasi, contohnya perayaan hari Natal dan matsuri (祭り) atau festival.

Sejarah Munculnya Konsep Pemikiran Iitoko Dori (いいとこ取り)

Awal mulanya, iitoko dori (いいとこ取り) muncul karena masuknya ajaran Buddha ke Jepang. Saat itu, orang-orang Jepang hanya menganut ajaran Shinto. Kemudian, pada abad ke-6, ajaran Buddha dibawa dari Tiongkok melalui Korea untuk diperkenalkan ke Jepang tetapi invasi ajaran Buddha nggak direstui oleh kekaisaran. Sebab, ajaran Shinto mengajarkan untuk berbakti kepada raja sehingga kekaisaran ingin menjaga ajaran tersebut. Namun, ajaran Buddha justru berkembang dengan pesat dan mempengaruhi sistem kekaisaran juga politik Jepang. Maka, Pangeran Shotoku, keponakan Kaisar Suiko, menemukan cara agar ajaran Buddha bisa hidup berdampingan dengan ajaran yang dianut kekaisaran yaitu ajaran Shinto, bersama dengan ajaran Konfusianisme dari Tiongkok. Cara untuk membuat ketiga ajaran hidup secara berdampingan adalah iitoko dori (いいとこ取り)Maka dinyatakanlah: "Shinto is the trunk, Buddhism is the branch, and Confucianism is the leaves" (Sakaiya, 1991:40 dalam Davies dan Ikeno, 2002). 

Sejak munculnya pemikiran iitoko dori (いいとこ取り), ketiga ajaran tersebut hidup berdampingan. Kuil ajaran Shinto pun banyak dipengaruhi oleh ajaran Buddha, semula nggak ada patung dewa di dalamnya, berubah jadi banyak patung dewa dan pernak-pernik kuil lainnya. Selain itu, orang Jepang seperti menganut banyak ajaran sekaligus. Pada saat hari kebahagiaan seperti kelahiran, pernikahan, upacara peresmian gedung, mereka akan berada di jinja (神社) atau kuil Shinto. Sedangkan, untuk ritual kematian biasanya mereka menggunakan ajaran Buddha. Setelah masuknya agama Kristen, ketika menikah mereka bisa memilih menggunakan ritual ajaran Shinto atau ajaran Kristen. 

Selain berpengaruh dalam budaya dan keagamaan, iitoko dori (いいとこ取り) juga berpengaruh dalam kemajuan teknologi dan modernisasi gaya hidup masyarakat Jepang. Contohnya, Jepang mengadaptasi teknologi dari negara barat yang membuat ekonomi negara Jepang berkembang pesat. Selain itu, desain rumah juga nggak tradisional saja, biasanya desainnya dari kayu dan kertas. Akan tetapi, sekarang rumahnya dicampur dengan gaya eropa atau luar negeri seperti rumahnya Nobita contohnya. Cara berpakaian dan musik juga jadi terpengaruh dengan budaya luar negeri. Kebudayaan luar negeri tersebut diadaptasi oleh orang-orang Jepang tanpa menghilangkan ciri khas kebudayaan Jepang yang asli.

Manfaat dan Konsekuensi munculnya Budaya Jepang Iitoko Dori (いいとこ取り)

Setelah memahami makna dan sejarah iitoko dori (いいとこ取り), kita jadi tahu bagaimana Jepang menyikapi budaya luar yang masuk ke negaranya karena pengaruh globalisasi. Kira-kira apa saja sih manfaat dan konsekuensi hadirnya konsep pemikiran iitoko dori (いいとこ取り) ini?

Manfaatnya, toleransi semakin besar tentunya. Selain itu, pemikiran orang Jepang pun jadi lebih fleksibel karena menerima semua budaya selama budaya itu membawa kebaikan. Namun, nggak bisa dipungkiri juga akan ada beberapa pihak yang kontra terhadap pencampuran budaya tersebut. Jelas, mungkin akan terjadi perbedaan pendapat terhadap budaya yang dicampur-campur karena konsep pemikiran iitoko dori (いいとこ取り). 

Jangan khawatir, perbedaan pendapat itu tidak akan menyebabkan perpecahan. Jepang punya budaya yang lain yang bisa menangkal perpecahan yang mungkin terjadi karena perbedaan pendapat antar individu atau kelompok. Sebab, sejatinya orang Jepang sangat menghindari konflik dan pertentangan. Mungkin, kapan-kapan aku akan membahas budaya-budaya Jepang yang lainnya di postingan selanjutnya. Buat kalian yang tertarik dengan budaya Jepang bisa ikuti terus postinganku tentang budaya Jepang di sini

Jadi, itulah salah satu budaya Jepang yang mungkin bisa kita pelajari dan ambil sisi positifnya. Apa pendapatmu tentang budaya Jepang yang satu ini? Berbagi opini yuk di kolom komentar atau lewat formulir kontak. 

Sepertinya cukup sampai di sini dulu ya pembahasannya. Ngomong-ngomong, selamat natal untuk kalian yang merayakannya dan selamat tahun baru untuk kita semua. Semoga menjadi pribadi yang lebih baik di tahun 2021. Sampai jumpa tahun depan.
Have a nice day,


Michiko ♡

Referensi:
Davies, R. dan Ikeno, O. (2002). "The Japanese Mind: Understanding Contemporary Japanese Culture". Tokyo: Tuttle Publishing.
Mulyadi, B. (2017). "Konsep Agama dalam Kehidupan Masyarakat Jepang". Jurnal Izumi, Volume 6 No. 1, 15-21.
Cobbold, G.A. (2009). "Religion in Japan: Shintoism--Buddhism--Christianity".  E-book Gutenberg: http://www.gutenberg.org. [diakses pada 24 Desember 2020]
Kavanagh, C. (2019). "Religion and (Non)Belief in Japan". https://www.researchgate.net/. [diakses pada 24 Desember 2020]
Photo by Brett Sayles from Pexels


Tidak ada komentar:

Posting Komentar