6 Februari 2021

Cerita Bersambung: Reverse [Bagian 3: Target Utama]

8:05 PM 0 Comments

Tiga minggu berlalu. Seluruh keperluan dan prosedur “mutasi” ke tempat yang menjadi tujuannya sudah dilaluinya. Berhari-hari, siang dan malam tiada henti, gadis itu mencari seluk-beluk perusahaan yang ia tuju. Di sanalah targetnya bersarang, di sebuah cabang perusahaan yang menggurita. Pewaris keluarga satu-satunya itu benar adanya, juga telah diumumkan di berbagai media cetak dan televisi bahwa ia akan menjadi seorang pewaris tunggal.

Setelah melakukan berbagai riset dan bermacam-macam hal yang harus dilaluinya, Grace berhasil menginjakkan kaki di tempat yang menjadi tujuannya.

Baca kisah selengkapnya: Reverse Bagian 2 - Kamuflase

Bagian 3: Target Utama


Kemeja putih membungkus tubuh pria berusia kepala tiga yang memiliki perawakan tinggi. Kancing kemejanya saling bertautan dengan erat menahan tekanan dadanya yang bidang agar tak melompat sembarang arah. Celana panjang berwarna merah marun juga menyelimuti kedua kakinya yang jenjang, serta jas merah menutupi lekukan otot-ototnya yang terbalut kemeja. 

Pria itu melangkahkan kakinya begitu pintu lift terbuka, membelah kerumunan karyawan yang hendak menghabiskan waktu makan siangnya. Para karyawan yang berdiri di depan pintu lift memberikan jalan untuknya. Beberapa dari mereka terpanah dengan penampilannya hari ini, bisik-bisik terdengar antara mengagumi juga diam-diam menghakimi. Sebagian terpesona, sebagian lagi iri dengan gayanya yang gagah dan berwibawa.

Dengan sengaja, pria itu berhenti di lobi sambil bertanya kepada seorang wanita berbadan kurus dan kecil yang berdiri di meja resepsionis. “Karyawan baru itu sudah keluar dari ruangannya?”

“Nona Grace?” Wanita itu bertanya dengan ramah kepadanya untuk memastikan walaupun pertanyaan itu tak dibutuhkan. 

“Iya, siapa lagi kalau bukan dia?” Pria itu menumpu siku pada meja resepsionis sambil melepas dua buah kancing baju teratasnya yang mencekik lehernya hingga separuh dada bidangnya mengintip di balik celah kemeja.

“Belum, Tuan.” Wanita itu menjawab dengan senyumannya yang lembut walaupun hatinya bersungut-sungut dan ingin sekali ia merengut. Tak ada yang ingin diucapnya lagi kepada pria itu walaupun banyak pertanyaan di kepalanya: Mengapa orang nomor satu di perusahaan ingin bertemu dengan seorang karyawan biasa yang bahkan hanya seorang pegawai kontrak. 

Siang itu, sinar matahari menyeruak di balik awan. Cahayanya membias menerangi birunya payung cakrawala. Penerangan cahaya alami itu menembus dinding-dinding kaca, membuat lobi lantai satu menjadi terang benderang. Wajah-wajah letih pegawai yang berlalu-lalang mencari asupan energi pun sudah mulai terlihat. Pria itu memutuskan untuk duduk di sofa yang telah disediakan sambil menunggu seseorang datang. 

Beberapa menit menunggu, batang hidung wanita yang telah dinantinya pun muncul. Wajah gadis itu tak kalah kusut seperti pegawai lain yang terlihat kelelahan, belum lagi bibirnya berkomat-kamit seperti mengomel kepada angin. Pria itu lantas melompat dari tempat duduknya dan berjalan cepat untuk menyusul langkah kaki gadis itu. Napasnya tersengal saat menyusul gadis itu, belakangan ini dia tak berolahraga sehingga baru berjalan sedikit cepat pun membuat napasnya memburu. 

Pria itu mengulurkan tangannya untuk menyentuh bahu gadis itu. Sontak, lengannya itu dicengkeram dengan kuat dan tubuhnya melayang hanya dalam hitungan beberapa detik. Punggung dan bokongnya membentur lantai. Ia mengaduh saat tubuhnya yang terbanting terasa seperti tulang-tulangnya remuk bagai kaca yang pecah. 

“Astaga! Tuan Ray!” Mata gadis itu melotot seketika, terkejut saat melihat orang yang baru saja ia banting. Namun, ada satu hal baik yang tiba dari insiden itu, kekesalan yang ia rasa sudah sirna sepenuhnya. 

Perhatian orang-orang pun seketika memusat ke arah mereka berdua. Sebagian orang terkejut melihat seorang pria yang jatuh terbanting. Sebagian menatap penasaran dengan apa yang terjadi di antara mereka. Sebagian lainnya lagi menahan gelak tawanya saat melihat pria yang mengaduh karena dibanting oleh seorang wanita.

Grace mengulurkan tangannya, ia berniat untuk membantu pria itu berdiri sebagai bentuk rasa tanggung jawabnya. “Kau baik-baik saja?”

Pria itu meringis. Ia mengusap bokongnya yang menjadi landasan pendaratannya di lantai. Begitu menyadari orang-orang di sekelilingnya menatapnya iba tapi tak membantunya, ia pun berdiri dengan sendirinya. Satu tangannya meraih bahu Grace dan menyeret gadis itu meninggalkan panggung pertunjukan yang tak diinginkan. Sambil berjalan pincang, ia memaksakan diri untuk mengajak Grace pergi.

“Kau wanita yang kuat, Grace. Badanku masih sakit hingga saat ini, kau belajar bela diri di mana?” komentar pria yang sedang duduk di kursi kafetaria sambil memutar sendi lengannya perlahan. 

Tubuh pria itu memang besar dan kokoh seperti batu raksasa tetapi ia batu yang lunak. Tiada hentinya ia meringis sepanjang perjalanan dari gedung kantor ke kafetaria, antara itu benar-benar terasa sakit atau dia hanya mencari perhatian Grace. Kemejanya berantakan, begitu pula rambutnya yang semula disisir rapi kini terlihat lebih acak-acakan. 

Di seberangnya, Grace duduk sambil menatapnya dengan tatapan heran. Heran akan dua hal, yang pertama adalah alasan pria itu membawanya ke sini dan yang kedua adalah hidangan makanan sudah tersedia di hadapannya tanpa ia pesan. Pria itu telah memesankan dua porsi makanan, satu untuk gadis itu dan satu porsi untuknya sendiri. 

“Iya, aku belajar di suatu tempat untuk berjaga-jaga. Tapi sungguh, maafkan aku, Tuan Ray, tadi kau tiba-tiba menyentuhku. Jadi, aku refleks membantingmu seperti itu. Lalu ada satu hal yang ingin kutanyakan padamu, ada perlu apa kau mencariku?” 

“Berjaga-jaga?” Ray menekankan pertanyaannya seolah tak percaya dengan ucapan Grace.

Grace mengangkat bahu. Rasanya terlalu canggung. Seketika kata-kata yang ada di kepalanya menghilang sehingga yang hanya bisa diucapkannya hanyalah, “Iya, begitulah.” 

Pandangan Grace menyusuri seisi ruangan. Kafetaria semula bukanlah tempat yang asing baginya tapi kali ini suasana kafetaria benar-benar berbeda. Atmosfer yang menjalar di punggungnya pun penuh dengan kecanggungan. Ditambah lagi, meja-meja yang ada di sekelilingnya kosong, tak seperti biasanya. Padahal antrean mengular panjang tetapi tak ada satu orang pun yang mengambil langkah untuk mengisi delapan meja kosong yang mengelilingi mejanya. Apakah itu disebabkan oleh kehadiran Ray yang kini duduk di seberangnya? 

“Makanlah! Aku sudah membayarnya.” 

Suara Ray memecah lamunan Grace. Grace mengangguk kaku, bibirnya masih bertaut satu sama lain. Sampai saat ini belum terucap sepatah kata pun. Semua pertanyaan terkait apa, siapa, di mana, mengapa, kapan, bagaimana, berputar-putar di kepalanya. Ia berniat untuk menundanya saja, daripada dianggap sebagai karyawan rendahan yang banyak tanya dan tidak tahu rasa terima kasih. 

“Terima kasih,” ucap Grace sembari meraih garpu dan sendok dengan ragu. Namun, selera makannya terhenti oleh kecanggungan walaupun makanan itu dengan seksi bertengger di atas piring hingga mampu mengunggah selera siapa pun yang melihatnya. 

“Kau tak akan memakan itu?” Ray kembali berbicara saat melihat Grace yang tak kunjung menyuapkan makanan ke dalam mulutnya. “Aku tidak meracuninya.”

Grace ingin tertawa tapi kecanggungan yang mengepungnya itu membuat tawanya terdengar begitu hambar. “Iya, aku percaya. Hanya saja, aku kurang nyaman dengan keadaan seperti ini.”

Ray menolehkan wajahnya ke kanan dan ke kiri, mendapati karyawan-karyawan lain yang berdiri menanti meja kosong yang lain selain di sekitarnya. Ray pun mengacungkan tangannya tinggi-tinggi agar dapat dilihat oleh mereka yang belum mendapatkan meja makan. Sambil mengangkat tangannya ke udara, Ray berkata dengan suara yang lantang, “Hey, kalian boleh mengisi meja ini! Jangan sungkan, makanlah bersamaku.”

Kemudian, para karyawan yang semula berdiri pun mengerumuni meja-meja yang kosong itu. Kecanggungan di antara keduanya perlahan sirna ditelan ucapan-ucapan yang saling tumpang-tindih. Setidaknya, kafetaria itu benar-benar memiliki suasana kafetaria, bukan rumah duka. 

Beribu pertanyaan kini mulai mengungkung kepala Grace. Mustahil untuk menanyakannya kepada pria itu, dia bahkan tak menjawab pertanyaan sederhana yang dilayangkannya. Kelak, ia akan menanyakan hal itu kepada Jo untuk memuaskan rasa penasarannya. 

Setengah porsi makanan sudah habis ditelan. Ray makan dalam keadaan senyap. Begitu pula Grace yang benar-benar canggung dan lebih banyak diam sejak ia diseret ke kafetaria itu tanpa persetujuannya. Gadis itu merasa serba salah dalam bertingkah, antara memilih santai atau formal. Berada di depan petinggi perusahaan membuatnya tak bisa berpikir jernih, dia pun tak tahu bagaimana harus menyikapi keadaan itu, apalagi selama bekerja dengan Jun, tak pernah ia mengalami hal serupa.

“Kalau bisa, setiap hari kau menemaniku makan siang.” Ray pun angkat bicara setelah beberapa menit yang terasa seperti beberapa jam terbalut kesenyapan berlalu.

Grace berhenti menyendok makanannya, seketika ia tak berselera mendengar ucapan itu. Alis Grace mencureng saat memandang Ray yang ada di hadapannya. Tubuh Grace yang semula bungkuk penuh rasa sungkan seketika terasa ringan. Ia menegakkan posisi tubuhnya untuk mengangkat harga dirinya yang terasa mulai diinjak pria di depannya. “Kenapa aku harus melakukannya?”

“Sebab, aku akan merasa senang jika selalu ditemani olehmu,” ucap pria itu begitu lancar tanpa ada rasa sungkan ataupun keraguan. 

“Apakah itu maksudmu untuk mengajakku ke sini? Untuk bersenang-senang?” Grace menatap mata pria itu dengan tatapan yang kalem, walaupun tersirat api yang membara di bola matanya.

“Iya, bukankah sudah tugasmu adalah membuat atasanmu merasa senang?” Ray menyeringai penuh kemenangan.

Kini, selera makan gadis itu benar-benar lenyap. Grace meletakkan sendok dan garpunya perlahan, sebisa mungkin tak terdengar dentingan saat piring dan sendoknya saling bertumbukan. Grace menggigit bibirnya, menahan diri agar tak menyembur wajah pria itu dengan ludahnya. Wajahnya terasa panas dan kepalanya pusing terasa seperti ditekan angin dari arah lehernya. Naik pitam. Ia meredam keinginan untuk menusuk mata pria itu dengan garpu. 

Kepalan tinju siap menghantam wajah pria di hadapan Grace tapi sebisa mungkin ia tahan. Setidaknya, ia tidak meninjunya di hadapan karyawan yang lain, apalagi melakukannya di depan makanan. Ekspektasinya yang naif benar-benar menghanyutkannya. Semua kesan pertama yang terpatri dalam benak gadis itu terlalu indah, sehingga membuat kenyataan ini cukup menamparnya. Semua orang yang memiliki kekuasaan tak mungkin akan bersikap rendah hati sekali pun dia amat disegani.

Grace menghela napasnya, lalu membuang seluruh amarahnya yang meluruh bersama udara. “Maaf, Tuan, tapi permintaanmu tak ada kaitannya dengan urusan pekerjaan.”

Ray berhenti mengunyah makanannya. Matanya mendelik terpaku pada gadis yang sedang berbicara kepadanya.

“Apa kau sudah selesai makan? Jika iya, aku akan pamit terlebih dahulu. Nona Kim akan mengomeliku lagi jika aku terlambat kembali ke mejaku,” sambung Grace sambil melirik jam tangan silver kecil di pergelangan tangannya. 

Ray menengadahkan tangannya untuk mempersilakan Grace pergi. Lantas, gadis itu membungkuk kecil dan pamit. Ray menatap kepergian Grace yang menghilang di balik kerumunan. 

Harga dirinya seketika terinjak oleh ucapan gadis itu. Ray tertawa hambar seraya bergumam, “Kau terlihat murah tapi sok jual mahal, Grace.” 

***

Uap mengepul di udara mengantarkan suhu panas yang menguar ke setiap sudut ruangan. Air mendidih dituangkan ke dalam mangkuk hingga menyiram segumpal tepung keriting yang sudah ditata sedemikian rupa. Hari ini, telah diputuskan ia akan menyantap mie instan saja ketimbang harus menerima tawaran makan siang bersama lagi. 

Pria yang beberapa hari silam melontarkan ucapan yang dianggapnya kurang ajar itu tiada henti mendekatinya. Setiap ada kesempatan, pasti pria itu selalu ada di sekitarnya seperti seorang penguntit. Saat istirahat makan siang, pria itu ada di lobi. Saat sedang bekerja, pria itu ada di ruang kerjanya untuk memberikan arahan yang sebenarnya tak begitu diperlukan. Rasa percaya diri Grace semakin tinggi, semakin mantap pula ia menduga-duga bahwa Ray datang dengan alasan mengarahkan tim itu sebenarnya hanya untuk menemui dirinya. Seolah pria itu tak memiliki kesibukan lain selain menguntitnya.

Grace seringkali heran dengan jadwal kegiatan sang pemimpin perusahaan. Dia lebih sering terlihat wara-wiri melakukan hal yang tidak jelas ketimbang merepresentasikan citra perusahaan kepada para investor. Rapat seringkali bolos, kerjaannya hanya nongkrong di ruang kerja Grace. Absen rapat seringkali dilakukannya, padahal tak ada alasan yang penting untuk meninggalkan rapat dengan para investor. Ketimbang duduk di posisi sebagai direktur, Ray lebih cocok menjadi karyawan biasa. 

Jika boleh dibandingkan performa kerja di antara Ray dan Jun, Grace berpendapat bahwa Jun lah yang lebih pantas untuk menerima promosi sebagai pimpinan perusahaan, seandainya mereka bekerja di perusahaan yang sama. Sekelumit pertanyaan pun kembali melesak di dalam benaknya. Lantas, mengapa warisan perusahaan ini justru sepenuhnya jatuh ke tangan pria ini? Apakah ini yang menjadi alasan kuat Jun sangat ingin merebut warisan itu dari tangannya?

“Kau tak makan siang di kafetaria?”

Suara yang dikenalinya terdengar dari ambang pintu. Itu adalah suara si Pria Berbulu. Sudah beberapa hari belakangan Grace tak bertemu dengannya. Sekali, pernah dia menghampiri posnya di depan gedung untuk mencari pria itu karena ingin menanyakan suatu hal tetapi dia tak ada di sana. Sedikit rindu yang terselip dalam dada seketika membuncah begitu mendengar suaranya.

Seperti biasanya, Jo selalu datang untuk menyeduh kopi di pantri setiap jam makan siang. Terkadang juga, memasak mie instan sebagai makanan untuk mengganjal perutnya. Kesehatan tubuh tak penting baginya, yang penting makanannya gratis dan ia tak perlu mengeluarkan uang untuk hal itu. Namun, beberapa hari ini ia tak berkunjung ke pantri untuk menyeduh kopi atau memasak mie—ataupun sekadar bertegur sapa dengan Grace.

“Jo, sudah lama sekali aku tak melihatmu!” sambut Grace dengan senyuman yang mengembang saat melihat Jo.

“Baru beberapa hari saja. Kau rindu padaku, ya?” Jo menyinggungkan senyum yang menyebalkan untuk menggoda Grace.

“Mustahil!” Grace melambaikan tangannya seolah menepis ucapan yang dilayangkan pria itu.

“Kata Ed, kau mencariku?” 

“Iya, aku ingin menceritakan banyak hal. Bolak-balik aku mencarimu tapi kau tak ada. Kau ke mana saja?”

“Aku bertukar jadwal dengan Ed. Istrinya sedang hamil besar. Jadi, Dia tidak bisa bekerja di malam hari. Apa yang ingin kau beritakan sampai mencariku?”

“Ini tentang Tuan Ray.” Grace berucap sambil membawa semangkuk mie yang sudah matang ke meja yang terletak di tengah-tengah ruangan.

“Ada apa dengan Tuan Ray?”

“Kau tahu, belakangan ini dia sering membuntutiku.” 

Jo menggenggam cangkir berisi kopi panas yang baru saja diseduhnya. Perlahan, ia seruput sambil memandang wajah Grace yang berubah serius. “Apa itu penting bagiku?”

Grace mendecakkan lidah. Telapak tangannya menggebrak meja hingga mangkuk berisi mie instan panas bergeser dari tempatnya semula. Wajah Grace benar-benar kusut dengan dahi mengerut dan bibir yang mengerucut. “Penting atau tidak untukmu, yang jelas aku mulai merasa tidak nyaman dengan pria itu!”

“Memangnya, apa masalahmu dengannya?”

“Asal kau tahu, Jo, sudah beberapa hari ini dia membuntutiku dan selalu bertanya kepadaku, ‘Apa kau mau makan siang bersamaku?’”

“Apa kau sedang pamer kepadaku tentang itu?”

“Mustahil, tak ada yang perlu aku banggakan tentang hal ini. Justru sebaliknya, aku sudah muak bertemu dengannya. Beribu alasan aku berikan untuk menghindari pria itu tapi dia tidak juga berhenti. Aku sampai rela menahan perut keronconganku hanya demi menolak ajakannya.”

Jo tertawa saat mendengar penjelasan Grace sembari meletakkan secangkir kopi di atas meja. “Jadi, apakah ini yang menjadi alasanmu makan siang dengan mie instan?”

Grace mengangguk sambil mengaduk mie yang menguar uapnya di bibir mangkuk. Suara seruput mie bersenandung bersama ucapan yang keluar dari mulut gadis itu. “Iya, itu alasan utamanya. Alasan yang lain, selera makanku seringkali hilang hanya dengan melihat wajahnya saja. Setiap kali berpapasan dengan dia, ingin sekali aku memutar balik agar tak bertemu dengannya.”

“Lalu, sekarang dia masih sering mendekatimu?”

“Masih, bahkan setiap menjelang makan siang, alih-alih rapat atau apalah itu pekerjaannya, dia malah datang ke ruang kerjaku dengan alasan mau memberikan arahan.”

“Mungkin, dia memang mau memberikan arahan kepada tim kalian?” Jo menebak-nebak niatan Ray.

“Tidak, Jo!” sangkal Grace. Dentingan garpu terdengar nyaring saat Grace meletakkannya dengan perasaan geram. “Saat aku bertanya tentang kesibukannya, kau tahu apa jawabannya? ‘Jika orang lain bisa melakukannya, mengapa harus aku?’ Lalu, aku sempat membalasnya perihal arahan tim itu dengan bertanya, ‘Jika ada manager, mengapa harus kau yang melakukannya?’ Kau tahu apa jawaban dia? Lebih gila lagi, ‘Aku ada di sini karena ingin bertemu denganmu.’”

Jo tertawa lagi. Namun, tawanya terdengar tak begitu lepas seperti sebelumnya, malah terdengar sedikit lebih hambar. “Kenapa dia bisa selancang itu kepadamu? Kau menggodanya, Grace?”

Dahi Grace seketika mengerut. Wajahnya bak abstrak yang terlukis pada sebuah kanvas. Tidak terdefinisikan emosi apa yang terpatri di wajahnya antara marah, bingung, jijik, atau semacamnya. 

“Kau gila? Dia yang tiba-tiba menyeretku ke kafetaria dan berkata, ‘kalau bisa kau menemaniku setiap hari.’ Puh, dia pikir aku wanita macam apa?”

Jo tidak menjawab ucapan Grace. Ia kembali menyeruput kopinya. Senyum kecil mengembang perlahan di bibirnya. Setelah mendengar ucapan gadis yang begitu geram digoda oleh atasannya, perasaan jauh terasa lebih lega dari sebelumnya. Setidaknya, ia tahu bahwa gadis itu tak menyukai bosnya apalagi memiliki perasaan pribadi terhadap bosnya itu. Jo membiarkan gadis itu meluapkan segala kekesalannya yang membuatnya bercerita hingga menggebu-gebu.

Setelah mengeluarkan isi hatinya, ketenangan pun menghampiri jiwa Grace. Nafsu makan gadis itu tiba-tiba meningkat sebagai pelampiasan nafsu amarahnya. “Omong-omong, aku jadi agak heran saja saat kita pertama bertemu, mengapa kau bisa berkata kalau dia amat disegani?”

Jo mengangkat bahu. “Entahlah.”

“Bagiku, dia tidak profesional sama sekali, bahkan cenderung aneh jika kau sampai menggilai wataknya,” komentar Grace.

“Terkadang, manusia selalu punya sisi gelap yang tak pernah terungkap, Grace.”

Grace menilik wajah Jo saat sebagian mie sudah masuk memenuhi mulutnya. Sontak, mulutnya tiba-tiba melepaskan gigitan hingga mie itu kembali jatuh ke mangkuk.

Jo membelalak. “Apa yang kau lakukan? Menjijikan!”

“Panas,” singkat Grace. Grace mengangkat kepalanya dan duduk dengan tegak berusaha mengalihkan pembicaraan. “Lalu aku harus bagaimana, Jo? Aku tak mau dihantui pria itu lagi.”

Jo menyeringai seraya menyeruput kopinya lagi. “Sebaiknya, kau hindari saja dia. Dia orang yang tak bisa ditebak.”

— B E R S A M B U N G —


Baca kelanjutan kisahnya: Reverse

Cerita Bersambung: Reverse [Bagian 3 - Target Utama]


Ditulis Oleh: Michiko

29 Januari 2021

Cerita Bersambung: Reverse [Bagian 2: Kamuflase]

8:32 PM 2 Comments
“Tiga bulan. Jika kau tak bisa membawa berita itu, wajah cantikmu ini yang akan kucabik.” Jun melepaskan cengkeraman tangannya pada pipi gadis itu dengan kasar. Ia kembali duduk di singgasananya.

Terlilit utang dan ikatan dengan seorang pedagang wanita penghibur mulanya terlihat sangat mengerikan baginya. Seolah itu adalah jalan kehidupannya yang kekal walaupun ia sudah berada pada titik keputusasaan. Namun, Jun tiba-tiba datang bak malaikat yang mengembangkan sayapnya untuk menyelamatkan Grace dari keterpurukannya. Ia datang demi menjanjikan kepastian atas segala harapannya, memperlihatkan titik terang untuk merangkak ke arah lubang putih tanpa dosa.

Baca kisah selengkapnya: Reverse Bagian 1 (Sarang Buaya)

Bagian 2: Kamuflase

Tiga minggu berlalu. Seluruh keperluan dan prosedur “mutasi” ke tempat yang menjadi tujuannya sudah dilaluinya. Berhari-hari, siang dan malam tiada henti, gadis itu mencari seluk-beluk perusahaan yang ia tuju. Di sanalah targetnya bersarang, di sebuah cabang perusahaan yang menggurita. Pewaris keluarga satu-satunya itu benar adanya, juga telah diumumkan di berbagai media cetak dan televisi bahwa ia akan menjadi seorang pewaris tunggal.

Seorang pebisnis yang tua dan ringkih itu pernah bekerja keras membangun bisnisnya hingga meneteskan peluh sebesar biji jagung. Kini, biji jagung itu sudah membuahkan hasil yang sangat memuaskan, membuat makmur siapa pun yang meladang di perusahaannya. Namun, taipan tua itu beberapa tahun belakangan sudah tak berdaya lagi, tak ada lagi hal yang bisa dilakukannya selain berbaring dan berdoa—bahkan membuka mata pun ia tak bisa. Ia hanya tinggal menanti jalan menuju surga dibuka.

Setelah melakukan berbagai riset dan bermacam-macam hal yang harus dilaluinya, Grace berhasil menginjakkan kaki di tempat yang menjadi tujuannya. Gedung perkantoran menjulang tinggi nan kokoh di hadapannya. Cahaya matahari di siang hari tak begitu menyengat sebab dedaunan pohon-pohon yang rimbun memayungi halaman perkantoran yang cukup luas. Grace mendongakkan kepalanya untuk menatap sebuah jendela yang amat besar pada gedung itu. Lantai teratas, ruangan paling besar untuk seseorang yang paling penting dalam struktur organisasi perusahaan.

Penampilannya saat ini berbeda dengan penampilan biasanya, walaupun dia masih tetap menggunakan blazer hitam yang sama tetapi kali ini ia harus mengganti alas kakinya dan celana panjang hitamnya dengan sepatu hak tinggi dan rok ketat. Pakaian barunya membuat gadis itu lebih anggun dan feminim. Akan tetapi, keanggunan dan kegemulaian seorang wanita bukanlah gayanya. Ia sangat kesulitan beradaptasi dengan sepatu hak tinggi yang harus dikenakannya. Langkahnya tak sebebas saat ia melangkah dengan sepatu sneaker putih kesayangannya. Rok pendek yang ketat juga menghambat langkahnya yang semula leluasa.

Saat keluar dari lift, Grace melepaskan sepatu hak yang dikenakannya. Ia berjalan dengan kaki telanjang sambil menjinjing sepatu tingginya. Gadis itu berlari kecil, berusaha mengabaikan keadaan sekitar walaupun beberapa karyawan yang berada di sekitarnya memperhatikannya. Mereka tidak menegur gadis berpenampilan aneh yang berlari-lari kecil ke arah toilet, mereka hanya berbisik-bisik dengan rekan yang ada di sebelahnya. Enggan menegur gadis itu sebab mereka sebenarnya tak terlalu peduli.

“Kau akan pergi ke kantor dengan penampilan seperti itu?” tegur seseorang yang membuat langkah kaki Grace terhenti.

Sial. Seseorang menegurnya saat gadis itu mati-matian memasang muka tembok di hadapan karyawan lainnya. Gadis itu meremas pelindung tumit pada sepatu yang ada di genggamannya. Gemas. Lebih baik orang-orang membicarakannya dari belakang daripada harus menegur penampilannya secara terang-terangan. Itu jauh membuatnya merasa lebih malu. Grace menoleh dan tersenyum kikuk.

“Kakiku agak sakit karena memakai ini,” ucap Grace sambil melirik sepasang sepatu yang dijinjingnya.

“Mau kubantu untuk mengobatinya?” Tawaran itu membuat Grace terbelalak. Apa dia tidak salah mendengarnya? Pria ini sungguh berani sekali. Bahkan mereka tidak pernah bertemu sebelumnya. Saling menyebutkan nama satu sama lain pun tidak. Belum sempat Grace menjawab pertanyaannya, seorang pria berbadan tegap itu sudah membuka pintu ruangan yang terletak di seberang toilet. “Masuklah.”

Gadis itu terpekur sejenak. Bingung dan kikuk. Namun, ia tetap menuruti perintah laki-laki itu. Mata Grace terbelalak lagi untuk kedua kalinya. Sofa empuk berwarna hijau muda membentang di dalam ruangan itu, ruangannya begitu luas, lengkap dengan kompor dan dispenser. Nuansa hijau terang dalam ruangan itu benar-benar menyegarkan mata dan memberikan rasa nyaman. Peralatan dapur juga tertata dengan rapi sesuai dengan tata letak yang seharusnya. Pria itu membongkar kotak obat yang menempel pada dinding sementara Grace hanya bisa termangu menelusuri seluruh sudut ruangan dengan pandangannya.

Pria itu kembali dengan obat merah dan plester di kedua tangannya. Tubuhnya yang tinggi kini menjadi lebih rendah saat ia berjongkok di hadapan gadis itu untuk menetesi lukanya dengan obat merah.

“Tumitmu lecet. Kau tidak biasa mengenakan sepatu tinggi, ya?”

“Eh? Iya, aku tak biasa mengenakannya.” Grace melirik ke arah tumitnya untuk memeriksa keadaannya.

“Padahal, kukira kau sudah terbiasa dengan sepatu tinggi. Sebab, perusahaan lain yang merekomendasikanmu untuk bekerja di sini.”

“Oh… iya, um, aku, aku hanya sedikit….”

“Kalau kau kesulitan dengan sepatu itu, bekerjalah dengan sepatu yang membuatmu lebih nyaman. Formalitas berpakaian tak terlalu diutamakan di sini.”

“I-iya.” 

Grace kehilangan kata-kata. Lidahnya kelu karena dua alasan. Alasan yang pertama, dia terkesima dengan perangai pria ini, terlalu rendah hati. Bagaimana mungkin laki-laki ini bisa berkeliaran seperti seorang karyawan biasa dan bersikap manis kepada karyawan lainnya. Amat jauh berbeda dengan atasan lamanya, Jun, seorang bos yang suka mengintimidasi karyawannya dan berlaku seenaknya. Alasan yang kedua, budaya pekerjaan yang benar-benar baru untuknya. Biasanya, formalitas dan sistem hirarki amat penting dalam sebuah perusahaan, apalagi perusahaan yang sangat besar seperti perusahaan ini. Namun, ekspektasinya berbanding terbalik dengan realitanya.

“Kau bisa menempelkan plester ini sendiri?” Pria itu menyodorkan plester tumit kepadanya. Ucapannya memecahkan lamunan Grace.

“Oh, iya, aku bisa.” Grace menerima plester itu. 

“Aku akan pergi sekarang. Selamat datang di perusahaan kami. Lain kali, pasangkan plester itu di tumitmu agar kakimu tidak terluka oleh sepatu lagi.” 

“Terima kasih,” ucap Grace sambil tersenyum, sedikit tersipu.

Lantas, pria itu pun pergi. Saat pria itu membuka pintu, seorang pria berseragam hitam berpapasan dengannya. Pria yang baru saja mengobati kaki Grace berhenti sejenak, ia menoleh ke arah Grace sambil menunjuk pria berseragam yang turut menghentikan langkahnya saat berpapasan dengan pria itu. “Oh iya, ini Jo. Kau bisa tanyakan apa pun kepadanya.” 

“Baik, terima kasih atas bantuannya,” sahut Grace.

Pria itu mengangguk pelan. Ia mengalihkan pandangannya pada pria berseragam itu. “Jo, tolong bantu nona itu, dia karyawan baru di sini.”

“Siap, Tuan!” Jo meletakkan ujung jari-jarinya di ujung alisnya seperti menghormati bendera. 

Pria itu pun benar-benar menghilang dari pandangan Grace. Hanya tersisa satu laki-laki berseragam dengan pentungan di pinggangnya. Ia tersenyum ke arah gadis itu lalu berjalan memasuki ruang pantri. 

“Siapa dia?” Grace melemparkan pertanyaan basa-basi walaupun dia sudah tahu siapa pria itu. 

Jelas Grace sudah mengetahuinya. Bagaimana tidak, hampir sebulan lamanya dia melakukan riset dan mempelajari latar belakang targetnya. Tugasnya tidak hanya menjalankan misi dari Jun tetapi juga mencari informasi terkait targetnya. Oleh karena itu, penawaran Jun tidak main-main kepada Grace saat gadis itu berada di ambang keputusasaan karena terlilit hutang yang mencekiknya hingga tak mampu lagi bernapas. 

Jun tidak pernah memberikan informasi rinci terkait target yang ingin ia habisi. Ia hanya menunjukkan nama dan foto saja lalu sisanya Grace yang mengeksekusi. Tak peduli bagaimana caranya, saat Grace kembali, ia harus membawa kabar bahwa targetnya sudah mati. 

“Tuan Ray, orang paling rendah hati yang pernah aku temui. Dia pemimpin perusahaan ini,” jawab Jo.

“Oh, ya?” Grace memandang ke arah pintu pantri yang tertutup. Sedikitnya, berharap laki-laki yang telah pergi itu akan kembali. “Apakah ruang kerjanya ada di lantai ini?”

“Tidak. Ruangannya ada di lantai teratas.”

“Apa aku bisa menghampiri dia ke ruangannya?” Grace menatap ke arah satpam muda itu.

“Untuk apa?” Jo menyeduh kopi dan mengaduknya. Kepulan asap kopi panas itu menguar dari mulut cangkir.

“Setidaknya, mengucapkan terima kasih untuk hari ini atau ada kepentingan lain terkait urusan kantor, mungkin.”

“Terkait urusan pribadi?” Jo menggelengkan kepalanya. “Tidak mungkin bisa. Hanya orang tertentu saja yang bisa masuk ke ruangannya. Bahkan, sekretarisnya sendiri pun tidak bisa sembarang masuk ke sana.”

Apa maksud ucapan Jo? Lalu apa fungsinya sekretaris jika orang terpercayanya pun tak bisa memasuki ruangannya. Budaya pekerjaan yang baru benar-benar mengejutkan Grace. Grace mengernyitkan dahi, memandang Jo dengan tatapan penuh tanya. “Lalu bagaimana jika ada keperluan tanda tangan dan lainnya?”

“Sekretarisnya yang akan menelepon Tuan Ray dan beliau akan berjalan sendiri ke ruangan khusus pertemuan karyawan dan direktur. Jadi, jika kau memanggilnya untuk sekadar mengucapkan terima kasih… kau pikirkan saja, apa perlu untuk melakukannya?”

Aneh. Grace termenung saat mendengarnya. Sebenarnya, apa yang dilakukan oleh pria itu? Apakah dia sengaja membuat ruangan pribadi yang tak bisa diakses siapa pun? Jo memberikan secangkir kopi buatannya kepada Grace. Pandangan Jo tak terlepas dari dada Grace. “Ini untukmu, Nona… anu….”

“Terima ka—“ Grace mengulurkan tangannya untuk menerima secangkir kopi dari pria berseragam itu. Namun, ia tiba-tiba terhenti dan melirik ke arah dadanya yang dipandangi oleh Jo. Dengan cepat, kedua lengannya bersedekap menutupi dadanya. Suara Grace meninggi karena tersulut kemarahannya. “Hey! Apa yang kau lihat?”

Jo melirik wajah Grace. “Eh? Maaf, aku hanya ingin melihat tanda pengenalmu.” 

Grace menilik Jo dengan tatapan galak. Satu tangan Grace terulur menerima secangkir kopi panas itu. “Kau bisa menanyakannya kepadaku, alih-alih melihat dadaku seperti itu. Dasar mesum!”

Jo menyeruput kopinya lalu meletakkan cangkir itu di atas meja. “Lagipula, tak ada yang bisa kulihat dari dadamu. Kau seperti papan triplek.”

“Kurang ajar!” Sepersekian detik, tas gadis itu melambung ke arah pria berseragam hitam itu hingga benda itu menampar tepat di wajahnya. Tas itu mewakili tangan Grace yang sejak tadi ingin dilepaskanya untuk menampar pipi satpam itu. 

Alih-alih meminta maaf, Jo hanya tertawa saat menangkap tas gadis itu. “Apa ini sapaan pertama yang kau berikan kepada seniormu wahai Nona Karyawan Baru?”

“Senior? Mana mungkin, kau seorang satpam.”

“Apa posisi seorang satpam lebih rendah daripada seorang karyawan? Lagipula, aku sudah bekerja di sini selama tiga tahun lebih lama darimu.”

Suara puh pelan terdengar dari mulut Grace. Gadis itu menyesap kopinya tanpa membalas ucapan pria yang kebanyakan mengucapkan omong kosong itu. Senyap sejenak, adu argumen itu terhenti. 

“Omong-omong soal Tuan Ray, kau pernah melihat ruang kerjanya?”

Jo menilik gadis itu dengan tatapannya yang tajam. “Kenapa kau begitu penasaran soal itu, Nona?”

Grace menggeleng cepat. “Ah, tidak, bukan begitu. Maksudku, aku hanya merasa heran dengan budaya kantor yang sangat berbeda dengan perusahaan biasanya.”

“Perusahaan biasanya?” 

“Ayolah, Jo, kau tahu kan budaya perusahaan lainnya lebih mengutamakan sistem hirarki tapi melihat ini semuanya… seperti berbeda.”

Mata Jo tidak beralih mengamati Grace yang gelagapan. Ia menyeruput kopinya dengan tenang. “Oh. Jika kau penasaran tentang budaya kantor ini, kau bisa tanyakan hal itu padaku.”

“Apa aku bisa bertanya tentang ruangan direktur juga?”

“Mustahil.” Jo menyeringai sambil menyesap kopinya.

*** 

Hari pertama bekerja di perusahaan itu cukup mudah dilalui Grace. Terlebih lagi ia mendapatkan uluran tangan langsung dari sang pemimpin perusahaan yang mengobati tumit kakinya beberapa hari silam. Penampilannya juga kembali seperti dahulu kala, blazer hitam dan celana panjang hitam serta sepatu sneaker putih yang membuatnya lebih nyaman daripada penampilan di hari pertama.

Pendampingan dari direktur perusahaan dalam beradaptasi juga diterima Grace sehingga ia menjadi lebih cakap dengan tugasnya. Ia juga belajar budaya pekerjaan yang baru bahwa pemimpin yang baik akan membantu timnya untuk berkembang, bukan hanya menyuruh timnya melakukan suatu hal atau memarahi karyawannya habis-habisan saat pekerjaannya tak sesuai harapan. Dalam hitungan hari, Grace sudah mampu beradaptasi dengan ruang kerjanya, rekan timnya, suasana pekerjaannya, juga beradaptasi dengan perangai sekretaris yang hobi mengomel. 

Seorang wanita yang menjadi sekretaris direktur perusahaan itu terlihat masih muda tapi sikap dan sifatnya persis seperti nenek-nenek cerewet yang tiada henti mengomel kepada cucu-cucunya. Sekali saja ia melihat rekan kerjanya bersantai sedikit untuk beristirahat dari kepenatan pekerjaan, pasti wanita itu akan berbicara sendiri dengan nada bicara yang tidak mengenakkan hati. Sebab perangainya itu, Grace juga seringkali mendengarkan bisikan-bisikan tak mengenakkan dari karyawan lain yang membicarakan wanita itu di belakangnya. 

“Hanya karena posisi dia paling dekat dengan Tuan Ray, dia jadi sok berkuasa.” 

“Dia hanya sebatas sekretaris, bukan istri konglomerat itu tapi sudah merasa memiliki segalanya.” 

Begitulah kurang lebih bisikan-bisikan rekan kerjanya yang membicarakan wanita cerewet itu. Orang-orang yang bekerja di kantor itu biasa memanggilnya Nona Kim. Jika karyawan lain membicarakan dia tanpa sepengetahuannya, biasanya mereka memanggilnya dengan sebutan Nenek Sihir. Selain itu, Grace juga tahu beberapa informasi tentangnya dari Jo. Beberapa kali Jo bercerita tentang Nona Kim, Grace selalu melihat bulu-bulu lebat di lengan Jo berdiri setiap kali menceritakannya. 

Saat jam makan siang, Nona Kim menghampiri Grace di meja kerjanya. Wanita itu menumpu kedua tangannya pada meja Grace seperti sedang menginterogasinya. 

“Apa kau punya koneksi dengan Tuan Ray?” 

Grace mengerutkan dahi, bingung atas pertanyaan Nona Kim. “Tidak, kenapa kau tiba-tiba bertanya soal itu?” 

“Lalu mengapa kau bisa secepat itu bekerja di perusahaan ini?” 

“Entah, mungkin bosku sebelumnya yang memiliki koneksi dengan Tuan Ray,” ucap Grace sambil merapikan berkas-berkas pekerjaannya yang berserakan di atas meja. 

“Apa nama perusahaan lamamu?” tanya Nona Kim penasaran. 

Tangan Grace berhenti bergerak. Ia melirik wajah Nona Kim. “Apa itu penting bagimu? Sekarang, aku sudah menjadi bagian dari perusahaan ini. Jika itu saja yang ingin kau tanyakan, aku permisi.” 

Lantas, Grace pergi dari meja kerjanya untuk menikmati waktu istirahat makan siangnya. Nona Kim masih terpaku di tempatnya berdiri saat Grace pergi, ia memandang punggung Grace yang pergi menjauh dan menghilang di balik pintu. Rasa penasaran kini mengungkung kepalanya, jawaban itu harus didapatkannya. 

— B E R S A M B U N G —

Baca kelanjutan kisah Reverse

Cerita Bersambung: Reverse [Bagian 2: Kamuflase]

Ditulis oleh: Michiko

22 Januari 2021

Cerita Bersambung: Reverse [Bagian 1: Sarang Buaya]

7:00 PM 10 Comments

“Aku tak percaya kau melakukan ini kepadaku!”


Jeritan hati itu menggema dalam benaknya. Kekecewaan menggelembung mengisi rongga dadanya dan menghancurkan hatinya berkeping-keping bagai serpihan kaca. Kini, ia berdiri di antara dua tembok besar yang mengapit dirinya dan siap menjepitnya dengan kuat tanpa ampunan. Dilema. Antara harus membunuhnya atau melindunginya. 

Seketika, dadanya berat oleh penyesalan. Seharusnya, ia tidak mencintainya. Jika ia tidak mencintainya, maka tangannya kini sudah gesit memiting seseorang yang menyudutkannya dengan sebuah pistol. Peluru melesat, desingannya berdengung mendobrak gendang telinga. Korban jiwa mungkin berjatuhan jika hal itu tak dihentikan. Namun, keraguan masih berputar-putar di dalam kepalanya. Benar kata pepatah, cinta itu buta—dan membutakan. 

Mimpi buruk menghantui seorang gadis setiap malam. Mimpi yang begitu mengerikan terlintas setiap malam bagai bunga bangkai yang menghiasi tidurnya, jauh lebih buruk daripada kenyataan yang harus dihadapi. Pengkhianatan itu selalu membuatnya harus menanggung rasa sakit itu sendiri. Berhari-hari mencoba berlari dari mimpi buruk yang terus menghampiri. Namun, saat ini dia sedang tidak bermimpi. 

Petaka itu bermula ketika telepon genggam gadis itu berdering di pagi hari. Matanya masih rapat melekat satu sama lain, ia baru saja bangun dari tidurnya. Tangannya meraba-raba meja kecil di samping tempat tidurnya. Telepon genggam itu sempat jatuh ke lantai sebab gadis itu tak mencari dengan matanya yang terbuka. 

“Grace, ke markas. Sekarang.” Suara di ujung telepon membuka kedua mata gadis itu lebar-lebar. Suara itu tak asing lagi di telinganya, anak buah Jun yang setia bertahun-tahun mengabdi sebelum dirinya. 

Bergegas, gadis itu pergi menuju markas dengan mengenakan blazer hitam sambil berjalan menelusuri sepanjang koridor menuju ruangan bosnya. Gedung itu tak pantas disebut markas sebab penampilannya berbeda dengan penampilan yang ada di film laga aksi yang para pembunuhnya tinggal di markas gelap dan tersembunyi, persis seperti tikus yang tinggal di gorong-gorong. Hal itu amat berbeda dengan markas milik Jun yang terletak di sebuah gedung yang mirip dengan kantor perusahaan biasa. Namun, di dalamnya terdapat orang-orang berdarah dingin yang tak segan untuk menghabisi lawannya hanya dengan satu jentikan jari. 

Dua pria berbadan besar menjaga pintu di depan ruangan. Penampilannya rapi tak seperti penjahat pada umumnya, tak ada bekas luka di wajah mereka. Mereka sama sekali tidak mirip seorang penjahat jika dilihat dari luar, lebih mirip karyawan biasa dengan setelan kemeja dan celana kain hitam. Orang yang melihat dari luarnya saja tak akan menyangka kalau mereka bekerja sebagai tukang membunuh. Grace sudah biasa melihat pemandangan itu, dua orang itu kelihatannya ramah tetapi kekuatannya luar biasa. Namun, Grace masih bisa menandingi kekuatan keduanya di arena pertarungan. Tanpa menghiraukan keduanya, Grace masuk ke dalam ruangan. 

Ruangan luas menyambut penglihatan Grace ketika ia membuka pintu. Tak ada siapa pun di dalam sana, termasuk anak buah berbadan besar yang setia menemani tuannya. Hanya ada Grace dan seorang pria yang duduk dengan kaki dinaikkan ke atas meja di seberang sana. Pria itu duduk begitu santai tanpa beban dan rasa sungkan. 

Grace kini sudah berdiri di depan meja kerja pria itu. “Kau memanggilku?” 

“Tugas baru untukmu, sayang.” 

“Tugas apalagi yang akan kau berikan untukku?” 

“Apa lagi? Oh, sayang, rupanya kau sudah muak dengan tugas-tugas yang kuberikan, ya?” Laki-laki itu mulai menurunkan kakinya dan menautkan jemari kedua tangannya. Kedua tangannya yang bertumpu di atas meja membuat tubuhnya condong ke depan. Matanya dengan tajam menilik paras Grace yang jelita. 

Gadis itu menatap ngeri melihat gerak-gerik pria yang tenang tetapi mencurigakan. “Bukan begitu, Jun. Akan tetapi, kau selalu saja bertindak terlalu jauh kepada mereka yang hanya melakukan kesalahan kecil. Menurutku, itu terlalu berlebi—“ 

“Menurutmu!” celetuk pria itu. Suaranya terdengar lebih keras dari sebelumnya, membuat gadis itu berhenti berbicara. Pria itu mendekat ke arah gadis itu sambil menodongkan moncong pistol di depan wajah gadis itu. Jari pria itu siap menarik pelatuknya. Sekali saja peluru itu melesat, maka hancurlah tengkorak gadis itu. “Tutup mulutmu, sayang. Kau tak pernah merasakan rasa sakit yang melekat dalam hatiku. Mereka hanya bisa menancapkan tombak dengan lidah mereka. Mungkin, mereka menganggapnya hanya angin lalu, gurauan belaka, tapi tidak bagiku.” 

Jun berjalan mengitari gadis itu. Moncong pistol yang ada di genggamannya membelai pipi mulus gadis yang ada di dekatnya. Ujung pistolnya menyusuri tulang pipi Grace yang tinggi. Kini, Jun berada di belakang gadis itu. Ia menyibak rambut panjang gadis itu dan diletakkannya tangan besar Jun di bahu gadis itu. Moncong pistol itu mengetuk pelipis gadis yang berdiri dengan kegentarannya. 

“Namun, kali ini, aku sedang berbaik hati. Aku tak akan memintamu menghabisi orang-orang yang menurutmu tidak bersalah.” Suara yang semula tegas mengancam itu terdengar lebih pelan tetapi bisikannya tetap tajam. “Aku harus merenggut seluruh harta warisan dari orang yang bahkan tak pantas untuk mendapatkannya.” 

“Apa maksudmu?” Gadis itu gemetaran. Matanya melirik dengan rasa takut, ia mencoba menatap Jun. Tangannya yang gemetar, ia kepalkan sejak moncong pistol itu mengetuk pelipisnya. 

“Bawakanlah kepala kakakku, Cantik.” 

“Tak mungkin—“ 

“MUNGKIN!” Teriakan pria itu menggema dalam ruangan kerjanya membuat gadis itu terperangah. Pria itu mendelik, matanya merah seperti sedang dirasuki iblis. “Kau mau tahu apa yang tidak mungkin? Aku tak mendapatkan sepeser pun harta warisan dari si Tua Bangka. Semua harta warisan itu jatuh kepada si penjilat tak berguna itu! Bagaimana mungkin itu terjadi? Mereka pikir, aku adalah seekor kucing peliharaan yang bodoh?” 

Pria itu tertawa kecut. Grace hanya bisa terdiam, sejak tadi ia sudah disergap rasa takut oleh dua hal. Pertama, moncong pistol yang siap mengoyak dan meledakkan kepalanya dan yang kedua oleh amukan Jun yang sama sekali belum pernah ia lihat sebelumnya. 

“Jadi, kau mau menerima tugas ini, Grace sayang? Atau, lebih baik aku menghabisimu saja sebagai pelampiasan cakaran kucing ini?” Jun menekan moncong pistol pada pelipis gadis itu hingga kepalanya yang kaku tergerak. 

Grace menghela napas dalam. Dia tak mau terlibat lagi dengan Jun tetapi peluru sudah siap menembus tengkoraknya. Bak keluar dari kejaran singa kemudian masuk ke dalam sarang buaya, kehidupannya justru tambah sengsara setelah bertekuk lutut dan menundukkan kepalanya kepada Jun. Kehidupan baik yang diharapkannya dahulu, titik terang yang dilihatnya dalam keputusasaan, rupanya hanya fatamorgana dan harapan yang fana. Tak ada pilihan lain. Ia sudah menyerahkan jiwa dan raganya, mengabdi seumur hidup. Grace mengangguk pelan. 

Moncong pistol yang menyudutkan gadis itu pun diturunkannya. Tangan yang mencengkeram bahu gadis itu pun dilepaskannya. Jari-jari laki-laki itu kini membelai pipi lembut gadis itu kemudian mencengkeramnya, membuat gadis itu menolehkan wajahnya dengan paksa. Wajah Jun kini hanya berjarak beberapa sentimeter saja dari wajah Grace, hidung keduanya nyaris saling beradu. Mata keduanya saling berpandangan, yang satu menatap tajam, yang satunya lagi menatap ngeri. 

“Tiga bulan. Jika kau tak bisa membawa berita itu, wajah cantikmu ini yang akan kucabik.” Jun melepaskan cengkeraman tangannya pada pipi gadis itu dengan kasar. Ia kembali duduk di singgasananya. 

*** 

Debak-debuk kencang samsak tinju membahana di arena pertarungan. Tendangan kakinya benar-benar kuat sehingga samsak bergelayutan tak berdaya. Rasa geramnya tak kunjung habis walaupun ia melampiaskannya pada samsak tinju. 

“Hidung. Belang. Sialan!” Grace menggerutu setiap kakinya menendang samsak di hadapannya. 

Napasnya sudah tersengal semenjak tenaga yang dimilikinya sudah dikerahkan sepenuhnya. Keringat mengalir di pelipisnya hingga membuat anak rambutnya basah. Grace menutup tendangannya dengan menjejak samsak. 

“Kalau aku tahu akan berakhir seperti ini, aku tak akan pernah mau ikut dengannya.” 

Grace menyambar botol minum yang dia letakkan. Ia guyurkan air di dalam botol itu ke atas ubun-ubunnya yang panas. Berharap jika air itu akan meredam kepalanya yang menguarkan uap kemarahan. Air itu membasahi rambut dan kaus yang melekat pada tubuh Grace yang atletis, mengalir dari kening dan dagunya lalu turun membasahi perutnya yang nyaris terbagi enam. 

“Ini terakhir kalinya aku terlibat denganmu.” 

Grace menatap samsak itu tajam sambil menunjuk selembar kertas foto yang sudah ringsek setelah diterjang tendangan hebatnya secara bertubi-tubi. Wajah yang terpampang di foto itu pun sudah lecet. Hanya dengan cara inilah Grace melampiaskan amarahnya setelah diperlakukan semena-mena oleh Jun. 

Pria itu tak benar-benar menjanjikan masa depannya. Ia justru membawanya masuk ke dalam lubang hitam tak berujung yang menjebaknya. Tak ada jalan keluar untuk berhenti tenggelam lebih dalam. Cahaya putih itu seketika menjadi kelam, lebih kelam dari masa lalunya. 

Terlilit utang dan ikatan dengan seorang pedagang wanita penghibur mulanya terlihat sangat mengerikan baginya. Seolah itu adalah jalan kehidupannya yang kekal walaupun ia sudah berada pada titik keputusasaan. Namun, Jun tiba-tiba datang bak malaikat yang mengembangkan sayapnya untuk menyelamatkan Grace dari keterpurukannya. Ia datang demi menjanjikan kepastian atas segala harapannya, memperlihatkan titik terang untuk merangkak ke arah lubang putih tanpa dosa. 

Bohong. Semua tak seindah kelihatannya, bahkan jauh lebih buruk daripada sebelumnya. Bisnis kotor, perlakuan keji, segala pekerjaan yang jauh lebih kejam dan kelam daripada kisah hidup sebelumnya justru harus dijalaninya. Sungguh, jika ia bisa lari, ia akan lari sejauh mungkin dan tak akan pernah kembali. 

— B E R S A M B U N G 


Baca kelanjutan kisah: Reverse

Cerita Bersambung: Reverse [Bagian 1: Sarang Buaya]

Ditulis Oleh: Michiko

14 Januari 2021

Tendas Pasukan Berkuda

8:30 PM 0 Comments

Lampu berpendar mengedar pada pandangan seperti seekor kunang-kunang raksasa. Kunang-kunang tak lagi terlihat berterbangan menghiasi langit malam. Kilauan bokongnya kalah dengan lampu-lampu yang jauh lebih luas cakupan cahayanya. Langkah kaki seorang pria menelusuri jalan menanjak beraspal yang kian larut kian lengang. Hentakan sepatunya terdengar berderap saat bertembung dengan bebatuan halus itu. 


Jarum jam sudah menunjukkan pukul satu malam. Lampu lalu lintas sudah berkedip-kedip berwarna oranye di jalan utama yang biasa dilalui kendaraan. Seharusnya, dia sudah sampai di rumah setengah jam yang lalu. Namun, sopir angkot yang aneh itu tiba-tiba menyuruhnya turun di tengah jalan yang gelap dan sepi. Sopir itu dianggapnya aneh karena tidak berbicara sedikit pun sejak ia menaiki angkot itu. Berbagai pertanyaan basa-basi yang diucapkannya sama sekali tak ada yang dijawabnya, seperti mengobrol dengan bongkahan batu besar. 


"Pak, ini bisa dibelokin ke perumahan nggak?" Pertanyaan itu berulang kali ditanyakannya. Namun, ucapan si pemuda itu seperti angin lalu. Sopir angkot itu tak menjawab iya ataupun tidak. Padahal sopir angkot itu menilik pemuda itu dari kaca spion. Lengang, tidak ada percakapan di antara keduanya. Hanya suara mesin angkot butut tua yang mengoceh sejak melesat dari tempat pemuda itu mencegatnya. Setelah beberapa lama, angkot itu berhenti di perempatan jalan utama tepat di bawah lampu lalu lintas yang berkedip. 


"Maaf, Mas. Cuma bisa sampai sini." Akhirnya, sopir angkot itu berbicara setelah sekian lama menyembunyikan suara di bokongnya. 


Pemuda yang baru saja pulang dari kantornya itu menghela napas setelah mendengar ucapan sopir angkot itu. Sepanjang perjalanan, tiada henti ia berdoa kepada Tuhan sebab ia mengira angkot yang dinaikinya adalah angkot ghaib yang disopiri oleh hantu. Bayangannya saja. Sebab, sudah banyak kisah-kisah seperti itu bertebaran, kisah orang-orang yang pernah menumpang angkutan ghaib bersama penumpang ghaib yang diam saja sepanjang perjalanan. Sedikit membuat bulu kuduknya meremang, apalagi ketika membayangkan jika ia benar-benar mengalami kejadian itu secara langsung.


Lantas, angkot itu melesat pergi beberapa detik setelah pemuda itu turun. Belum sempat menyodorkan ongkos, angkot itu sudah menghilang dari pandangannya dan menghilang di perempatan jalan. Terpaksa, malam ini, di tengah jalanan yang begitu sepi dengan pepohonan yang tinggi berdiri kokoh sepanjang jalan, ia harus berjalan kaki sekitar satu kilometer untuk sampai ke rumahnya. Perumahan itu baru saja diresmikan beberapa tahun silam, lahan perumahannya mengambil lahan hutan dataran tinggi. Beberapa rumah masih berupa lahan kosong yang belum dibangun rumah. Bahkan di ujung perumahan, bisa terlihat jurang yang curam sebagai ujung dari jalan buntu. Sedikit saja kehilangan fokus saat mengendarai mobil ke sana, mobil bisa saja terjun bebas dan hanyut terbawa aliran sungai deras yang berada jauh beberapa puluh meter di bawah sana. 


Baru setengah jalan yang ia tempuh dari gerbang perumahan menuju ke rumahnya, ia masih harus berjalan lebih jauh untuk sampai di rumahnya melewati jalanan sepi yang dipagari pepohonan tinggi di kanan dan kiri. Lampu jalanan tidak cukup terang untuk menerangi setiap sudut pepohonan yang gelap. Bisa saja ada begal bersembunyi di balik pohon itu. Pemukiman masih beberapa ratus meter lagi. Tata letak perumahan ini terlalu mengutamakan keasrian dataran tinggi tetapi tidak mempertimbangkan kemudahan akses angkutan umum. Mungkin, konsep perumahan ini adalah harta karun di tengah hutan belantara sehingga dari jalanan utama yang biasa dilalui kendaraan, perumahan itu hanya terlihat seperti alas yang diberi gerbang.


Jalan aspal yang semula mulus pun berakhir di gerbang perumahan. Jalanan menjadi tidak mulus, penuh dengan kerikil kecil yang menelusuri sepanjang jalan. Kerikil kecil terdengar mengisi lengang bersama dengan derap langkah pemuda itu. Pemuda itu melangkah mantap, tak mengacuhkan rasa takutnya. Ia mengalahkah gentar, menerobos kegelapan. Rasa lelah sudah mengungkungnya sejak meninggalkan kursi kantor yang nyaman sehingga rasa takut pun tak bisa mengambil alih posisinya.


Derap langkah kaki terdengar lebih nyaring meningkahi langkah kaki pemuda itu. Suara itu familiar, derap langkah hewan berkaki empat yang bersepatu. Pemuda itu menghentikan langkahnya, ia merasa janggal ketika mendengar suara ringkikan kuda yang berjalan jauh di belakangnya. Bukan, itu bukan sebuah delman yang membawa penumpang tetapi seseorang yang menunggangi kudanya. Dalam pikirnya, untuk apa orang berkuda tengah malam di jalan perumahan yang menanjak seperti itu. Pemuda itu menoleh untuk memeriksanya lebih jelas.


Penunggang kuda itu membelakangi cahaya lampu yang berpendar sehingga membentuk bayangan hitam yang tidak bisa diidentifikasi siapa penunggang kuda itu, barangkali tetangga si pemuda. Tudung menutupi kepala penunggang kuda sehingga sulit untuk mengidentifikasi siapa dia. Jubah besar menjuntai sampai ke betisnya dan sepatu bot sampai ke lutut membungkus kakinya. Derap langkah kaki kuda semakin nyaring terdengar saat mendekat ke arahnya. Kuda itu terus berjalan lurus, melewati pemuda yang sedari tadi sedang memperhatikan kedatangannya. 


Pemuda itu semakin bingung, penunggang itu sama sekali tak berhenti atau menyapanya. Mungkin, dia bukanlah tetangganya sehingga untuk apa menyapa orang yang tidak dikenal. Pemuda itu kembali melangkahkan kakinya saat penunggang kuda itu sudah beberapa meter di depannya. Bau menguar ketika penunggang kuda itu melewatinya. Baunya amis bercampur dengan bau busuk, seperti ikan yang sudah tidak segar dibiarkan dalam suhu ruangan selama berhari-hari. 


Pemuda itu mengusap hidungnya, bau itu semakin menusuk indera penciumannya dan pemuda itu merasa mual saat menciumnya. Langkah kakinya terhenti saat ia mendapati kuda itu berhenti berlari. Penunggang kuda itu juga bergeming di atas punggung kudanya, tidak turun dan tidak juga menoleh ke arah pemuda itu. Hanya diam begitu saja, tidak bergerak seperti beku seketika. Pemuda itu tak mengindahkan si penunggang kuda, lagipula dia tidak mengenalnya. Ia kembali melangkahkan kakinya. 


Namun, belum kakinya menginjakkan kaki ke tanah saat mengambil langkah pertama, sebuah benda bulat menggelinding ke arah kakinya. Sepertinya sebuah benda milik si penunggang itu terjatuh. Pemuda itu membungkuk dan meraih benda yang baru saja menabrak kakinya. Namun, urung. Benda itu menguarkan bau lebih tajam daripada bau yang ia cium sebelumnya. Benda itu juga basah dan berbulu. Pemuda itu semakin menutup hidung dengan tangannya. Bau yang menusuk hidungnya membuat air matanya menggenang di pelupuk matanya. Aroma busuk yang amat dahsyat. 


"Gila, bau banget. Apaan sih ini?" Pemuda itu mencoba mengintip dari berbagai sisi untuk memastikan benda apa yang baru saja menggelinding ke arahnya. Namun, cahaya lampu yang redup tidak cukup membantu penglihatannya. 


Penunggang kuda itu turun dari kudanya. Ia mendekat ke arah pemuda yang sedang berusaha memeriksa benda yang baru saja menggelinding ke arah kakinya. Tangan seseorang terulur mengambil benda yang tergeletak di tanah. Pemuda itu mengangkat wajahnya dan kakinya seketika gemetar. Lemas. Pemuda itu tak sanggup berdiri di atas tumpuan kedua kakinya. Tangannya seketika berkeringat dan dingin seperti sebuah es balok. Matanya terpaku melihat sosok yang hanya berjarak beberapa puluh sentimeter di depannya. Napasnya tercekat di tenggorokan. Kesadarannya terasa seperti sudah berada di ubun-ubun kepalanya dan bersiap untuk menghilang.


Benda bulat itu diletakkannya dalam pangkuan lengan si penunggang kuda. Cairan merah pekat melumuri benda itu, melintas dari pusatnya di puncak dan mengalir seperti lahar melintasi kening dan berpisah membentuk cabang di lekukan hidungnya. Benda itu melotot ke arah pemuda itu, tatapannya kosong tidak mengancam tetapi tetap menyeramkan. Penunggang kuda itu berbalik badan seolah tidak melihat kehadiran pemuda yang ada di depannya. Ia kembali menunggangi kudanya dan langkah kaki kuda itu kembali berderap.


Lemas. Sudah tak sanggup lagi pemuda itu melanjutkan perjalanan, padahal letak rumahnya hanya tinggal beberapa ratus meter. Namun, nyalinya sudah ciut setelah mengetahui penunggang kuda itu pergi ke arah yang sama dengannya. Saat itu pula, pemuda itu memutuskan untuk tidak pulang ke rumah. Ia berbalik badan dengan segera, memutar arah. Belum sempat melangkah, beberapa penunggang kuda lain telah mengepungnya seperti sebuah pasukan yang siap menyerang lawan. 


Suara ringkikan kuda menggema mengisi langit malam bersamaan. Namun, suara itu sama sekali tidak membangunkan warga sekitar. Derap langkah kuda bergemuruh dengan serentak berlari ke arahnya. Pemuda itu bercangkung ketakutan saat pasukan kuda itu berlari ke arahnya. Kedua lengannya berusaha melindungi kepalanya dan wajahnya ia sembunyikan di lututnya. Kuda-kuda itu berbondong-bondong berlarian ke arah jalan berujung jurang di ujung perumahan. Bau busuk menyengat hidung tak lagi dihiraukannya sebab yang ia pedulikan hanyalah kegentarannya. Suara derap langkah kaki kuda pun perlahan menghilang semakin menjauhinya.


Suara gemeletuk terdengar seperti suara es batu yang satu per satu berjatuhan ke lantai. Pemuda itu mengangkat wajah. Beberapa benda bulat menggelinding ke arahnya dan beberapa menumbuk kakinya lagi. Pemuda itu semakin lemas, kepalanya pusing. Ia berusaha melangkahkan kakinya, mencari celah untuk menapakkan kakinya. Langkahnya gontai dan tangannya berusaha meraih pagar rumah warga untuk bertumpu. Pemuda itu berjalan dengan tuntunan pagar rumah warga yang beruntun sampai ke depan rumahnya. 


Tangan pemuda itu bergetar hebat membuat suara besi yang nyaring bertumbukan saat membuka kunci pagar rumahnya. Kakinya tak sanggup lagi melangkah. Badannya terhuyung dan tersungkur ke tanah. Semuanya menghitam.

***


Garis polisi terbentang di sepanjang jalan, mengelilingi tempat kejadian perkara. Mobil taktis polisi dan ambulan juga mengepung jalan. Beberapa petugas sibuk dengan tanggung jawabnya. Wartawan sibuk berdesakan berlomba-lomba mengulik informasi tentang kejadian yang terjadi semalam. Warga sekitar juga turut berkerumun penasaran dengan apa yang sedang petugas lakukan. Beberapa petugas bekerja sama mengangkut kantung jenazah dan memasukkannya ke dalam ambulan. 


"Astaga, Tuhan. Kenapa bisa begini, Nak?" Isak tangis keluarga menggema di sepanjang koridor rumah sakit.  Langkah kaki yang tergesa-gesa bergemuruh berlarian ke ruangan di mana seorang pria muda terbaring kaku. Air mata pilu berjatuhan, kesedihan tak terelakkan melihat kondisi jenazah anggota keluarganya. "Nggak nyangka, kamu bisa meninggal dengan tragis seperti ini."


Kasus tabrak lari itu telah merenggut nyawa seorang pemuda yang baru saja pulang setelah mencari nafkah pada pukul setengah satu malam. 


— T A M A T 


Baca juga kisah horor lainnya di sini

Cerita Horor: Tendas Pasukan Berkuda

Ditulis oleh:



Michiko


Picture source on Google

1 Januari 2021

Thank You Card For 2020

8:21 AM 0 Comments

Selamat tahun baru!

Tahun 2020 telah resmi berakhir. Selamat datang tahun baru 2021. Biasanya, tahun baru selalu dipenuhi dengan resolusi dan refleksi diri. Tahun baru pula, semua rencana sepanjang tahun dituliskan dalam serangkaian daftar target yang harus dicapai. Tahun lalu, aku juga membuatnya di postingan Resolusi untuk Berevolusi, di sana aku menuliskan daftar target tahunan yang ingin aku capai. 


Kalian pasti masih ingat juga kan resolusi tahun 2020? Sebelum melanjutkan, aku ingin mengajak kalian untuk evaluasi diri bersama-sama. 


Evaluasi Diri dan Refleksi Diri 

Apa saja sih resolusi tahun 2020 punya kalian?

Apakah resolusi yang kalian tulis sudah tercapai semua? 

Kalau belum, apa ada sesuatu yang menghambat kalian dalam mencapai hal itu?

Apakah ada suatu hal yang membuat kita menjadi manusia yang lebih baik pada tahun 2020?

Apa saja hal-hal yang kita lakukan pada tahun 2020?

Coba tulis jawaban dari pertanyaan-pertanyaan itu di kolom komentar kalau kalian membaca ini. 


Apa saja resolusiku tahun 2020?

Aku sendiri memiliki empat resolusi pada tahun 2020. Keempat resolusi itu adalah bekerja, berangkat ke Jepang, lulus N2, dan mencukupi kebutuhan air minum.


Baca juga resolusi tahun lalu: Resolusi untuk Berevolusi


Apakah sudah tercapai semua?

Belum. Kenyataannya, tahun 2020 bukanlah tahun keberuntungan untukku. Tiga dari empat resolusi belum aku capai pada tahun itu. Mungkin bukan jalannya dan bukan waktunya untuk mewujudkan itu semua. But it's okay, ternyata dari itu semua aku bisa mencapai hal yang lain yang nggak aku tulis sebagai resolusi tahunan. 


Apa saja hambatan untuk mewujudkan resolusi tahun 2020?

Dari keempat resolusi itu, tiga di antaranya terhambat karena merebaknya virus COVID-19. Segala sektor mengalami kesulitan, termasuk perusahaan-perusahaan internasional yang membutuhkan relasi antar negara. Hal itu juga berdampak pada negara Jepang yang menjalin hubungan dengan Indonesia untuk berbagai urusan seperti ekonomi, bisnis, dan pendidikan. Demi menjaga kesehatan bersama, maka lembaga penyalur tenaga kerja pun harus berhenti untuk mengirim tenaga kerja sementara dan ujian-ujian kesetaraan bahasa pun harus dibatalkan. Hal itu berdampak banget untuk tiga resolusi yang aku buat karena memang itu bidang utama yang sangat mempengaruhi rencana karirku sendiri.


Baca juga tentang COVID-19: Corona Virus World Tour


Apa saja hal yang membuatku menjadi manusia yang lebih baik?

Seperti yang telah kita ketahui, COVID-19 mulai menginvasi dunia sejak tahun 2019 dan pada tahun 2020 hampir seluruh dunia harus berdiam diri di rumah karena kehadirannya. Hal itu memberikan pelajaran walaupun memang rasanya sangat menyebalkan. Rencana yang sudah dirancang sejak awal tahun untuk direalisasikan pada tahun itu, semuanya batal. Hal itu membuat aku harus berpikir cepat dan tanggap dengan situasi yang mengungkung masa. Aku harus mencari kegiatan lain yang mungkin bisa menjadi rencana cadangan untuk sesuatu hal yang harus aku capai pada tahun itu. Maka, aku pun membanting setir dengan mempersiapkan target lulus kuliah tahun 2020 dan mengubah target pencapaian pada tahun itu. 


Selain itu, aku juga dituntut untuk lebih sabar dan berpikir dewasa untuk menghadapi sistem kehidupan yang baru sejak pandemi. Semua kegiatan dan cita-cita yang batal dilaksanakan harus aku terima dengan lapang dada. Aku juga sering stres karena berdiam diri di rumah dan nggak ada kawan untuk mengobrol sehingga membuat pikiranku sering banget memikirkan hal-hal yang nggak diperlukan alias overthinking. Namun, aku harus tetap bisa bertahan dalam situasi apa pun, maka aku harus bisa mengatur diriku sendiri agar bisa mengelola stres dengan baik.


Kemudian pandemi ini juga membuat komunikasi jadi terbatas. Manusia lebih sering mengobrol melalui internet padahal obrolan nggak langsung itu seringkali mengundang kesalahpahaman sehingga butuh kepala dingin untuk mencerna kata-kata yang diungkapkan oleh orang lain. Aku harus mengolah emosi marah dengan baik agar nggak sembarangan marah dengan hal-hal yang nggak perlu dipikirkan. Selain mengatur emosi marah, aku juga jadi lebih hati-hati dalam berbicara agar ucapanku nggak salah diterjemahkan sebagai ungkapan yang menyinggung perasaan oleh lawan bicaraku. Komunikasi yang terbatas juga membuat aku harus belajar lebih keras karena membuat aku kesulitan untuk berdiskusi dan bertukar opini khususnya di bidang akademik perkuliahan sehingga aku harus belajar mandiri.


Namun, dari segala kesulitan yang harus dilalui pada tahun 2020, aku belajar bahwa:

Apa yang manusia rencanakan belum tentu menjadi kenyataan. Boleh jadi kita menyukai suatu hal, sedangkan hal itu nggak baik untuk kehidupan kita. Boleh jadi pula kita nggak menyukai suatu hal tetapi hal itu adalah yang terbaik bagi kita. Kita nggak tahu masa depan dan nggak bisa memaksakan takdir.

Jadi, aku lebih banyak berlapang dada dan bersyukur atas segala hal yang datang ke kehidupanku walaupun terkadang aku juga masih mengeluh sih.


Baca juga hal-hal yang membuat aku stres pada tahun 2020Bangun dari Hibernasi


Apa saja hal yang telah aku lakukan pada tahun 2020?

Rutinitas yang biasa aku lakukan saat kehidupan normal tanpa pandemi harus berubah drastis. Semua berubah menjadi serba elektronik dan internet, aku harus belajar lebih keras supaya nggak gagap teknologi. Belajar lebih giat mengetahui tentang cara menggunakan email, google meet, zoom, sosial media, dan lain-lain. Kebanyakan waktuku dihabiskan untuk berselancar di internet mencari informasi dan jurnal penelitian guna menggarap skripsi. Selain itu, aku juga punya lebih banyak waktu untuk mengembangkan bakat dan minatku seperti menulis, menggambar dan lainnya. 


Itu lah refleksi diriku pada tahun 2020 dan hal-hal yang bisa aku evaluasi untuk perjalanan hidup ke depannya. Setelah melihat ke belakang, mari kita mulai move on dan melihat ke depan. Pasti kalian sudah punya rencana hidup masing-masing untuk tahun 2021 kan? Setidaknya kalian pasti punya resolusi walaupun hanya satu agar hidup nggak selalu stuck di titik yang sama dan nggak membuat kita insecure sendiri karena melihat orang lain yang terus maju sedangkan kita masih ada di zona nyaman.


Baca juga tentang kekhawatiran dalam diri tentang masa depan: Rebahan adalah Passion


Resolusi tahun 2021

Resolusi tahun 2021 yang aku rencanakan untuk aku wujudkan tahun ini ada empat:

1. Membaca buku minimal 1 buku dalam sebulan.

2. Menyelesaikan novel dan menerbitkannya.

3. Mengikuti berbagai macam lomba.

4. Mendapatkan penghargaan atau mempunyai penghasilan sendiri.


Itu adalah beberapa resolusi yang aku buat untuk tahun ini. Aku sedang fokus dalam pengembangan kemampuan diri. Bagaimana dengan kalian? Apa saja resolusi tahun 2021 milik kalian? Yuk sharing.


Selamat tinggal tahun 2020


Begitulah sekiranya refleksi diri dan perencanaan masa depanku. Semoga kita yang sedang berjuang untuk berkembang selalu mendapatkan kemudahan dalam melaksanakan semuanya. Semangat, guys!


Terima kasih tahun 2020, walaupun nggak sedikit duka dan luka yang kau bawa tetapi dari sana pelajaran hidup kau ajarkan untukku. Selamat datang tahun 2021, semoga tahun ini menjadi tahun yang membawa suka cita dan kebahagiaan. Selamat tahun baru! Semoga kita menjadi pribadi yang lebih baik pada tahun ini.

Have a nice day,



Michiko ♡


Photo by Immo Wegmann on Unsplash